Renungan 12 Juni 2021

Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
Lukas 2:51

Berulang kali, Kitab Suci mengungkapkan kepada kita bahwa Perawan Maria yang Terberkati “menyimpan semua hal ini dalam hatinya.” Hal apa? Dia terus-menerus merenungkan misteri besar kehidupan Putranya ketika kehidupan suci-Nya terbentang di depan matanya.

Cinta seorang ibu itu kuat. Sering kali, seorang ibu lebih menyadari detail kehidupan anaknya daripada anak itu sendiri. Dia penuh perhatian, menghibur, hadir, lembut dan penuh kasih.

Bunda Maria tidak memiliki pengetahuan penuh tentang setiap realitas ilahi. Dia tidak menatap Tritunggal Mahakudus dengan matanya saat dia berjalan di bumi. Dia tidak memiliki pengetahuan penuh tentang rencana Bapa. Tapi dia menjalani hidup dengan kesempurnaan iman. Dia juga mengetahui banyak kebenaran tentang Surga dan bumi melalui Hatinya yang Tak Bernoda. Hatinya adalah hati yang dipenuhi dengan setiap kebajikan. Dia mencintai dengan cinta yang tak terlukiskan. Dan apa yang secara khusus dia renungkan dalam Hatinya yang Tak Bernoda, berulang-ulang sepanjang hidupnya, adalah cinta murni dan sempurna yang dia miliki untuk Putranya. Baginya, cinta ini membuatnya takjub. Dia terus-menerus berada dalam kekaguman yang kudus ketika dia berinteraksi dengan Putranya, menatap kehidupan suci-Nya, dan menyaksikan Dia maju dalam “kebijaksanaan dan usia dan perkenan di hadapan Allah dan manusia” (Yohanes 2:52). Cinta di hatinya adalah pelajaran untuk dirinya sendiri. Dia terus memperdalam pengetahuannya tentang Tuhan melalui perenungan akan cinta sempurna yang ditempatkan di hatinya oleh Tuhannya. Dan Allah ini, Juruselamatnya, adalah Putranya.

Hari ini kita merayakan Peringatan Hati Maria yang Tak Bernoda. Meskipun ada banyak pesta sepanjang tahun di mana kita menghormati putri suci Allah ini, perayaan ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk merenungkan hatinya yang sedang merenung.

Hati manusia tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual. Itu adalah sumber spiritual dari kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Dari hati kita mengalir kebaikan atau keburukan, cinta atau benci, kemurahan hati atau keegoisan. Saat kita menghormati Hati Tak Bernoda hari ini, kita dipanggil untuk melihat cita-cita tentang apa yang harus hidup di dalam hati kita sendiri dan apa yang harus mengalir darinya. Kesempurnaan segala kebajikan itulah yang idealnya harus mengalir dari setiap hati manusia sepanjang masa. Dan hati Bunda Terberkati kitalah yang akan mengajari kita bagaimana kita bisa memiliki kebajikan-kebajikan itu sehingga menjadi alat cinta Tuhan kepada orang lain.

Renungkan, hari ini, atas kesempurnaan rohani Hati Maria yang Tak Bernoda. Kesempurnaan sulit untuk dipahami dalam keadaan kita jatuh. Tetapi semakin kita melihat kepada kesempurnaan, semakin kita menginginkan kesempurnaan itu. Dan semakin kita menginginkan kesempurnaan itu, semakin kita akan mendapatkannya. Biarkan diri anda hari ini untuk merenungkan hati yang Tanpa noda seperti yang tinggal di dalam Bunda Allah dan memintanya untuk menjadi perantara bagi anda sehingga anda akan lebih sepenuhnya meniru dia.

Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, engkau mengungkapkan kepada kami cara sempurna untuk mencintai Putramu dan mengabdi kepada-Nya. Penuhi aku dengan cinta yang kau miliki untuk Putramu. Terima kasih atas kesaksian yang Bunda berikan kepadaku semua dan bantu aku untuk meniru kebajikan tak terhitung yang mengalir dari hatimu. Hati Maria yang Tak Bernoda, doakanlah kami. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan 11 Juni 2021

Renungan 13 Juni 2021 – HARI MINGGU BIASA KE XI

komsostidar