ADA” KUSTA” DALAM PERKAWINAN KITA ???

ADA” KUSTA” DALAM PERKAWINAN KITA ???
( Refleksi Hari Perkawinan Sedunia )

“Saya memperbaharui janji perkawinan dengan suami/isteri saya, yang telah bersatu dalam hidup dengan saya selama ini. Saya berjanji akan tetap setia kepadanya dalam suka dan duka dan tetap menjadi pasangan hidup yang baik baginya. Saya kan tetap setia mencintai dan menghormatinya seumur hidup”

Itulah sebagian kutipan peneguhan janji perkawinan yang diucapkan kembali oleh 7 pasutri dari berbagai lingkungan di Paroki Santo Andreas pada hari Minggu 14 Pebruari 2021, hari minggu terakhir sebelum masa Prapaskah sekaligus peringatan Hari Perkawinan Sedunia ( World Marriage Day)

Apakah ada yang istimewa di hari minggu itu?

Minggu pagi itu memang cuaca Malang cukup cerah. Mendung yang biasa datang di pagi hari sepertinya bersembunyi untuk memberi kesempatan umat katolik Tidar dan terutama para pasutri untuk hadir dalam Misa sekaligus merayakan Hari Perkawinan sedunia.

Jam belum menunjukkan 07.00 pagi ketika pasutri Bapak Junaedi Wilopo dan Ibu MM Suhartiningsih dari Lingkungan St Monika dengan wajah yang penuh kecerahan datang pertama kali ke meja petugas pagi itu. Luar biasa dengan semangat paginya dan dengan pakaian batik cerah yang dikenakan pasutri ini sungguh memberikan nuansa dan gairah baru dalam misa peringatan hari perkawinan sedunia di hari minggu itu. Pasutri ini ternyata adalah satu dari beberapa pasutri yang hari minggu itu akan merayakan hari perkawinan sedunia sekaligus peneguhan janji perkawinan sebagai perwujudan syukur hari ulang tahun perkawinan.



Bersamaan dengan umat yang mulai berdatangan di pagi hari yang mulai semakin cerah, pasangan suami istri lain yang merayakan hari ulang tahun perkawinan dari bulan Desember , Januari dan Pebruari mulai memasuki Gereja. Terlihat pasutri Bapak Suhartono dan Ibu Valentina Siti Maryam ( Lingkungan St Thomas), Pasutri Bapak E Angga Iswara dan Ibu Ervina Silvia ( Lingkungan St Monika), Pasutri Bapak Robertus Josep Endrajaya dan Ibu Brigitta Maria Aster Hendrawati beserta putra-putranya ( Lingkungan St Thomas), Pasutri Bapak Andre dan Ibu Lusi ( Lingkungan St Maria ), pasutri  Bapak Hidayat dan Ibu Fenny ( Lingk St Paulus) dan Pasutri Bapak  Ignatius Windiastanto “ nakhoda bidang pewartaan DPP Paroki St Andreas” dan Ibu Veronica Nawanti Juwitasari ( Lingkungan St Agustinus) tampak hadir dengan batik biru yang menawan. Dan tak kalah dengan pasutri lain yang sudah tampil serasi dan penuh sumringah , pasutri Bapak “ Pantun Rohani Gereja Tidar “ Bapak Agustinus Indradi dan Ibu Francisca Wahyu Kristanti hadir dengan batik hitam yang menawan.

Jika ditengok kebelakang , peringatan hari perkawinan sedunia mempunyai cerita yang panjang. Awal mula ide untuk perayaan hari perkawinan secara khusus berasal dari kota Baton Roug, Ibu kota dari negara bagian Lousiana , Amerika serikat pada tahun 1981. Pada saat ini beberapa pasutri mulai gelisah dengan praktek peringatan valentine day . Mereka  yang tergabung dalam komunitas ME( Marriage Encounter) di kota Baton tersebut meminta kepada Walikota, Gubernur dan Uskup Kota Baton Roug agar perayaan Valentine Day di bulan Pebruari dirayakan sebagai hari “ We Believe in Marriage Day“ ( Hari  Kami percaya terhadap Perkawinan).  Sebagai bentuk dukungan terhadap kesucian lembaga perkawinan. Gayung bersambut , permintaan itu disetujui dan akhirnya Valentine Day yang biasanya ramai dielu-elukan dirayakan sebagai hari perkawinan.

Lama kelamaan ide We Believe Day pada bulan Pebruari berubah mejadi World Marriage Day pada tahun 1983. Sebagai motto dari World Marriage Day adalah Cintailah satu sama lain ( Yohaness 15:12) dengan simbol 2 lilin berbentuk manusia yang disatukan oleh sebuah gambar hati. Sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 1993, Paus Yohanes Paulus II memberikan restu apostolik terhadap World Marriage Day sehingga sejak saat itu perayaan World Marriage Day sudah menjadi perayaan dalam gereja katolik di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kegairahan dan semangat perayaan hari perkawinan sedunia di Malang biasanya oleh Komunitas ME disatukan dalam kegiatan di suatu paroki yang ditunjuk namun karena kondisi pandemi covid -19 perayaan bisa dijalankan oleh masing-masing paroki. Paroki Santo Andreas mencoba mengangkat keagungan nilai Hari Perkawinan sedunia lewat suatu misa yang disertai dengan peneguhan janji perkawinan.

Apa makna dari pembaharuan janji perkawinan ini ? sekedar romantisme? Nostalgia tanpa makna? Seremonial ala-ala anak muda yang ngetrend dengan valentine day?

Menarik kemudian ketika saat misa hari itu dibacakan Injil menurut Markus ( 1: 40 -45). Injil tersebut bercerita tentang seorang yang sakit kusta yang datang kepada Yesus, berlutut dihadapanNYa dan memohon bantuanNYa agar bisa tahir dari sakit kusta.  Dan dari kisah tersebut , kita melihat Yesus menunjukkan kerahimannya dengan mentahirkan seorang yang sakit kusta, yang tidak hanya sembuh secara fisik tapi mengalami kebaruan dalam hidupnya secara jasmani dan rohani.

Sangat menarik kemudian ketika Romo Albertus Mediyanto , O. Carm yang memimpin Misa hari itu dalam homili menghubungkan cerita Injil dengan hidup perkawinan. Menurut romo, harus diakui hidup perkawinan kita bisa saja mengalami “ kusta-kusta “ yang mendatangkan penyakit rohani dan jasmani dalam hidup perkawinan kita.” Kusta perkawinan” bisa berupa kesulitan dalam ber komunikasi, kerapuhan relasi , perlakukan dan tindakan yang tidak adil , kurangnya perhatian dan sebagainya.

Injil hari ini menurut romo mengajarkan kepada kita agar kita mau datang kepada Yesus dan men”tahir”kan hidup perkawinan kita. Dengan penuh kesadaran kita datang menghadap kepada Yesus dan memohon

“Yesus , kalau engkau mau , engkau bisa menyembuhkan permasalahan dalam keluargaku, kalau engkau mau, engkau bisa memulihkan relasiku , kalau engkau mau engkau dapat membuat aku berkomunikasi kembali  dengan pasangan dan anakku”

Datang kepada Yesus untuk pemulihan hidup perkawinan adalah dambaan setiap pasutri. Karena setiap pasutri mendambakan kehidupan perkawinan yang dipenuhi dengan cinta dan kesetiaan. Oleh sebab itu ketika homili berakhir , Romo Mediyanto mengajak pasutri yang berulang tahun perkawinan untuk memperbaharui dan meneguhkan janji perkawinan yang pernah mereka ucapkan ketika menerima sakramen Perkawinan. Dengan mengingat kembali janji perkawinan ini pasutri diingatkan juga dengan janji kesetiaan yang telah mereka utarakan dan terutama tentang janji kesetian Yesus terhadap Gereja

Ternyata hari minggu 14 Pebruari 2021 , bukan hanya sekedar merayakan hari perkawinan sedunia, hari itu kita dan terutama pasutri yang merayakan ulang tahun perkawinan diingatkan untuk selalu datang kepada Yesus , menyadari segala kelemahan dan memohon belas kasihan kepada Yesus agar mau menyembuhkan “kusta-kusta” yang mungkin ada dalam perkawinan sehingga janji kesetiaan yang pernah diucapkan dalam awal hidup perkawinan bisa selalu terjaga .

Oleh : Sie Keluarga – Bidang Persekutuan Paroki Tidar Malang

komsostidar