Renungan 18 Februari 2021

“Dan Yesus berkata: ‘Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
Lukas 9:22

Yesus tahu Dia akan sangat menderita, ditolak dan dibunuh. Bagaimana Anda akan menghadapi pengetahuan itu jika Anda tahu ini tentang masa depan Anda sendiri? Kebanyakan orang akan diliputi ketakutan dan menjadi terobsesi untuk mencoba menghindarinya. Tapi bukan Tuhan kita. Perikop di atas menunjukkan betapa niat Dia untuk merangkul Salib-Nya dengan keyakinan dan keberanian yang tak tergoyahkan.

Ini hanya satu dari beberapa kali Yesus mulai menyampaikan kabar kepada murid-murid-Nya tentang nasib-Nya yang menunggu. Dan setiap kali Dia berbicara seperti ini, sebagian besar murid tetap diam atau menyangkal. Ingat, misalnya, salah satu reaksi Santo Petrus ketika dia menanggapi ramalan Yesus tentang Sengsara-Nya dengan mengatakan, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.””(Matius 16:22).

Dalam membaca perikop di atas, kekuatan, keberanian dan keteguhan Tuhan kita bersinar melalui fakta bahwa Dia berbicara dengan begitu jelas dan tegas. Dan yang memotivasi Yesus untuk berbicara dengan keyakinan dan keberanian seperti itu adalah kasih-Nya.

Terlalu sering, “cinta” dipahami sebagai perasaan yang kuat dan baik. Ini dianggap sebagai ketertarikan pada sesuatu. Tapi itu bukanlah cinta dalam bentuk yang sebenarnya. Cinta sejati adalah pilihan untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain, tidak peduli biayanya, betapa pun sulitnya. Cinta sejati bukanlah perasaan yang mencari pemenuhan egois. Cinta sejati adalah kekuatan tak tergoyahkan yang hanya mencari kebaikan orang yang dicintai.

Kasih Yesus kepada umat manusia begitu kuat sehingga Dia didorong menuju kematian-Nya yang menunggu dengan kuasa yang besar. Dia dengan teguh bertekad untuk mengorbankan nyawa-Nya untuk kita semua, dan tidak ada yang bisa menghalangi-Nya dari misi itu.

Dalam kehidupan kita sendiri, sangat mudah untuk melupakan apa sebenarnya cinta sejati itu. Kita dapat dengan mudah terjebak dalam keinginan egois kita sendiri dan berpikir bahwa keinginan ini adalah cinta. Tapi sebenarnya tidak.

Renungkan, hari ini, pada tekad yang tak tergoyahkan dari Tuhan kita untuk dengan berkorban mencintai kita semua dengan sangat menderita, dengan menahan penolakan, dan dengan mati di kayu Salib. Tidak ada yang bisa menghalangi Dia dari cinta ini. Kita harus menunjukkan cinta pengorbanan yang sama.

Tuhanku yang terkasih, aku berterima kasih atas komitmen-Mu yang tak tergoyahkan untuk mengorbankan Dirimu untuk kami semua. Aku berterima kasih atas kedalaman cinta sejati yang tak terduga ini. Beri aku rahmat yang kubutuhkan, Tuhan terkasih, untuk berpaling dari segala bentuk cinta egois untuk meniru dan berpartisipasi dalam cinta pengorbanan-Mu yang paling sempurna. Aku sungguh mencintaimu, Tuhan yang terkasih. Bantu aku untuk mencintai-Mu dan orang lain dengan sepenuh hati. Yesus, aku percaya padaMu.
Amin

komsostidar