Fri. Dec 2nd, 2022
renungan harian katolik

Renungan Harian Katolik, Senin 29 Agustus 2022
Peringatan Sengsara St Yohanes Pembaptis

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Matius 6:25-27

Kisah sedih ini, tentang pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis, mengungkapkan banyak hal kepada kita. Ini mengungkapkan, di atas segalanya, misteri kejahatan di dunia kita dan kehendak Tuhan yang mengizinkan kejahatan, kadang-kadang, berkembang.

Mengapa Tuhan mengizinkan St.Yohanes dipenggal? Dia adalah pria yang hebat. Yesus sendiri berkata bahwa tidak ada seorang pun yang lahir dari wanita yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Namun, Dia membiarkan Yohanes menderita ketidakadilan yang besar ini.

St Teresa dari Avila pernah berkata kepada Tuhan kita, “Tuhan yang terkasih, jika beginilah cara-Mu memperlakukan teman-teman-Mu, tidak heran jika jumlah-Mu sangat sedikit!” Ya, Tuhan dengan jelas telah membiarkan orang-orang yang Dia kasihi sangat menderita sepanjang sejarah. Apa makna ini bagi kita?

Pertama-tama, kita tidak boleh melupakan fakta nyata bahwa Bapa membiarkan Anak sangat menderita dan dibunuh dengan cara yang mengerikan. Kematian Yesus sangat brutal dan mengejutkan. Apakah ini berarti Bapa tidak mengasihi Anak? Tentu tidak. Jadi apa artinya ini?

Faktanya adalah bahwa penderitaan bukanlah tanda ketidaksenangan Tuhan. Jika kita menderita dan tidak diberi kebebasan oleh Tuhan, itu bukan karena Tuhan telah meninggalkan kita. Bukannya Dia tidak mencintaimu. Faktanya, justru malah kebalikannya.

Penderitaan Yohanes Pembaptis, pada kenyataannya, adalah khotbah terbesar yang pernah ia khotbahkan. Itu adalah kesaksian akan kasihnya yang tak tergoyahkan kepada Tuhan dan komitmennya yang sepenuh hati terhadap kehendak Tuhan. “Khotbah” sengsara Yohanes sangat kuat karena dia memilih untuk tetap setia kepada Tuhan kita terlepas dari penganiayaan yang dia alami. Dan, dari sudut pandang Tuhan, kesetiaan Yohanes jauh lebih berharga daripada kehidupan fisiknya yang berkelanjutan atau penderitaan fisik yang dia alami.

Renungkan, hari ini, pada kehidupan kita sendiri. Kadang-kadang kita memikul salib yang berat dan memohon kepada Tuhan untuk mengambilnya dari kita. Sebaliknya, Tuhan memberi tahu kita bahwa kasih karunia-Nya cukup dan bahwa Dia ingin menggunakan penderitaan kita sebagai kesaksian kesetiaan kita. Jadi, tanggapan Bapa kepada Yesus, tanggapan-Nya kepada Yohanes dan tanggapan-Nya kepada kita adalah panggilan untuk masuk ke dalam misteri penderitaan kita dalam hidup ini dengan iman, harapan, keyakinan dan kesetiaan. Jangan pernah biarkan kesulitan hidup menghalangi kita dari kesetiaan kita terhadap kehendak Tuhan.

Tuhan, semoga diriku memiliki kekuatan Putra-Mu dan kekuatan St. Yohanes Pembaptis saat aku memikul salib dalam hidup. Semoga diriku tetap kuat dalam iman dan dipenuhi dengan harapan ketika aku mendengar Engkau memanggil untuk merangkul salibku. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan Harian Katolik 28 Agustus 2022 – HARI MINGGU BIASA XXII

Renungan Harian Katolik 30 Agustus 2022


DATA MONITORING COVID-19 UMAT PAROKI ST ANDREAS TIDAR, MALANG

Silahkan mengisi Form di link ini untuk mendata umat terpapar covid
https://forms.gle/A2ZcCBSzMR9bi7aE7