Menjadi Saksi Kristus di Dunia Baru

Tuhan Yesus telah memberikan perintah kepada para murid-Nya sebelum Ia naik ke surga.Dalam Injil Sipnotik, kisa Yesus terangkat ke Surga dilengkapi dengan perintah perutusan “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman” (Matius 28:19-20).

Sementara itu, Markus mencatat sabda perutusan itu secara ringkas : “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk” (Markus 16:15)

Sabda perutusan Yesus itulah dasar perutusan Gereja hingga kini.Sabda tersebut merupakan inti panggilan misioner Gereja di tengah dunia.Sebagai Gereja, setiap orang yang telah dibaptis mempunyai tugas seperti yang telah disabdakan Yesus.

Panggilan orang beriman Kristiasi adalah menjadi saksi Kabar Baik yang telah diterima dari Kristus sendiri (bdk. Luk.24:48).Oleh karena itu, sebagai murid Yesus setiap anggota Gereja diutus untuk terjun ke tengah dunia, menjadi garam dan terang dunia (bdk Mat.5:13-14), seperti domba di tengah-tengah serigala (bdk Mat.10:16; Luk 10:3), serta hendaknya cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (bdk Mat.10:16).

Refleksi dari pemberian mandat misioner Yesus tersebut, yaitu hendaknya Gereja dengan rendah hati memelihara dan mengembangkan karya-karya kerasulan dengan selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.
Dalam mengemban karya misi ini, dibutuhkan mistik misioner (evangelical passion) demi Kerajaan Allah dan keselamatan umat manusia.

Dalam percepatan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, ladang misi yang menjadi medan kerasulan Gereja tidak melulu menyangkut hal-hal yang kasat mata.Artinya, realitas dunia maya dalam era digital ini juga menjadi kebun anggur yang membutuhkan sentuhan para pekerja, yang telah menerima mandat perutusan dari Sang Empunya kebun anggur.

Dunia yang ditandai oleh percepatan teknologi informasi ini dan media komunikasi modern ini telah banyak mempengaruhi sendi-sendi kehidupan umat manusia, terutama generasi muda.Generasi yang mengalami kondisi seperti ini pada usia senjanya, tidak perlu kuatir untuk ikut berkontribusi mengemban mandat perutusan Yesus.

Perutusan tidak mengenal usia dan jaman, waktu dan tempat, serta sekat-sekat bidang keilmuan.Yesus sendiri telah berjanji akan selalu menyertai Gereja-Nya.Bahkan Yesus bersabda “Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapak-Ku” (Luk 24:49).

Gereja dalam bentuk seluruh umat Allah yang telah dibaptis bersama dengan semua orang yang berkehendak baik berusaha memberikan makna dan refleksi iman pada jaman digital yang telah mempengaruhi kehidupan komunitas umat manusia.
Meskipun jaman internet, era digital dan percepatan teknologi ini disebut Gereja sebagai “Dunia Baru”, mandat perutusan Yesus tetap relevan untuk senantiasa menggarami dan memberi terang.Inilah lahan misi yang membutuhkan sentuhan tangan untuk digarap.

Jaman ini telah membentuk generasi milenial, bahkan generasi pascamilenial.”Dunia Baru” ini juga disebut sebagai “agora” jaman ini, tempat berkumpul secara virtual orang-orang dengan aneka latar belakang, baik pemikiran, ideologi, suku, ras, agama, golongan, bahasa, adat istiadat, motivasi, dll.

Oleh karena itu, Gereja mempertimbangkan pengembangan jejaring sosial digital yang membantu menciptakan “agora” baru.
“Agora” virtual ini menjadi sebuah lapangan terbuka.Semua orang yang ada di dalamnya dapat melakukan apapun, mulai dari hal-hal yang sangat mulia, hingga kejahatan yang paling keji sekalipun.Disinilah Gereja berharap, orang-orang dalam “agora” virtual dapat berbagi gagasan, informasi dan opini yang baik, menerima perbedaan, saling menghormati dan menghargai satus ama lain.

Alih-alih berubah menjadi medan laga, “agora” virtual berpeluang besar melahirkan suatu bentuk komunitas baru yang bersifat virtual yang berdasarkan nilai-nilai luhur Kristiani.

“Tinggal di belakang akibat ketakutan akan teknologi atau oleh suatu sebab lain merupakan sikap yang tidak dapat diterima, mengingat begitu banyak kemungkinan positif yang terkandung dalam internet” (Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, 2002).

Tentu saja, pengaruh positif dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi ini mewarnai dinamika kehidupan komunitas umat manusia.Orang dengan mudah dan cepat mengakses informasi yang berlimpah.Jarak dan waktu menjadi relatif di jaman digital.Kejadian yang berlangsung di belahan dunia lain, dapat dengan mudah diketahui seluruh orang di seantero jagad hanya dalam hitungan detik.

Kemudahan ini berimbas dalam semua sendi kehidupan umat manusia di segala bidang tanpa kecuali.
Bahkan boleh jadi, cepatnya informasi yang didapat melalui internet justru melebihi kemampuan manusia untuk menilai; dan ini tidak membuat bentuk yang lebih seimbang dan tepat untuk mengekspresikan diri.

Meski demikian, muncul juga pengaruh negatif pada pemanfaatan dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.Aneka kejahatan juga lahir dari perjumpaan virtual pribadi dengan pribadi; pun sama halnya pribadi dengan komunitas dunia maya, serta komunitas dengan komunitas.Orang atau sekelompok orang dengan mudah dan cepat juga dapat menggunakan kemajuan ini untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan mengabaikan orang lain.

Tak dapat disangkal, kerap kali kaidah moralitas, etika berkomunikasi, dan tatanan hukum diabaikan sekedar untuk mencari kepuasan sesaat.Keuntungan material dan afektif personal, luapan kebencian dan amarah, ekspresi caci maki dan perendahan martabat orang lain, gaya hidup konsumtif dan hedonis, penipuan dan kriminalitas, sreta penggalangan massa yang mengancam harmoni hidup bersama dalam masyarakat dan sebagainya.

Internet dan sarana komunikasi modern lainnya senantiasa menawarkan kemudahan yang dapat membuahkan kebaikan maupun kejahatan.Bak sekeping mata uang dengan dua sisi kebaikan dan kejahatan yang hadir bersama, berjalan seiring dan membutuhkan kematangan pribadi untuk mendiskresikannya setiap waktu.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika orang bisa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk surfing website.Di satu sisi, menikmati petualangan di dunia maya dapat membantu orang memperluas pengetahuan dan wawasan, serta memberikan ide-ide segar dalam keruwetan yang sedang dihadapi.Di sisi lain, orang juga dapat dengan mudah kehilangan arah, terjerembab dalam kubangan lumpur dosa.

Keinginan untuk selalu online bisa berefek mengisolasi pribadi dari lingkungan dan orang-orang terdekat, sekaligus mampu memperpendek jarak dan mempercepat waktu untuk mengakses informasi dan melakukan komunikasi.Internet juga memungkinkan orang mengurung diri di balik sumber-sumber informasi yang hanya menyalurkan keinginan dan ide-ide mereka sendiri, atau semata-mata kepentingan politik dan ekonomi tertentu.

Gereja harus mampu hadir untuk memenuhi kebutuhan manusia yang merupakan pokok utama dari setiap pelayanan kasih.Menjangkau dunia dimana mereka saat ini berada, sehingga di “Dunia Baru” ini kehadiran Gereja juga nampak dengan jelas dan dengan mudah bisa ditemukan.

Ditulis ulang dan dirangkum dari Buku “Pedoman Penggunaan Media Sosial” Komsos KWI

komsostidar