Renungan 27 Maret 2021

Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul z  dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”
Yohanes 11:47-48

Pelayanan publik Yesus memiliki dua pengaruh utama atas orang-orang. Bagi banyak orang, mereka menjadi percaya kepada-Nya dan bergantung pada setiap firman-Nya. Mereka mencari Dia dan mulai memahami bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan. Ini adalah tanggapan iman. Tetapi reaksi dari para imam kepala dan orang Farisi jauh lebih duniawi. Dalam perikop di atas, kita melihat sekelompok pemimpin agama yang sepenuhnya dipenuhi dengan keprihatinan duniawi sampai-sampai keprihatinan ini menenggelamkan semua masalah keimanan.

Saat para pemimpin agama berkumpul dan membahas apa yang harus mereka lakukan, Kayafas, imam besar tahun itu, angkat bicara dan memberikan nasihat yang dengan sempurna menggambarkan visi duniawi ini. Dia berkata, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak menganggap bahwa lebih baik bagimu bahwa satu orang harus mati sehingga seluruh bangsa tidak binasa.” Kayafas dan banyak pemimpin agama lainnya pada saat itu tampaknya jauh lebih peduli dengan status dan kekuatan duniawi mereka daripada masalah iman sejati dan keselamatan kekal. Jika mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai Tuhan dan hanya mencari kehendak suci-Nya, maka mereka akan bersukacita karena pelayanan Yesus sangat berbuah dalam kehidupan orang-orang. Mereka akan bersyukur kepada Tuhan, siang dan malam, untuk hak istimewa melihat nubuatan kuno tentang Mesias membuahkan hasil di depan mata mereka sendiri. Mereka seharusnya memiliki kegembiraan dan rasa syukur, dan mereka seharusnya membiarkan berkat-berkat rohani itu tumbuh di dalam diri mereka dan memberi mereka keberanian yang mereka butuhkan untuk maju dan mati bersama Tuhan kita jika perlu. Tetapi sebaliknya, mereka memilih kehidupan yang nyaman dan status duniawi di atas kebenaran, dan mereka memutuskan bahwa Yesus harus mati.

Satu kebenaran indah untuk direnungkan dalam konteks ini adalah bahwa Tuhan menggunakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya dan untuk keselamatan mereka yang percaya. Dengan pertemuan pemimpin agama ini, orang-orang ini mulai merencanakan kematian Yesus. Akhirnya mereka menggunakan tipu daya, manipulasi, intimidasi dan ketakutan untuk mencapai tujuan mereka. Tetapi meskipun dari perspektif duniawi, para pemimpin agama yang sesat ini “menang”, dari sudut pandang ilahi, Tuhan menggunakan kejahatan mereka untuk mendatangkan kebaikan terbesar yang pernah dikenal dunia. Melalui kebencian mereka, penderitaan dan kematian Yesus memberi jalan bagi kehidupan baru : Kebangkitan.

Renungkan, hari ini, pada fakta bahwa Tuhan dapat menggunakan segala sesuatu untuk kebaikan kita. Baik itu di tengah-tengah kerusakan, penganiayaan, perselisihan, dosa, penyakit atau kejahatan lainnya dalam hidup, ketika kita berpaling kepada Tuhan dalam iman dan penyerahan, Dia mampu mengubah segala sesuatu dan menghasilkan buah yang baik melimpah melalui mereka jika kita hanya membiarkan Dia dan percaya pada iman. Menyerahkan diri dengan penuh doa kepada Tuhan, hari ini, semua masalah di atas yang telah memengaruhi Anda, dan biarkan diri Anda percaya pada kebenaran sederhana bahwa tidak ada yang dapat menghalangi Anda dari pemenuhan kehendak Tuhan yang mulia. Semua hal dapat membantu menuju keselamatan jiwa Anda dan berakhir dengan kemuliaan abadi Tuhan.

Tuhanku yang mulia, Engkau dicintai oleh banyak orang tetapi juga dibenci oleh beberapa. Mereka yang memiliki kekuasaan dan otoritas tidak dapat melihat melampaui ambisi duniawi mereka, jadi mereka mulai berkomplot melawan Engkau. Beri aku rahmat, Tuhan terkasih, untuk melihat setiap tindakan kejahatan yang menimpaku sebagai kesempatan bagiMu untuk mendatangkan kebaikan. Engkau sungguh mulia, ya Tuhan. Semoga Dikau dimuliakan dalam segala hal. Yesus, aku percaya padaMu.
Amin


Renungan 26 Maret 2021

komsostidar