Renungan 11 Juni 2021

tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.
Yohanes 19:33-34

Injil Yohanes dipenuhi dengan gambaran dan simbolisme spiritual yang dalam. Jelas bahwa perumpamaan dan simbolisme ini diilhami secara Ilahi sehingga memberi kita makanan rohani untuk refleksi dan meditasi. Salah satu gambaran seperti itu diberikan kepada kita hari ini saat kita merayakan Hari Raya Hati Kudus Yesus.

Saat Yesus dan dua penjahat di kedua sisi-Nya tergantung di salib mereka, para prajurit datang untuk mempercepat kematian mereka dengan mematahkan kaki mereka agar mereka lebih cepat mati lemas. Tetapi ketika mereka datang kepada Yesus, Dia sudah mati. Jadi salah satu prajurit, yang secara tradisional dikenal sebagai Longinus, menusukkan tombaknya ke lambung Yesus, dan darah dan air mengalir keluar. Beberapa tradisi mengidentifikasi Longinus dengan perwira yang berteriak setelah kematian Yesus, “Sungguh, ini adalah Anak Allah!” (Lihat Matius 27:54.) Tradisi lain menyatakan bahwa dia bertobat pada saat itu, menjadikannya orang pertama yang memeluk agama Kristen. Dan masih ada tradisi lain yang menyatakan bahwa Longinus tidak dapat melihat dengan baik, dan darah dan air dari lambung Yesus mengalir ke matanya, menyembuhkannya. Terlepas dari apakah tradisi ini benar atau tidak, kita tahu bahwa lambung Yesus ditusuk dan darah dan air mengalir keluar.

Simbolisme tindakan ini lebih dari sekadar simbol manusia. Itu adalah instrumen dari realitas spiritual mendalam yang terjadi pada saat itu. Saat Hati Kudus Yesus ditusuk, darah dan air yang tercurah adalah kehidupan sakramental baru Gereja. Darah adalah Ekaristi Mahakudus dan Air adalah karunia Pembaptisan. Dan ketika Yesus sebelumnya “menghembuskan nafas terakhir-Nya” dan “menyerahkan Roh-Nya”, Sakramen Penguatan dianugerahkan.

Ketika kita merayakan Sakramen-sakramen itu, mudah untuk melihatnya sebagai simbol belaka dari apa yang kita ambil. Tetapi dalam Tradisi Kristen kita, Sakramen-sakramen jauh lebih banyak. Simbol juga merupakan realitas. Ini adalah instrumen dari apa yang dilambangkannya. Oleh karena itu, setiap kali kita menyaksikan Pembaptisan atau mengambil bagian dalam Ekaristi Kudus, kita secara mistik hadir bersama Longinus, menerima rahmat dan belas kasihan penebusan kita, yang dicurahkan dari sisi Yesus yang terluka, untuk menyembuhkan kita dan membuat kita utuh.

Jantung manusia, secara fisik, adalah organ tubuh yang bertanggung jawab untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Tetapi dari perspektif spiritual, mengingat bahwa kita adalah tubuh dan jiwa, hati manusia juga merupakan sumber kehidupan kita. Tanpa itu, kita mati secara jasmani dan rohani. Begitu pula dengan Hati Kudus Yesus. Bukan hanya jantung fisik yang tertusuk tombak sejak lama. Sekarang juga menjadi sumber kehidupan rohani kita yang berkelanjutan, dan, tanpa Hati Kudus Belas Kasih Yesus, kita akan mati dalam dosa-dosa kita.

Renungkan, hari ini, Hati Yesus yang Mahakudus. Lihatlah Hati-Nya sebagai sumber kehidupan baru anda yang berkelanjutan dalam kasih karunia. Pahami bahwa Hati-Nya lebih dari sekadar simbol rahmat dan belas kasihan-Nya, itu adalah sumber spiritual dan sumber rahmat itu. Dengan penuh doa tempatkan diri anda di hadapan Salib-Nya, hari ini, dan biarkan darah dan air, yang mengalir dari sisi-Nya yang terluka, untuk menutupi anda sehingga anda juga dapat percaya.

Hati Yesus yang Mahakudus, Engkau mencurahkan ke dunia cinta dan belas kasihan dari anugerah-Mu yang mengubahkan melalui darah dan air yang mengalir dari sisi-Mu yang terluka. Bantulah aku untuk menatap sumber rahmat ini dan ditutupi dengannya melalui karunia Sakramen. Semoga aku selalu terbuka untuk semua yang ingin Engkau berikan kepadaku melalui instrumen cinta-Mu yang berharga dan mengubahkan ini. Hati Kudus Yesus, kasihanilah kami.
Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan 10 Juni 2021 Renungan 12 Juni 2021

komsostidar