Renungan 30 Oktober 2021

“Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
Lukas 14:8-9

Ini adalah perumpamaan yang menarik. Pertama-tama, harus dicatat bahwa orang suci sejati tidak akan malu dengan penghinaan seperti itu. Sebaliknya, mereka dengan senang hati akan memberikan kursi kehormatan mereka kepada orang lain. Bahkan, mereka kemungkinan besar akan segera mengambil tempat “terendah”, karena bentuk kehormatan duniawi ini tidak berarti apa-apa bagi mereka. Tetapi Yesus tidak berbicara pada saat ini kepada orang-orang kudus yang hidup. Dia berbicara kepada orang-orang yang berjuang dengan keinginan untuk harga diri duniawi. Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang Yesus ajak bicara juga merasa tidak aman dan tidak memiliki harga diri yang sehat.

Yang indah adalah bahwa Yesus bertemu dengan orang-orang ini di mana mereka berada, memberi tahu mereka sebuah perumpamaan yang dapat mereka hubungkan. Ini adalah tamu-tamu yang hadir pada jamuan makan malam yang diadakan oleh salah satu orang Farisi terkemuka yang juga diundang oleh Yesus. Maksud Yesus adalah dengan lembut membagikan kepada mereka kebenaran bahwa kerendahan hati jauh lebih baik daripada kesombongan. Kegembiraan dan kehormatan sejati ditemukan dengan merendahkan diri sendiri dan mengangkat orang lain sebagai cara untuk menunjukkan martabat dan nilai bawaan mereka sebagai pribadi. Ini adalah pelajaran yang sulit untuk dipelajari.

Kebanyakan orang, ketika berada dalam sekelompok orang, akan berjuang untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain. “Dia lebih cantik” atau “Dia lebih sukses” atau “Mereka sangat terpelajar”, ​​dll. Kecenderungan umum ini sering kali muncul sebagai akibat dari rasa tidak aman secara pribadi. Namun, jika anda dapat benar-benar berdamai dengan siapa anda, jika anda mencintai diri sendiri seperti Tuhan mencintai anda, maka anda akan jauh lebih bebas untuk mencintai orang lain, melihat martabat mereka, dan bahkan bersukacita untuk mereka.

Yesus mengakhiri perumpamaan-Nya dengan mengatakan, “Karena setiap orang yang meninggikan diri akan direndahkan, tetapi siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.” Untuk pikiran sekuler yang normal, ini bisa menjadi kebenaran yang sulit untuk dipahami. Mungkin sulit untuk memahami nilai besar kerendahan hati. Tetapi kerendahan hati hanyalah melihat diri anda dalam terang kebenaran, dengan cara Tuhan melihat anda. Orang yang rendah hati tidak membutuhkan pujian dan penghargaan dari orang lain. Kasih Tuhan bagi mereka sudah cukup. Oleh karena itu, orang yang rendah hati tidak hanya mencintai dirinya sendiri seperti Tuhan mencintai mereka, tetapi mereka kemudian bebas untuk mengalihkan perhatiannya sepenuhnya pada kebaikan orang lain. Ini adalah cinta murni. Dan cinta ini hanya mungkin jika kerendahan hati dihayati sepenuhnya.

Renungkan, hari ini, atas ajaran Yesus yang lembut ini, yang diberikan kepada mereka yang sangat kekurangan kerendahan hati. Cobalah untuk melihat perhatian Yesus terhadap mereka dan keinginan-Nya untuk tidak mempermalukan mereka tetapi untuk membebaskan mereka dari beban berat ketidakamanan mereka. Jika anda salah satu yang berjuang dengan ini, renungkan Tuhan kita dengan lembut mengundang anda untuk merangkul kerendahan hati. Berdoalah untuk kebajikan ini dan amalkan dengan tulus. Ketahuilah bahwa pencapaian kebajikan ini akan membuka banyak pintu kebebasan dalam hidup anda.

Tuhanku yang rendah hati, Engkau mengenal Diri-Mu dengan sempurna dan mencintai jiwa suci-Mu sendiri dengan kasih yang sama yang Bapa di Surga miliki bagi-Mu. Tolong bantu saya untuk menemukan siapa saya. Bantu saya untuk melihat diri sendiri seperti Engkau melihat saya. Semoga saya tidak pernah terbebani oleh keinginan yang menyimpang akan kehormatan duniawi dan penghargaan duniawi. Sebaliknya, saya berdoa agar karunia kerendahan hati yang mulia ini akan hidup dalam jiwa saya. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan 29 Oktober 2021

Renungan 31 Oktober 2021 – HARI MINGGU BIASA KE XXXI


DATA MONITORING COVID-19 UMAT PAROKI ST ANDREAS TIDAR, MALANG

Silahkan mengisi Form di link ini untuk mendata umat terpapar covid
https://forms.gle/A2ZcCBSzMR9bi7aE7

Bagi umat yang kesulitan mengisi data, bisa meminta bantuan kepada Ketua Lingkungan masing-masing.

komsostidar