Renungan 05 Juli 2021

Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Matius 9:20-22

Betapa besarnya iman yang dimiliki wanita ini! Dia telah menderita selama bertahun-tahun dan terus menderita dengan pendarahannya. Bagaimana dia tahu bahwa menyentuh jubah Yesus akan menyembuhkannya? Satu-satunya jawaban untuk itu adalah iman. Iman bukan sekedar angan-angan atau harapan. Iman adalah pengetahuan tertentu, yang diberikan oleh rahmat dan wahyu khusus dari Tuhan, yang dengannya seseorang dengan bebas menyetujui kepercayaan. Tuhan berbicara ke hatinya, dia mendengarkan, dia menjawab dan dia sembuh.

Satu hal yang sangat menginspirasi dalam kisah Injil ini adalah kerendahan hati wanita ini mendekati Yesus. Dia tidak merasa seolah-olah dia perlu mengganggu Yesus, berbicara kepada-Nya, atau menyusahkan Dia dengan masalahnya. Sebaliknya, dalam kerendahan hatinya, ia menyampaikan kebutuhannya kepada Yesus melalui karunia imannya, secara batiniah dan diam-diam, dan kasih karunia Allah diberikan kepadanya karena Allah melihat hati dan menanggapi iman yang begitu rendah hati dan tulus.

Bayangkan jika setiap orang memiliki iman yang dalam ini kepada Tuhan kita. Bayangkan jika kita semua tahu, dengan keyakinan yang terdalam, bahwa Tuhan akan memenuhi setiap kebutuhan yang kita miliki. Dan bayangkan jika kita berpaling kepada Tuhan kita dengan keyakinan yang mendalam ini setiap hari dengan setiap kebutuhan. Jika kita bisa melakukan itu, maka Tuhan kita akan dapat terus memelihara kita dalam segala hal.

Salah satu komponen kunci untuk penyembuhan wanita ini adalah bahwa Allah Bapa yang berbicara kepadanya dan mengundangnya untuk menyentuh jubah Putera-Nya Yesus. Yesus berada dalam kesatuan yang sempurna dengan kehendak Bapa-Nya. Oleh karena itu, menyentuh jubah Yesus bukan hanya tindakan magis yang dengannya apa pun yang diinginkan wanita ini akan diberikan kepadanya. Sebaliknya, itu adalah tanggapan atas undangan batin yang diberikan kepadanya oleh Bapa.

Dalam hidup kita, kita harus bekerja untuk melakukan hal yang sama. Terlalu sering kita menunjukkan pilihan kita kepada Tuhan dan mengatakan kepada-Nya apa yang kita ingin Dia lakukan. Tuhan tidak menanggapi permintaan seperti itu. Sebaliknya, kita harus mencari kehendak-Nya…dan kehendak-Nya saja. Wanita ini tahu dia akan disembuhkan, karena Allah Bapa berbicara kepadanya dalam pikiran dan hatinya dan mengilhami dia untuk menyentuh jubah Yesus Anak-Nya, dan dia menanggapi, dan penyembuhan terjadi. Tuhan harus berbicara terlebih dahulu, kita harus mendengar dan menanggapi, dan kemudian kehendak-Nya tercapai.

Renungkan, hari ini, pada Suara Tuhan yang lembut saat Dia berbicara kepada anda di lubuk hati anda yang paling dalam. Apakah anda mendengar Dia? Apa yang Dia undang untuk anda lakukan? Penyembuhan apa yang ingin Dia berikan? Saat anda merenungkan Suara Tuhan, cobalah untuk hanya menanggapi Dia. Kesampingkan semua preferensi dan gagasan anda sendiri tentang apa yang harus dilakukan Tuhan dan carilah hanya apa yang Dia sedang bicarakan kepada anda. Katakan “Ya” kepada-Nya, lakukan dengan keyakinan dan keyakinan, dan percayalah bahwa apa pun yang Dia katakan kepada anda, jika anda memiliki keyakinan pada apa yang Dia katakan, Dia akan melakukannya.

Tuhanku yang lembut, Engkau berbicara kepadaku siang dan malam, memanggilku untuk kesembuhan yang aku butuhkan. Bantulah aku untuk mendengar Suara-Mu dan untuk menanggapi-Mu dengan iman. Semoga iman dan keyakinanku kepada-Mu tumbuh kuat dan menjadi sumber tindakan mulia-Mu dalam hidupku. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan 04 Juli 2021 – HARI MINGGU BIASA KE XIV

Renungan 06 Juli 2021

komsostidar