SEPARASI

Keterpisahan atau separasi bisa memiliki makna positif dan negatif. Dalam dunia seni cetak mencetak dikenal separasi warna. Dalam negara, kelompok separatis punya arti negatif, seperti memberontak untuk memisahkan diri yang diwarnai dengan kekerasan dan pembunuhan.

Separasi bisa melanda manusia sebagai kelompok sosial dan pribadi. Perceraian yang melukai anak-anak terjadi karena ayah (suami) terpisah dari ibu (isteri). Biasanya terjadi karena disharmoni. Lebih dari itu, disintegrasi pribadi menyebabkan luka dan gangguan psikologis yang membuat orang tidak nyaman dengan diri sendiri.

Tatkala hampir memasuki kota Yerusalem, Sang Guru Kehidupan menangisi kota itu (Luk 19: 41). Mengapa? Karena kota itu telah terpisah dari hakikat dirinya. Separasinya amat serius dan mendalam. Mengapa?

Pertama, arti dari Yerusalem adalah kota perdamaian. Namun hingga saat ini kota ini menjadi bahan perbantahan dan alasan saling membunuh. Tidak ada damai di sana. Bahkan agama-agama yang mesti menjadi ujung tombak terciptanya damai justru menjadi penyebab utama konflik dan perang. Kedua, Yerusalem telah menolak kunjungan dari Sang Kasih, sumber perdamaian. “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu” (Luk 19: 42).

Tanpa kasih tidak mungkin ada perdamaian.
Sumber konflik, perpecahan dan separasi bukan wilayah negara atau kekayaan yang terkandung di dalamnya. Bukan pula perbedaan politik atau ideologi, tetapi keterpisahan (separasi) dalam diri manusia. Aspek jasmani terlalu dimanja hingga mengabaikan dimensi rohaninya. Nafsu manusia memisahkannya dari jiwa luhurnya. Egoisme menjauhkan manusia dari sesamanya. Eksklusivitas yang makin mengental hanyalah tanda terputusnya manusia dari kodrat dirinya yang bersifat sosial.

Manusia gagal mengidentifikasi jati diri aslinya yang secitra dengan Allah, Sang Kasih (1 Yoh 4: 8). Mereka menyangka bahwa nilai dan harga dirinya ditemukan dalam harta dunia, tahta dan kuasa. Demi meraih atau mempertahankan itu semua mereka melupakan dan meninggalkan kasih sebagai hakikat dirinya.

Konflik, perpecahan dan separasi di muka bumi ini tidak akan berhenti sebelum manusia kembali ke kemampuan diri yang sejati, yakni mencintai. Cinta kepada Allah, kepada diri sendiri dan sesama menjadi kunci untuk menghentikan separasi, karena kasih sejati selalu menyatukan; “unity.” Itulah pilar dan falsafah ketiga bangsa ini, yakni persatuan.

Sesenang-senangnya orang terpisah, masih lebih membahagiakan hidup dalam persatuan dan kesatuan. Keduanya bukan mimpi atau cita-cita muluk amat tinggi. Itu semua terbukti dalam hidup sehari-hari. Manusia itu memang makhluk yang diciptakan untuk bersatu; bukan untuk separasi.

Malang, 19 November 2020
RP Albertus Herwanta, O. Carm.

komsostidar