Renungan 03 Juni 2021

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.
Markus 12:34

Akhirnya, kami mendapat kesaksian dari salah satu pemuka agama, ahli kitab, yang benar. Perikop di atas adalah kesimpulan dari interaksi dengan ahli Taurat ini yang bertanya kepada Yesus perintah mana yang pertama dan terbesar. Yesus memberikan jawaban ganda bahwa kita harus mengasihi Allah di atas segalanya, dengan segenap hati, pikiran, jiwa dan kekuatan, dan sesama kita seperti diri kita sendiri. Ahli Taurat kemudian menanggapi jawaban Yesus dengan mengatakan, “Baik, Guru. Engkau benar…” Dan kemudian Yesus memuji ahli Taurat ini dengan kutipan di atas.

Ingatlah bahwa hampir semua orang Farisi terus-menerus ditegur oleh Yesus karena kesombongan mereka yang merasa benar sendiri. Orang Saduki juga dihukum tetapi sering kali pada tingkat yang lebih rendah. Dan sekarang kami memiliki juru tulis yang mengalahkan mereka semua. Para ahli Taurat pada dasarnya adalah fungsionaris yang menyalin atau membuat berbagai dokumen liturgi dan hukum. Beberapa orang Farisi juga adalah ahli Taurat. Dan sering kali, ketika Yesus mengutuk orang-orang Farisi, Dia juga mengutuk ahli-ahli Taurat. Tapi juru tulis ini berbeda. Ahli Taurat ini tampaknya tidak hanya tertarik pada jawaban Yesus tetapi juga menunjukkan “pemahaman” tentang apa yang Yesus katakan kepadanya. Jangan meremehkan pentingnya karunia pemahaman ini.

Untuk benar-benar memahami apa yang Tuhan kita katakan kepada kita, kita harus terbuka. Dan keterbukaan membutuhkan kerendahan hati. Kerendahan hati adalah kebajikan yang bertentangan dengan sikap “tahu segalanya”. Ini adalah disposisi pikiran dan hati yang mendengarkan Tuhan berbicara, mendengar apa yang Dia katakan, memahami semua kebenaran dengan karunia kasih karunia, dan dengan penuh doa tunduk pada kebenaran itu. Kerendahan hati memungkinkan kita untuk melihat melampaui diri kita sendiri untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan paling sulit dalam hidup. Itu memampukan kita untuk berpaling kepada satu-satunya sumber kebenaran, Yesus Kristus sendiri. Dan buah dari keterbukaan yang rendah hati ini adalah karunia pengertian. Ini adalah pemahaman tentang misteri kehidupan yang berada di luar kapasitas intelektual alami kita. Rahmat Tuhan mampu mengajar dan membentuk jiwa yang rendah hati dan mengisinya dengan kejelasan visi dan penerimaan akan kebenaran yang terdalam.

Renungkan, hari ini, pada kata-kata Yesus kepada ahli Taurat ini. “Kamu tidak jauh dari Kerajaan Allah.” Apakah Yesus juga mengucapkan kata-kata ini kepada anda? Sudahkah anda dengan rendah hati mencari jawaban atas banyak pertanyaan kehidupan dengan berpaling kepada Tuhan kita? Lebih khusus lagi, apakah anda dapat melihat hidup anda dan bersukacita dalam kenyataan bahwa Tuhan juga telah memberi anda karunia pengertian-Nya? Jika tidak, maka lihatlah ke dalam dan pertimbangkan pertanyaan mana yang paling perlu anda ajukan kepada Yesus. Tempatkan mereka di hadapan-Nya dan kemudian dengarkan, bersikap terbuka dan siap untuk menanggapi ketika Dia berbicara. Mendengar dan menanggapi Tuhan kita akan mengakibatkan Tuhan kita mengucapkan kata-kata yang sama ini kepada anda.

Tuhanku sumber Kebenaran sejati, Engkau memandang jiwa-jiwa yang rendah hati dengan kemurahan dan belas kasihan, dan Engkau mengungkapkan kepada mereka misteri Kerajaan Surga. Tolong beri aku karunia kerendahan hati, sehingga aku dapat selalu berpaling kepada-Mu dengan setiap pertanyaan dalam hidup. Penuhi aku dengan karunia pengertian sehingga aku tahu bagaimana mengasihi dan melayani-Mu dengan lebih setia setiap hari. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan 02 Juni 2021

komsostidar