Renungan 15 Maret 2021

Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”
Yohanes 4 : 46-48

Yesus akhirnya menyembuhkan putra pejabat kerajaan. Dan ketika pejabat kerajaan kembali dan menemukan putranya telah sembuh, kami diberi tahu bahwa “dia dan seluruh keluarganya menjadi percaya.” Beberapa menjadi percaya kepada Yesus hanya setelah Dia melakukan mukjizat. Ada dua pelajaran yang harus kita ambil dari ini.

Pertama-tama, fakta bahwa Yesus melakukan mukjizat adalah kesaksian tentang Siapa Dia. Dia adalah Tuhan yang penuh belas kasihan. Sebagai Tuhan, Yesus bisa saja mengharapkan iman dari mereka yang dilayani-Nya tanpa menawarkan “bukti” tanda dan mujizat kepada mereka. Ini karena iman yang benar tidak didasarkan pada bukti eksternal, seperti melihat mukjizat; sebaliknya, iman yang otentik didasarkan pada wahyu batin dari Tuhan yang dengannya Dia mengkomunikasikan diri-Nya kepada kita dan kita percaya. Oleh karena itu, fakta bahwa Yesus melakukan tanda dan mujizat menunjukkan betapa berbelaskasihan Dia. Dia menawarkan mukjizat-mukjizat ini bukan karena siapa pun layak mendapatkannya, tetapi hanya karena kemurahan hati-Nya yang melimpah untuk membantu memicu iman dalam kehidupan mereka yang merasa sulit untuk percaya melalui karunia batin iman saja.

Oleh karena itu, penting untuk dipahami bahwa kita harus bekerja untuk mengembangkan iman kita tanpa bergantung pada tanda-tanda eksternal. Bayangkan, misalnya, jika Yesus tidak akan pernah melakukan mukjizat. Berapa banyak yang akan percaya kepada-Nya? Mungkin sangat sedikit. Tetapi akan ada beberapa yang menjadi percaya, dan mereka yang percaya akan memiliki iman yang luar biasa dalam dan otentik. Bayangkan, misalnya, jika pejabat kerajaan ini tidak menerima mukjizat untuk putranya tetapi, bagaimanapun, memilih untuk tetap percaya kepada Yesus melalui karunia iman yang mentransformasi.

Dalam setiap kehidupan kita, penting bagi kita untuk bekerja mengembangkan iman kita, bahkan jika Tuhan tampaknya tidak bertindak dengan cara yang kuat dan nyata. Kenyataannya, bentuk iman yang paling dalam lahir dalam hidup kita ketika kita memilih untuk mencintai Tuhan dan melayani Dia, bahkan ketika segala sesuatunya sangat sulit. Iman di tengah kesulitan merupakan tanda iman yang sangat otentik.

Renungkan, hari ini, pada kedalaman iman Anda sendiri. Ketika hidup sulit, apakah Anda mencintai Tuhan dan tetap melayani Dia? Bahkan jika Dia tidak menghapus salib yang Anda bawa? Berupayalah untuk memiliki iman yang benar setiap saat dan dalam setiap keadaan dan Anda akan kagum pada betapa nyata dan menopangnya iman Anda.

Yesusku yang penuh belas kasihan, cintaMu untuk kami melampaui apa yang pernah kami bayangkan. Kemurahan hatiMu benar-benar luar biasa. Bantu kami untuk percaya padaMu dan merangkul kehendak suci-Mu baik di saat-saat senang maupun di saat-saat sulit. Bantu kami, terutama, untuk terbuka terhadap karunia iman, bahkan ketika kehadiran dan tindakanMu dalam hidup kami tampak diam. Semoga saat-saat itu, Tuhan yang terkasih, menjadi saat-saat transformasi dan rahmat batin yang sejati. Yesus, kami percaya padaMu.
Amin


Renungan 14 Maret 2021 Renungan 16 Maret 2021

komsostidar