DOA SYUKUR AGUNG (DSA) (Diambil dari : Bahan Bulan Liturgi Nasional 2021, MENGENAL DOA SYUKUR AGUNG II-IV, Komisi Liturgi KWI.)

DOA SYUKUR AGUNG (DSA)
(Diambil dari : Bahan Bulan Liturgi Nasional 2021, MENGENAL DOA SYUKUR AGUNG II-IV, Komisi Liturgi KWI.)

Sebelum kita mendalami makna doa dalam tiap Doa Syukur Agung, perlulah kita mengingat kembali bagian-bagian Doa Syukur Agung agar pembahasan dalam bab-bab selanjutnya dapat diikuti dengan lebih mudah.

1.PREFASI

Sebagaimana intro dalam sebuah lagu, Prefasi adalah bagian awal dan tak terpisahkan dari Doa Syukur Agung yang menentukan bagaimana kita bisa memahami DSA dengan baik. Prefasi bukanlah sekadar bagian prakata atau pendahuluan dari sebuah buku yang biasanya kita lewati begitu saja ketika membaca.

Prefasi diawali dengan sebuah dialog antara imam selebran dan umat. Dalam dialog awal ini, imam mengajak umat beriman untuk kembali menyadari bahwa “Tuhan bersamamu”, dan umat pun menjawab dialog imam tersebut dengan ganti memberi kesadaran kepada imam bahwa Tuhan pun “bersama rohmu”. Dengan mengatakan kata-kata itu, umat juga berharap agar para imam dipenuhi dengan kehadiran Tuhan yang bangkit, dan semoga pelayanannya memperoleh kekuatan dan berkat rahmat Roh Kudus. Lalu mendekati peristiwa puncak dalam Ekaristi ini, imam mengajak kembali umat agar “mengarahkan hati kepada Tuhan”. Umat diminta untuk mengesampingkan hal-hal duniawi, pikiran-pikiran, atau pun urusan-urusan rumah tangga untuk sementara waktu agar bisa memusatkan perhatiannya kepada Tuhan. Umat pun menjawab “sudah kami arahkan”. Seharusnya jawaban ini bukan hanya di bibir saja, tetapi sungguh-sungguh mengalir dari hati yang berusaha untuk mengarahkan segala keberadaan jiwa dan raga kepada Tuhan. Imam lalu kembali mengajak mengarahkan umat untuk mengucapkan syukur dengan kata-kata, “Marilah bersyukur pada Tuhan Allah kita” sesuai dengan makna kata Ekaristi (eucharistia: Yunani) itu sendiri yang adalah untuk mengucap syukur. Akhirnya, umat pun menanggapi bahwa “sudah layak dan sepantasnya” kita bersyukur kepada Tuhan karena segala perbuatan yang telah dilakukannya bagi kita.

Setelah bagian dialog pembuka ini, imam melanjutkan doa-doanya dengan menyebutkan alasan-alasan mengapa kita perlu bersyukur kepada Tuhan dalam kaitan dengan misteri perayaan Ekaristi yang sedang dirayakan pada hari itu.

2.KUDUS

Doa-doa imam itu tadi semakin memuncak dengan sebuah seruan atau nyanyian “Kudus” yang megah. Sayangnya, justru nyanyian/seruan “Kudus” inilah yang kerap menjadikan umat salah paham tentang awal dari DSA. Banyak dari mereka menyangka bahwa sesudah “Kudus” inilah DSA baru dimulai, padahal Prefasi merupakan bagian tak terpisahkan dari DSA.

Aklamasi “Kudus, Kudus, Kudus” ini berasal dari doa Qedushah, sebuah doa yang digunakan sejak abad kedua dalam peribadatan di sinagoga-sinagoga orang Yahudi. Doa ini berasal dari nyanyian para malaikat, “Kudus, Kudus, Kudus” yang ada dalam penglihatan nabi Yesaya tentang Takhta Allah (Yes 6). Doa ini muncul dalam DSA Kristiani mulai akhir abad ketiga di Mesir dan lalu secara cepat menyebar dan diadaptasi oleh Gereja-gereja di seluruh Kekaisaran Romawi. Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) menyatakan bahwa aklamasi Kudus ini dilambungkan oleh seluruh jemaat bersama imam (PUMR 79b).

3.EPIKLESIS

Sejak zaman sesudah Konsili Trente (pertengahan abad XVI) hingga Konsili Vatikan II, hanya ada satu DSA yang digunakan dalam perayaan Ekaristi Gereja-gereja Ritus Romawi, yakni yang sekarang kita sebut DSA I. Walaupun demikian, DSA I sendiri berasal dari 1300 tahun sebelum Konsili Trente, karena St. Ambrosius (abad IV) sudah mengutipnya dalam DSA versi yang ia gunakan di Milan.

Sesudah Konsili Vatikan II, Komisi yang ditugaskan untuk melihat dan merevisi DSA, mempelajari dengan sangat mendalam DSA-DSA yang digunakan dalam Tradisi Antiokia, Aleksandria dan Siria. Salah satu elemen yang komisi temukan dalam doa-doa tersebut adalah adanya elemen seruan/ doa/permohonan turunnya (invokasi) Roh Kudus, yang dalam bahasa Yunani disebut sebagai Epiklesis.

Dewasa ini, dalam DSA yang kita gunakan, ada dua elemen Epiklesis yang terjalin dalam DSA. Epiklesis pertama adalah sebuah permohonan turunnya Roh Kudus atas bahan persembahan. Dalam Epiklesis pertama ini Gereja memohon kekuatan Allah agar mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Epiklesis mengingatkan kita bahwa Ekaristi bukan usaha manusia semata, tetapi karya Tuhan dalam kita dan untuk kita. Ini mengingatkan kita juga bahwa Ekaristi bukan klenik atau hal-hal berbau magis, melainkan oleh karena rahmat Allah.

Epiklesis kedua adalah sebuah permohonan agar Roh Allah menjadikan Gereja sebagai “satu tubuh dan menyembuhkan segala macam perpecahan”. Doa untuk persatuan seluruh umat beriman ini muncul sesudah Kisah Institusi.

4.KISAH INSTITUSI DAN KONSEKRASI

Setelah Doa Epiklesis, Kisah Institusi biasanya diawali dengan kutipan narasi kitab suci ketika Yesus mendirikan (menginstitusi) Ekaristi bersama para Rasul dan kisah itu langsung diikuti dengan katakata konsekrasi “Terimalah dan makanlah, inilah tubuh-Ku…” dan “Terimalah dan minumlah, inilah piala darah-Ku…”

Dalam pandangan umat seringkali muncul anggapan bahwa, doa konsekrasi dipandang sebagai bagian terpenting dari Doa Syukur Agung, karena saat itulah perubahan Tubuh dan Darah Kristus sungguh terjadi. Pandangan ini tidak salah, tetapi juga tidak seluruhnya tepat, karena seringkali pandangan inilah yang menyebabkan umat melihat bagian lain dalam Doa Syukur Agung sebagai tambahan saja dan kurang memusatkan perhatiannya.

Kisah Institusi dan konsekrasi membawa imam dan seluruh umat yang hadir dalam Ekaristi memasuki misteri realis praesentia atau kehadiran nyata Tuhan Yesus yang nyata secara sakramental, dan bukan secara fisik. St. Thomas Aquinas menjelaskan kehadiran nyata ini tidak dapat ditangkap melalui indera manusia atau lewat imajinasi sekalipun, kehadiran nyata itu dapat ditangkap dari mata spiritual atau iman.

5.ANAMNESIS

Kata Anamnesis (mengenang) dalam bahasa sehari-hari berarti mengingat peristiwa yang terjadi di masa lampau. Seorang dokter sebelum memberikan hasil diagnosa kepada pasiennya biasanya memulai dengan proses pengenangan terlebih dahulu dengan bertanya: “Kemarin makan apa? Apa yang dirasakan? Kapan mulai terasa demam?”. Kata ini agak berbeda artinya jika kita mengartikannya dalam konteks budaya Yahudi yang berarti menghadirkan kembali peristiwa pada masa lampau dalam masa sekarang. Ini seperti seseorang yang sedang memandang sebuah foto kekasihnya yang sudah lama meninggal dan akhirnya ia menangis karena tiba-tiba seluruh kenangan pengalaman bersama dengan orang yang dikasihi itu hadir kembali dan membuatnya menitikkan air mata karena rindu. Dalam Anamnesis ini umat diajak untuk menghadirkan kembali karya Allah dalam sejarah keselamatan manusia yang masih berlangsung hingga hari ini dan selama-lamanya.

6.DOA PERSEMBAHAN

Sesudah Anamnesis menyusul Doa Persembahan. Bagian ini ditandai dengan adanya kata-kata “mempersembahkan kepada-Mu, ya Bapa, roti kebangkitan dan piala keselamatan” atau semacamnya. Inilah sebenarnya saat persembahan yang sejati. Selain mempersembahkan “roti kebangkitan dan piala keselamatan” Gereja juga mempersembahkan seluruh jemaat yang belajar untuk mempersembahkan dirinya sendiri. Maksudnya, setelah umat memberi tanggapan yang berupa kekaguman akan karya Allah dalam diri Kristus (Anamnesis), kini umat meniru tindakan Kristus sendiri, yakni mempersembahkan hidup menjadi kurban yang hidup.

7.DOA PERMOHONAN

Bagian selanjutnya adalah Doa Permohonan. Bagian permohonan ini mengajarkan kita bahwa tidak ada perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh seorang pribadi sendirian dan demi kepentingan dirinya sendiri. Sama maknanya ketika mendengar “es panas”, “lem yang tidak lengket”, atau “garam yang tidak asin”, dua kata ini, “misa” dan “pribadi/ privat”, sebenarnya sangat aneh bila digabungkan.

Tidak ada “misa” yang “pribadi/privat”. Misa tidak pernah dilakukan sendirian. Meskipun secara fisik, imam merayakan sendiri di kapel pribadinya, imam tersebut membawa intensi sebagai satu kesatuan Gereja Semesta. Demikian pula saat sebuah paroki merayakan Misa, mereka semua yang hadir membawa seluruh umat Gereja Semesta dalam doanya. Bukti yang tampak dalam doa ini terdapat dalam kalimat, “dalam persatuan dengan Paus kami, N., dan Uskup kami, N.,* serta semua rohaniwan.” Khusus Paus dan Uskup diberi imbuhan nama masing-masing sesuai PUMR no. 149, sebab Paus penerus tahta Petrus yang menerima tanda dan pelayan kesatuan seluruh gereja (KGK 1369) dan Uskup memiliki peran penting untuk mempertahankan kesatuan Gereja di wilayahnya. Dalam doa ini, imam berdoa bagi kepentingan Gereja, Paus, Uskup, anggota Gereja baik yang masih hidup maupun yang sudah berpulang, dan juga memohon supaya diperkenankan ikut serta dalam persatuan abadi bersama dengan Kristus dan para kudus.

8.DOKSOLOGI

Meskipun sekilas kata Doksologi tampak rumit, namun sebenarnya sangat sederhana. Doksologi adalah bagian penutup Doa Syukur Agung yang berisi pujian, hormat, dan sembah. Dari seluruh susunan Doa Syukur Agung, terdapat dua bagian yang memiliki makna pujian kepada Allah, yakni doa Kudus di bagian awal dan Doksologi di bagian akhir. Pembuka dan penutup Doa Syukur Agung diisi dengan pujian atas kemuliaan Allah. Pada bagian pembuka kita melihat pesan bahwa doa ini tentang Allah, dan di bagian akhir kita kembali diingatkan bahwa doa ini memang tentang Allah, bukan tentang kita. Senada dengan Sacrosanctum Concilium (SC) yang menyebutkan, “Liturgi suci terutama merupakan ibadah kepada Keagungan Ilahi.” (SC 33).

Saat Doksologi diucapkan imam, umat menjawab dengan kata, “Amin”. Kata ini, meskipun ditempatkan paling akhir dan terlihat seperti bagian kecil sebenarnya memiliki peran penting. Umat yang mengatakan amin berarti menyetujui doa-doa yang baru saja didoakan imam dan mereka turut ambil bagian dalam doa itu. Kita seumpama sedang mengekspresikan persetujuan kita dan menjadikan seluruh doa kita menjadi satu bagian utuh lalu mengirimkannya pada Tuhan.

Diambil dari : Bahan Bulan Liturgi Nasional 2021, MENGENAL DOA SYUKUR AGUNG II-IV, Komisi Liturgi KWI.

komsostidar