Renungan 10 Juni 2021

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Matius 5:21-22

Bagian yang dikutip di atas memberi kita tiga tingkat dosa yang semakin dalam yang kita lakukan terhadap orang lain. Dosa-dosa ini adalah ajaran baru yang tidak terkandung dalam Perjanjian Lama. Dengan ajaran ini, panggilan Yesus untuk kekudusan dan cinta sesama menjadi sangat jelas.

Marah secara batin kepada orang lain atau dalam ungkapan seperti kata-kata : bodoh, kafir, tidak cerdas, dll yang menyakiti perasaan orang, mengutuk orang lain.Apalagi sampai membuat luka batin berkepanjangan.Inilah dosa yang dapat membawa kepada penghakiman.

Jadi, apakah anda bergumul dengan kemarahan? Panggilan Yesus untuk kebebasan dari semua tingkat dosa ini adalah panggilan yang tinggi. Ada banyak waktu dalam hidup ketika hasrat kemarahan kita dibangkitkan karena satu dan lain alasan, dan hasrat itu mengarah ke salah satu tingkat dosa ini. Adalah godaan umum untuk ingin mengutuk orang lain yang membuat anda marah dengan cara yang sekuat mungkin.

Penting untuk dipahami bahwa ajaran Yesus yang baru ini sebenarnya bukanlah beban jika dipahami dan dipeluk. Pada awalnya, tampaknya hukum Tuhan kita melawan kemarahan ini negatif. Itu karena mencambuk orang lain memberikan kepuasan yang salah, dan perintah Tuhan kita ini, dalam arti tertentu, “merampas” kepuasan itu dari kita. Ini bisa menjadi pemikiran yang menyedihkan untuk memikirkan kewajiban moral untuk memaafkan sampai-sampai kemarahan yang tidak teratur menghilang. Tapi apakah itu menyedihkan? Apakah hukum Tuhan kita ini menjadi beban?

Kebenaran yang mendalam adalah bahwa apa yang Yesus ajarkan kepada kita dalam perikop ini, dalam banyak hal, lebih untuk kebaikan kita sendiri daripada kebaikan orang lain. Kemarahan kita terhadap orang lain, baik itu batin, kritik verbal atau mengutuk habis-habisan, bisa menyakitkan bagi orang yang kita marahi, tetapi kerusakan yang dilakukan bentuk-bentuk kemarahan ini jauh lebih buruk bagi kita daripada mereka. Marah, bahkan secara batiniah, bahkan jika kita memasang wajah bahagia, sangat merusak jiwa kita dan kemampuan kita untuk bersatu dengan Tuhan. Oleh karena itu, bukan hukum baru Tuhan kita tentang kemarahan yang menjadi beban, melainkan kemarahan itu sendiri yang merupakan beban berat dan beban yang Yesus ingin anda bebaskan.

Renungkan, hari ini, atas dosa kemarahan. Saat anda melakukannya, cobalah untuk melihat kemarahan anda yang tidak teratur sebagai musuh yang sebenarnya daripada orang yang membuat anda marah. Berdoalah kepada Tuhan kita untuk membebaskan anda dari musuh jiwa ini dan mencari kebebasan yang Dia ingin berikan.

Tuhanku yang penyayang, Engkau memanggil kami untuk kebebasan yang sempurna dari semua yang membebani kami. Kemarahan yang membebani kami. Bantu kami untuk melihat beban yang dibebankan oleh kemarahan dan bantu kami untuk mencari kebebasan sejati melalui tindakan pengampunan dan rekonsiliasi. Tolong maafkan kami, Tuhan, seperti kami memaafkan semua orang yang telah menyakiti kami.
Yesus, aku percaya pada-Mu.Amin


Renungan 09 Juni 2021 Renungan 11 Juni 2021

komsostidar