Renungan 14 April 2021

Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia menganugerahkan Sang Anak yang tunggal itu, supaya setiap orang yang percaya kepada Sang Anak tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Yohanes 3:16

Kami melanjutkan, hari ini, untuk membaca dari percakapan yang Yesus lakukan dengan Nikodemus, orang Farisi yang akhirnya bertobat dan dihormati sebagai salah satu orang kudus Gereja awali. Ingatlah bahwa Yesus menantang Nikodemus sebagai cara untuk membantunya membuat keputusan sulit untuk menolak kejahatan orang Farisi lain dan menjadi pengikut-Nya. Bagian yang dikutip di atas ini berasal dari percakapan pertama Nikodemus dengan Yesus dan sering dikutip oleh saudara dan saudari evangelis kita sebagai ringkasan dari seluruh Injil. Dan memang begitu.

Sepanjang Bab 3 Injil Yohanes, Yesus mengajarkan tentang terang dan kegelapan, dilahirkan dari atas, kejahatan, dosa, penghukuman, Roh dan banyak lagi. Namun dalam banyak hal, semua yang Yesus ajarkan dalam bab ini dan sepanjang pelayanan publik-Nya dapat diringkas dalam pernyataan singkat dan langsung ini: “Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia menganugerahkan Sang Anak yang tunggal itu, supaya setiap orang yang percaya kepada Sang Anak tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.” Ajaran singkat ini dapat dipecah menjadi lima kebenaran esensial.

Pertama, kasih Bapa bagi umat manusia, dan khususnya, bagi anda, adalah kasih yang begitu dalam sehingga tidak mungkin kita dapat sepenuhnya memahami kedalaman kasih-Nya.

Kedua, kasih yang Bapa miliki bagi kita membuat Dia memberi kita hadiah terbesar yang pernah bisa kita terima dan hadiah terbesar yang bisa diberikan Bapa: Putra ilahi-Nya sendiri. Karunia ini harus direnungkan dengan doa yang sungguh-sungguh jika kita ingin memperdalam pemahaman tentang kemurahan hati Bapa yang tak terbatas.

Ketiga, saat kita dengan sungguh-sungguh masuk lebih dalam dan lebih dalam ke dalam pemahaman kita tentang karunia Putra yang luar biasa ini, satu-satunya tanggapan kita yang tepat adalah iman. Kita harus “percaya kepada-Nya.” Dan keyakinan kita harus diperdalam seperti halnya pemahaman kita semakin dalam.

Keempat, kita harus menyadari bahwa kematian kekal selalu mungkin. Mungkin saja kita selamanya “binasa”. Kesadaran itu akan memberikan wawasan yang lebih luas lagi tentang karunia Putra sehingga kita akan menyadari bahwa tugas pertama Putra adalah menyelamatkan kita dari pemisahan kekal dari Bapa.

Terakhir, karunia Putra dari Bapa tidak hanya untuk menyelamatkan kita tetapi juga untuk menarik kita ke ketinggian Surga. Artinya, kita diberi “hidup kekal”. Karunia kekekalan ini memiliki kapasitas, nilai, kemuliaan dan pemenuhan yang tidak terbatas.

Renungkan, hari ini, atas ringkasan dari seluruh Injil ini: “Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia menganugerahkan Sang Anak yang tunggal itu, supaya setiap orang yang percaya kepada Sang Anak tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.” Ambillah baris demi baris, dengan doa yang sungguh-sungguh berusaha untuk memahami kebenaran indah dan mengubah yang diungkapkan kepada kita oleh Tuhan kita dalam percakapan suci dengan Nikodemus ini. Cobalah untuk melihat diri anda sebagai Nikodemus, orang baik yang mencoba memahami Yesus dan ajaran-Nya dengan lebih jelas. Jika anda dapat mendengarkan kata-kata ini bersama Nikodemus dan menerimanya dengan kedalaman iman, maka anda juga akan berbagi dalam kemuliaan kekal yang dijanjikan kata-kata ini.

Tuhanku yang mulia, Engkau datang kepada kami sebagai Hadiah terbesar yang pernah ada. Engkau adalah karunia Bapa di Surga. Engkau dikirim karena cinta dengan tujuan menyelamatkan kami dan menarik kami ke dalam kemuliaan kekal. Bantu kami untuk memahami dan percaya semua bahwa Engkau dan untuk menerima Engkau sebagai Hadiah yang menyelamatkan untuk keabadian. Yesus, aku percaya padaMu.
Amin


Renungan 13 April 2021 Renungan 15 April 2021

komsostidar