Renungan 27 Mei 2021

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.
Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”
Markus 10:46-47

Bagaimana anda berdoa? Apakah anda pernah “berseru” kepada Yesus dengan keyakinan dan intensitas yang dalam? Orang buta ini, Bartimeus, memberikan kepada kita contoh yang bagus tentang bagaimana kita harus berdoa kepada Tuhan kita. Pertama-tama, orang buta itu dalam keadaan membutuhkan. Kebutaannya melambangkan setiap kelemahan dan kebutuhan yang Anda miliki dalam hidup. Jadi, apa yang paling anda perjuangkan dalam hidup? Apa kebiasaan terbesar anda? Atau apa yang paling membuat anda berduka?

Melihat kelemahan kita adalah langkah pertama. Begitu kita menyadari kebutuhan terbesar kita, kita juga harus “berseru” kepada Tuhan kita seperti yang dilakukan Bartimeus. Setelah mendengar bahwa itu adalah Yesus, entah bagaimana Bartimeus merasakan di dalam jiwanya bahwa Yesus ingin menyembuhkannya. Bagaimana dia merasakan ini? Dia mendengarkan suara Tuhan di dalam. Ya, dia mendengar keributan banyak orang yang berbicara tentang Yesus saat Dia lewat. Tetapi ini saja tidak bisa memaksanya untuk berseru dan mengetahui bahwa Yesus adalah sumber belas kasihan yang dia butuhkan. Yang memaksanya adalah suara Tuhan yang jelas, bisikan dari Roh Kudus, di dalam jiwanya, yang mengungkapkan kepadanya bahwa dia membutuhkan Yesus dan bahwa Yesus ingin menyembuhkannya.

Awalnya, orang-orang di sekitarnya menegur Bartimeus dan menyuruhnya diam. Dan jika Bartimeus lemah dalam iman, dia mungkin mendengarkan orang banyak dan, dengan putus asa, tetap diam. Tetapi sangat jelas bahwa dia tidak hanya mengabaikan teguran orang lain, dia “terus berteriak lebih keras”.

Di sini Bartimeus memberi kita kesaksian ganda tentang bagaimana kita harus berpaling kepada Tuhan kita. Pertama, kita harus merasakan kehadiran-Nya yang lembut namun jelas di dalam jiwa kita. Kita harus mengenali suara-Nya dan bisikan kasih karunia-Nya. Dia ingin menyembuhkan kita, dan kehadiran-Nya dalam hidup kita harus dirasakan di dalam. Kedua, kita harus benar-benar terpaku pada suara di dalam itu. Orang banyak yang menegur Bartimeus adalah simbol dari banyak “suara” dan godaan yang kita alami dalam hidup yang mencoba untuk menahan kita dari kesetiaan dan kesungguhan untuk berseru kepada Tuhan yang berbicara kepada kita. Tidak ada yang menghalangi kita dari tekad sepenuh hati kita untuk memanggil Yesus dengan kebutuhan kita.

Renungkan, hari ini, pada Bartimeus sebagai citra diri anda. Lihat diri anda sangat membutuhkan Tuhan kita dan dengarkan suara jernih-Nya. Apakah anda mendengar Dia? Apakah anda merasakan Dia lewat? Saat anda melakukannya, berseru kepada-Nya dengan semangat, intensitas, dan keyakinan. Dan jika anda menemukan bahwa ada godaan yang mencoba untuk membungkam doa dan iman anda, tingkatkan intensitas anda dan serukan “lebih banyak lagi” kepada Tuhan kita. Dia akan mendengarkan anda, memanggil anda kepada diri-Nya sendiri dan memberi anda kasih karunia yang ingin Dia berikan.

Yesusku yang penyayang, Engkau terus-menerus lewat, menarikku ke diriMu melalui kehadiran IlahiMu.Beri aku rahmat yang kubutuhkan untuk melihat kebutuhanku dan berseru kepadaMu dengan segenap hatiku. Semoga aku tidak pernah terhalang dari doa yang sungguh-sungguh ini, Tuhan terkasih, dan ketika godaan datang, semoga aku berseru lebih banyak lagi. Yesus, aku percaya padaMu.
Amin


Renungan 26 Mei 2021

komsostidar