Renungan 12 September 2021

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Markus 8:31-33

Kemungkinan besar ini bukan jawaban yang Petrus harapkan dari Yesus. Petrus bergumul dengan rasa takut ketika Yesus menjelaskan bahwa Dia akan mengalami banyak penderitaan dan kematian di tangan para pemimpin agama pada waktu itu. Petrus mengasihi Yesus dan merasa takut dan cemas memikirkan Gurunya menderita dan dibunuh. Jadi Petrus, dimotivasi oleh rasa takut dan kebingungan, mencoba “berbicara dengan akal sehat manusiawi” kepada Yesus.

Hasilnya ? Petrus ditegur di hadapan para Rasul lainnya oleh Yesus. Yesus melangkah lebih jauh dengan mengatakan, “Enyahlah Iblis” .Itu pasti menyakitkan.

Untuk memahami hal ini dengan benar, kita harus mulai dengan kesimpulan yang jelas bahwa kata-kata Yesus adalah kata-kata kasih yang besar. Yesus tidak akan melakukan apa pun selain cinta. Karena itu, kita harus berusaha memahami bagaimana kata-kata kuat dari Yesus ini penuh kasih dan suci.

Kunci untuk memahami ini adalah hal kedua yang Yesus katakan. “sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Yesus baru saja mengungkapkan kepada para Rasul misteri terdalam dari misi hidup-Nya. Yaitu, Dia baru saja mengungkapkan bahwa misi-Nya adalah menerima penganiayaan dan kematian yang tidak adil di tangan para pemimpin agama. Tetapi dalam mengungkapkan ini, juga jelas bahwa Dia bermaksud membawa kebaikan dari penderitaan ini. Dia tidak akan membiarkan penderitaan ini jika bukan untuk kebaikan yang lebih besar. Bagian yang sulit adalah, untuk memahami misteri besar penderitaan ini, seseorang membutuhkan iman yang dalam. Para Rasul ditantang untuk melihat situasi ini dari perspektif Ilahi. Petrus mengalami kesulitan melakukannya, dan itulah sebabnya Yesus harus menantangnya secara langsung.

Teguran Yesus adalah teguran kasih, membantu Petrus membebaskan diri dari ketakutan dan penglihatannya yang terbatas untuk masuk ke dalam misteri yang mendalam dari pengorbanan Yesus yang penuh kasih ini.

Renungkan, hari ini, atas pergumulan anda sendiri dengan Salib Kristus. Penderitaan-Nya terus hadir di dunia kita melalui kasih dan pengorbanan putra dan putri-Nya. Ketika orang Kristen menderita karena iman mereka, kita harus melihat ini dari mata Tuhan, bukan mata manusia. Kita harus melihat berkat-berkat Ilahi yang menyertai penderitaan-penderitaan seperti itu dan kita harus menerimanya sesuai dengan misteri besar rencana Allah.

Tuhan, aku juga kekurangan iman yang diperlukan untuk melihat berkat-berkat yang menyertai Salib-Mu, serta banyak salib yang diberikan kepadaku dalam hidup. Tolonglah aku untuk dimurnikan dalam imanku sehingga aku dapat melihat tangan-Mu bekerja dalam segala hal, bahkan penderitaan, ketidakadilan dan penganiayaan. Semoga aku melihat hidup dari sudut pandang-Mu saja. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan 11 September 2021 Renungan 13 September 2021


DATA MONITORING COVID-19 UMAT PAROKI ST ANDREAS TIDAR, MALANG

Silahkan mengisi Form di link ini untuk mendata umat terpapar covid
https://forms.gle/A2ZcCBSzMR9bi7aE7

Bagi umat yang kesulitan mengisi data, bisa meminta bantuan kepada Ketua Lingkungan masing-masing.

komsostidar