Renungan 10 November 2021

Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Lukas 17:17-19

Balasan dari Tuhan kita ini datang sebagai tanggapan terhadap seorang penderita kusta yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih kepada-Nya. Sepuluh orang kusta datang kepada Yesus, berdiri di kejauhan, berseru, “Yesus, Guru! Kasihanilah kami!” Dan dengan itu, Yesus menyembuhkan mereka semua. Tetapi inti dari penyembuhan ini bukanlah penyembuhan itu sendiri seperti halnya rasa syukur yang diungkapkan oleh hanya satu dari sepuluh.

Injil ini menceritakan kepada kita bahwa penderita kusta yang satu ini melakukan lima hal untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya secara mendalam. Dia kembali, memuliakan Tuhan, melakukannya dengan suara nyaring, tersungkur di kaki Yesus, dan berterima kasih kepada-Nya. Sungguh kesaksian yang luar biasa bagi kita semua!

Dengan analogi, anak-anak sering kali mengabaikan kasih sayang orang tua mereka. Itulah sebabnya banyak orang tua yang baik secara teratur mengingatkan anak-anak mereka untuk mengatakan “terima kasih.” Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita juga dapat dengan mudah menerima tindakan penyelamatan Tuhan begitu saja. Kita dapat dengan mudah melihat semua anugerah yang kita terima sebagai sesuatu yang pantas kita terima daripada sebagai hadiah yang penuh belas kasihan. Ketika itu terjadi, kita menjadi lebih seperti sembilan lainnya yang gagal mengungkapkan rasa terima kasih mereka dengan benar kepada Yesus.

Pertama-tama, harus dicatat bahwa mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan tidak dilakukan karena Tuhan membutuhkan penghargaan ini. Dia tidak bergantung pada rasa syukur kita untuk menegaskan harga diri-Nya. Ini jelas. Tuhan adalah Tuhan, dan Dia tidak membutuhkan pujian kita dengan cara apapun. Namun, memberikan pujian yang mendalam dan kemuliaan kepada Tuhan adalah penting. Hal ini penting karena kita membutuhkan kebajikan syukur ini agar setiap hari diingatkan bahwa semua yang kita terima dari Tuhan adalah pemberian yang cuma-cuma. Kita tidak pantas mendapatkannya. Tetapi Dia memilih untuk memberikannya karena belas kasihan. Dan satu-satunya tanggapan yang tepat terhadap belas kasihan adalah rasa terima kasih. Rasa syukur yang mendalam.

Syukur itu penting karena itu adalah kebenaran. Kita harus selalu kembali kepada Tuhan kita setelah Dia memberkati kita. Kita harus memuliakan Dia dengan penuh semangat, berseru kepada-Nya dengan penuh semangat. Kita harus, secara harfiah dan batiniah, tersungkur di hadapan-Nya, di kaki-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya, berulang-ulang. Melakukan hal itu akan selalu membantu kita untuk mengingat kebenaran bahwa semua yang kita miliki dan semua diri kita adalah pemberian dari Tuhan.

Renungkan, hari ini, pada kedalaman rasa syukur di dalam hati anda sendiri. Apakah anda sering bertindak lebih seperti anak manja dan egois, atau apakah anda secara teratur merasakan kemurahan Tuhan? Jika anda kekurangan rasa syukur, maka renungkanlah orang kusta yang satu ini. Rasa terima kasihnya, yang diungkapkan dengan penuh semangat, adalah bagian terpenting dari cerita ini. Pada akhirnya, dia diberkahi jauh lebih banyak daripada sembilan lainnya karena penyembuhannya menghasilkan iman; dan iman itulah yang menyelamatkan tidak hanya tubuhnya tetapi juga jiwanya. Berusahalah untuk menyelamatkan jiwa anda dengan meniru iman orang kusta yang suci dan sembuh ini.

Tuhanku yang pemurah, Engkau melimpahkan rahmat-Mu kepadaku dalam kelimpahan. Tanpa-Mu, Yesus, aku tidak punya apa-apa; tetapi denganMu, aku menerima segalanya. Semoga aku selalu tahu dan mengerti kebutuhan akan kasih karunia-Mu. Dan karena diriku dikaruniai dengan itu, semoga aku menanggapi dengan rasa syukur yang terdalam, dengan demikian, menyelamatkan jiwaku sendiri melalui iman. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan 09 November 2021 Renungan 11 November 2021


DATA MONITORING COVID-19 UMAT PAROKI ST ANDREAS TIDAR, MALANG

Silahkan mengisi Form di link ini untuk mendata umat terpapar covid
https://forms.gle/A2ZcCBSzMR9bi7aE7

Bagi umat yang kesulitan mengisi data, bisa meminta bantuan kepada Ketua Lingkungan masing-masing.

komsostidar