Refleksi tentang “DOGMA MARIA”

Refleksi tentang “DOGMA MARIA”


Sebagai orang yang baru 20th menjadi katolik pengajaran dogma Maria menambah kedalaman pemahaman dan pengetahuan rohani saya akan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Bagi saya untuk mencintai Bunda Maria tidak cukup hanya sekedar mengetahui bahwa Bunda Maria yang
telah melahirkan Yesus sang Putra Allah yang secara istimewa menjadikkannya Bunda Yesus Bunda Allah namun saya perlu juga mengetahui dan memahami akan dogma Bunda Maria yang
diajarkan dan ditetapkan Gereja yang berakar dalam iman akan Kristus. St. Gregorius Naziansa menyatakan, “Barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, makai ia adalah orang asing bagi Allah.” Karena Bunda Maria bukan hanya saluran belaka, tetapi Kristus sungguh terbentuk di dalam rahim Bunda Maria secara ilahi tanpa campur tangan manusia
tetapi juga secara manusiawi karena mengikuti hukum alam manusia.
Kalimat-kalimat Rm Nano saat pengajaran yang mengingatkan bahwa melalui Bunda Maria kita harus semakin dalam mencintai Yesus membuat saya mengingat masa-masa dimana saya memulai mendaraskan doa Rosario secara pribadi dimana selalu ada ketakutan di pikiran saya
bahwa semakin sering saya berdoa Rosario bersama Bunda Maria dan semakin banyak saya mengetahui tentang Bunda Maria saya akan melupakan Yesus. Ini amat sangat menakutkan saya dan membuat saya maju mundur dalam mengenal Bunda Maria. Disamping itu ketidaktahuan saya akan Bunda Maria karena saya dulu nya beragama Protestan selalu saya jadikan alasan saat saya salah paham akan Bunda Maria, atau keberatan saya untuk memiliki patung Bunda Maria di rumah, berdoa dihadapan patung Bunda Maria, dsb dan ini pelan-pelan membuat saya berkeinginan mengenal Bunda Maria dengan lebih baik, lebih dalam lagi melalui pengajaran yang saya ikuti yang juga pada akhirnya menumbuhkan cinta dan hormat saya kepadanya.
Iman dan keterbukaan hati saya membantu saya dalam memahami dogma Maria. Rasanya kurang tepat kalau setelah mengerti dan menerima dogma Maria saya masih diliputi pertanyaan aneh atau keraguan. Karena semua kembali lagi kepada iman saya dan kehendak Allah. Tanpa iman, kerendahan hati dan kasih akan sulit menerima segala sesuatu yang
berhubungan dengan Bunda Maria. Dan saya juga mengingatkan diri saya sendiri bahwa tak ada kata cukup untuk mencintai dan mengenal Bunda Maria dan saya atau siapapun mungkin tak akan bisa mencintai Bunda Maria secara sempurna. Hanya Yesus yang telah mencintai Bunda
Maria dengan sempurna dan Bunda Maria juga telah mencintai Yesus dengan seluruh keberadaannya, karena itu pantas lah saya belajar dari Bunda Maria agar bisa mencintai Yesus seperti Bunda Maria mencintai-Nya yaitu dengan kerendahan dan ketulusan hati. Sebagai mana yang tertulis di Injil Lukas 1:38 “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadi lah padaku menurut perkataanmu itu.” Ini bukanlah hal mudah bagi saya untuk bisa menerima kehendak Tuhan dalam hidup saya. Terkadang saya bisa begitu yakin tetapi ada kalanya saya juga ragu kalau-kalau kehendak Tuhan itu tidak sesuai dengan kondisi atau keinginan diri saya, namun
saya selalu bisa datang kepada Bunda Maria untuk memohon rahmatnya agar saya mampu meneladani kerendahan dan ketulusan hatinya.


Ruth D’souza, Singapura 15 Oktober 2021

komsostidar