Santo Yusuf dalam Surat Apostolik Patris Corde (4)

Peringatan 150 Tahun Pemakluman Santo Yusuf sebagai Pelindung Gereja Semesta

  1. Seorang bapak yang menerima

Yusuf menerima Maria tanpa menuntut syarat apa pun. Ia mempercayai kata-kata malaikat. “Keluhuran budinya membuatnya tunduk pada cinta kasih yang telah dipelajarinya melalui hukum; dan sekarang, dalam dunia di mana kekerasan psikologis, verbal, dan fisik terhadap perempuan tampak nyata, Yusuf tampil sebagai tokoh laki-laki yang penuh hormat dan peka, meskipun tidak memiliki segala informasi, dan memutuskan untuk melindungi nama baik, martabat dan hidup Maria. Dan dalam keraguannya tentang cara terbaik untuk bertindak, Allah menolongnya memilih dengan menerangi pertimbangannya.” [18]

Sering kali dalam hidup kita, banyak peristiwa terjadi yang maknanya tidak kita pahami. Reaksi pertama kita sering kali adalah reaksi kekecewaan dan pemberontakan. Yusuf mengesampingkan pemikirannya untuk memberi ruang atas apa yang sedang terjadi, dan betapapun tampak misteriusnya itu di matanya, ia menerimanya, mengambil tanggung jawab atas hal itu, dan mendamaikan dirinya dengan sejarahnya sendiri.

Bila kita tidak berdamai dengan sejarah kita sendiri, kita bahkan tidak akan mampu melangkah lebih jauh karena kita akan selalu tetap tersandera oleh harapan kita sendiri dan kekecewaan yang ditimbulkannya.

Jalan rohani yang ditunjukkan Yusuf kepada kita bukanlah jalan yang menjelaskan, tetapi jalan yang menerima. Hanya berangkat dari penerimaan, dari pendamaian ini, maka orang juga bisa memahami sejarah yang lebih besar, makna yang lebih dalam. Kata-kata Ayub yang penuh semangat tampak bergema, yang menjawab ajakan istrinya untuk memberontak terhadap semua kejahatan yang menimpanya: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayb 2:10).

Yusuf bukanlah orang yang mundur dengan pasif. Ia adalah pelaku yang berani dan kuat. Penerimaan adalah jalan yang melaluinya karunia kekuatan yang diberikan Roh Kudus kepada kita diwujudkan dalam hidup kita. Hanya Allah bisa menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk menerima kehidupan seperti apa adanya, untuk memberi ruang pada bagian kehidupan yang kontradiktif, tidak terduga dan mengecewakan.

Kedatangan Yesus di tengah-tengah kita merupakan karunia dari Bapa agar setiap dari kita dapat diperdamaikan dengan kedagingan sejarah kita sendiri, bahkan bilamana kita tidak sepenuhnya memahaminya.

Seperti Allah berbicara kepada Santo kita: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut!” (Mat 1:20), demikian juga Dia mengulangi pada kita; “Jangan takut!” Perlulah mengesampingkan segala kemarahan dan kekecewaan serta memberi ruang, tanpa kepasrahan duniawi tetapi dengan kekuatan penuh harapan, pada apa yang tidak kita pilih, namun ada. Menerima kehidupan secara demikian memperkenalkan kepada kita makna tersembunyi. Hidup kita masing-masing dapat dilahirkan kembali secara menakjubkan jika kita menemukan keberanian untuk menjalaninya sesuai dengan apa yang dikatakan Injil kepada kita. Tidak menjadi masalah jika saat ini segala sesuatu tampak berjalan tidak semestinya dan jika beberapa hal sekarang tidak dapat diperbaiki. Allah bisa membuat bunga-bunga berkembang di antara bebatuan. Bahkan bila hati kita menegur kita karena sesuatu, “Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu” (1Yoh 3:20).

Sekali lagi realisme kristiani kembali, yang tidak membuang apa pun yang sudah ada. Realitas, dalam ketidak-sederhanaan dan kompleksitasnya yang misterius, adalah pembawa makna eksistensi dengan segala terang dan gelapnya. Inilah yang dikatakan Santo Paulus: “Kita tahu segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rom 8:28). Dan Santo Agustinus menambahkan “bahkan apa yang disebut kejahatan (etiam illud quod malum dicitur).”[19] Dalam perspektif seluruhnya ini, iman memberi makna kepada setiap peristiwa bahagia ataupun sedih.

Hendaknya kita tidak pernah berpikir bahwa percaya berarti menemukan solusi-solusi penghiburan yang mudah. Iman yang diajarkan Kristus kepada kita adalah iman yang kita lihat pada diri Santo Yusuf, yang tidak mencari jalan pintas, tetapi menghadapi dengan “mata terbuka” apa yang sedang terjadi padanya, dengan bertanggungjawab atas hal itu secara pribadi.

Penerimaan Yusuf mengundang kita untuk menerima orang lain sebagaimana mereka adanya, tanpa terkecuali, dengan memberi perhatian lebih pada yang lemah karena Allah memilih apa yang lemah. Dia adalah “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” (bdk. 1Kor 1:27), dan memerintahkan kita untuk mengasihi orang asing.[20] Saya ingin membayangkan bahwa dari sikap-sikap Yusuf, Yesus memperoleh inspirasi bagi perumpamaan anak yang hilang dan bapa yang berbelas kasih (bdk. Luk 15:11-32).

  • St. Yusuf doakanlah kami –

Dikirimkan oleh : Rm.Albertus Medyanto,O.Carm

komsostidar