Category: katekese

  • Katekese Mengenai Usia Lanjut Oleh Paus Fransiskus – “Janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis” (Mzm 71,9)

    Katekese Mengenai Usia Lanjut
    Oleh Paus Fransiskus

    “Janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis”
    (Mzm 71,9)

    Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

    Doa indah yang orangtua yang kita temukan dalam Mzm 71, yang telah kita dengarkan, mendorong kita untuk merenungkan tekanan nyang kuat yang terdapat pada usia lanjut, ketika kenangan kesuksesan karya dan berkat yang diterima ditempatkan pada ujian iman dan pengharapan.

    Cobaan sudah hadir dalam kelemahan yang menyertai perubahan hidup usia lanjut melalui kerapuhan dan kerentanan. Dan Pemazmur – orangtua yang berseru kepada Allah – secara jelas menyebutkan kenyataan bahwa proses menua ini menjadi kesempatan bagi pengabaian, penipuan dan kepalsuan yang kadang memangsa orangtua. Suatu bentuk sikap pengecut yang sering terjadi di masyarakat kita. Ini benar! Dalam masyarakat yang membuang, budaya yang membuang, orangtua itu disingkirkan dan mengalami kondisi ini. Sungguh, tidak sedikit orang yang mengambil keuntungan dari usia lanjut, untuk menipu dan mengancam mereka dalam berbagai cara. Seringkali, kita membaca di surat kabar atau mendengar berita mengenai orangtua yang sengaja ditipu dalam soal tabungan, atau ditinggalkan tanpa jaminan atau ditinggalkan tanpa perawatan; atau ditekan dengan aneka perlakuan dan diancam untuk menyatakan hak mereka. Kekejaman ini juga terjadi di keluarga – dan ini serius, tapi juga memang terjadi di keluarga. Menolak orangtua, meninggalkannya di rumah jompo, tanpa anak-anak yang mengunjungi mereka, atau jikapun mengunjungi, mereka setahun hanya beberapa kali mengunjungi. Orangtua diletakkan di sudut eksistensi. Dan situasi seperti terjadi: pada masa sekarang, di keluarga-keluarga, dan terjadi sepanjang waktu. Kita harus merenungkannya.

    Seluruh masyarakat harus sungguh-sungguh merawat orangtua – mereka adalah harta! – yang dalam jumlah semakin bertambah dan sering lebih ditinggalkan. Kita mendengar orangtua yang kecewa dengan otonomi mereka, atau jaminan hidup mereka, bahkan rumah mereka, kita memahami bahwa ¬ambivalensi masyarakat sekarang ini terkait dengan orangtua bukanlah masalah darurat sesaat, melainkan wajah dari budaya membuang yang meracuni dunia di mana kita hidup ini. Orangtua dalam Mazmur menyatakan keputusasaannya kepada Allah : “…musuh- musuhku berkata tentang aku..”, katanya. “Orang-orang yang mengincar nyawaku berunding bersama,” dan katanya “ Allah telah meninggalkan dia; kejar dan tangkaplah dia, sebab tidak ada yang melepaskan dia” (ay. 10-11)

    Konsewensi atas hal ini fatal. Orangtua tidak hanya kehilangan martabatnya, tetapi juga ragu bahwa hidupnya layak dilanjutkan. Dengan cara demikian, kita semua dicobai untuk menyembunyikan kerapuhan, sakit kita, usia kita dan senionaritas kita, karena kita takut bahwa mereka menjadi awal kehilangan martabat kita. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri: Apakah manusiawi menyebabkan perasaan seperti ini? Mengapa peradaban modern, yang maju dan efisien ini, sangat tidak nyaman dengan sakit dan usia lanjut? Mengapa sakit harus disembunyikan, orangtua harus disembunyikan? Dan mengapa para politis yang nampak sangat membela batas-batas kehidupan, pada saat yang sama menjadi tidak sensitif terhadap martabat kehidupan bersama penuh kasih dengan orang tua dan orang sakit?

    Orangtua dalam Mazmur telah mendengar, orangtua ini yang melihat usianya sebagai kekalahan, menemukan kembali kepercayaannya kepada Tuhan. Dia merasa membutuhkan bantuan. Dan ia berpaling kepada Allah. Santo Agustinus, ketika berkomentar mengenai mazmur ini, mendorong para orangtua : “Jangan takut, apakah kamu disingkirkan dalam kelamahan anda, pada masa lanjut… Mengapa kamu takut bahwa Dia akan meninggalkanmu, bahwa Dia akan menyingkirkanmu pada usia lanjut, ketika kekuatanmu hilang? Ya ketika kekuatanmu melemah, pada saat itu juga dalam dirimu akan ada kekuatan-Nya (Eksposisi Mengenai Mazmur 36,881-882). Dan orangtua dalam Mazmur berseru : “Lepaskahlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku” (ay 2-3). Seruan ini menyatakan kesetiaan Allah dan kemampuan Allah untuk membangkitkan kesaadaran yang hampir pudar oleh ketidakpekaan atas rentang usia hidup yang harus dilidungi secara menyeluruh. Ia berjuga lagi demikian : “Ya Allah janganlah jauh dari padaku! Allahku segeralah menolong aku! Biarlah mendapat malu dan menjadi habis orang-orang yang memusuhi jiwaku; biarlah berselubungkan cela dan noda orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku! (ay 12-13).

    Sungguh, rasa malu akan jatuh kepada mereka yang mencari keuntungan dari kelemahan orang sakit dan usia lanjut. Doa membaharui dalam hati orangtua ini janji setia Allah dan berkat-Nya. Orangtua menemukan kembali doa dan memberikan kesaksian mengenai kekuatan doa.Di dalam Injil, Yesus tidak pernah menolak doa orang yang membutuhkan pertolongan. Melalui keutamaan kelemahan mereka, orangtua dalam mengajari mereka yang hidup di usia lain mengenai apa yang kita butuhkan untuk menyerahkan diri kita kepada Allah, untuk meminta pertolongan-Nya. Dalam hal ini, kita semua harus belajar dari usia lanjut: ya. Ada berkat dengan menjadi tua, dimengerti sebagai meninggalkan diri sendiri untuk dirawat oleh orang lain, mulai dengan Allah sendiri.

    Di sana juga ada “magisterium tentang kerapuhan”. Jangan menyembunyikan kerapuhan. Jangan. Mereka itu sungguh nyata dan ada magisterium kerapuhan, di mana usia lanjut mampu mengingatkan kita mengenai jalan-jalan yang terpercaya bagi seluruh tahap usia kehidupan. Jangan menyembunyikan usia lanjut, jangan menyembunyikan kerapuhan usia lanjut. Kerapuhan itu adalah sebuah pengajaran bagi kita semua. Pengajaran ini membuat cakrawala penting bagi pembaharuan peradaban kita. Sebuah pembaharuan yang harus dilakukan bagi keuntungan hidup bersama secara keseluruhan. Marginalisasi orangtua – konseptual maupun praktikal – merusak musim-musim kehidupan, tidak hanya usia lanjut. Masing-masing dari kita dapat berpikir sekarang ini mengenai orangtua dalam keluarga anda: Bagaimana aku berelasi dengan mereka? Apakah aku mengenangnya? Apakah aku mengunjunginya? Apakah aku berusaha memastikan bahwa mereka tak berkekurangan suatupun? Apakah aku menghormatinya? Orangtua dalam keluarga” ayah, ibu, kakek-nenek, bibi dan paman, sahabat … Apakah aku sudah menghapus mereka dalam hidup saya? Atau apakah datang kepada mereka untuk memperoleh kebijaksanaan, kebijaksanaan hidup? Ingatlah bahwa anda juga akan menjadi tua. Usia lanjut kena pada semua orang. Dan perlakukan orangtua sekarang ini sebagaimana anda ingin diperlakukan ketika anda sudah tua. Mereka adalah memori dalam keluarga, memori kemanusiaan, memori bangsa. Lindungilah orangtua, mereka adalah kebijaksanaan. Semoga Tuhan memberikan rahmat kepada orangtua yang menjadi bagian dari Gereja kemurahan hati seruan dan provokasi ini. Semoga kepercayaan kepada Allah ini menyebar kepada kita. Dan ini adalah untuk kebaikan bagi semua orang, mereka, kita dan anak-anak kita.

  • Katekese Mengenai Usia Lanjut (3) – Oleh Paus Fransiskus

    Katekese Mengenai Usia Lanjut (3)
    Oleh Paus Fransiskus

    USIA LANJUT, SUMBER BAGI MASA MUDA YANG CERIA

    Saudara-saudariku terkasih. Selamat pagi!
    Kisah Kitab Suci —dengan bahasa simbolis masa penulisannya—mengatakan kepada kita hal mengesankan: Allah begitu pilu hatinya oleh kejahatan manusia yang meluas, yang sudah dianggap sebagai cara hidup yang wajar, sehingga Allah menyesal menciptakan mereka dan memutuskan untuk menghapusnya. Sebuah solusi radikal. Sebuah solusi yang membalik paradoks belaskasih. Tidak ada lagi manusia, tidak ada lagi sejarah, tidak ada lagi cobaan, tidak ada lagi penghukuman. Dan banyak korban karena penyimpangan, kekerasan dan ketidakadilan akan diampuni selalu.

    Bukankah hal ini juga kadang-kadang terjadi pada kita – diliputi rasa tidak berdaya melawan kejahatan atau didesmoralisasi oleh “nabi-nabi kemalangan” – berpikir bahwa lebih baik tidak pernah dilahirkan? Haruskah kita percaya akan teori-teori baru ini, yang menyatakan bahwa spesies manusia sebagai bahaya evolusi kehidupan di planet kita? Apakah semua negatif? Tidak.

    Faktanya, kita berada di bawah tekanan, dihadapkan pada tekanan yang berbeda membingungkan kita. Di satu sisi, kita optimis akan usia muda abadi, tercerahkan karena kemajuan teknologi yang luar biasa, yang menggambarkan masa depan yang penuh dengan mesin yang lebih efisien dan lebih cerdas dari kita, yang akan menyembuhkan kita dari penyakit kdan memberikan solusi terbaik bagi kita untuk tidak meninggal: dunia robot. Di satu sisi, banyangan kita nampaknya semakin lama semakin mengerucut pada gambaran kehancuran akhir yang akan memusnahkan kita. Hal itu terjadi jika ada perang nuklir. “Hari sesudah” itu semua terjadi – jika kita masih hidup, masih ada hari dan masih ada manusia – kita akan memulai hidup dari nol. Menghacurkan semua dan memulainya dari nol. Tentu saja saya tidak bermaksud meremehkan kemajuan. Tapi nampaknya simbol air bah itu mulai menguasai alam bahwa sadar kita. Pandemi saat ini, lebih jauh lagi, secara serius menghilangkan keceriaan kita pada hal-hal yang penting, bagi hidup dan masa depan.

    Dalam perikop Kitab Suci, ketika mendalami bagaimana menyelamatkan kehidupan bumi dari kehancuran dan air bah, Allah mempercayakan karya itu kepada orang beriman yang paling tua dari semua, kepada Nuh yang “lurus hati”. Akankah usia lanjut menyelamatkan dunia, saya bertanya? Dalam hal apa? Bagaimana usia lanjut itu menyelamatkan dunia? Dalam perspektif apa? Apa ada hidup setelah kematian atau bertahan hidup sampai datang banjir?
    Sabda Yesus, yang mengingatkan “hari-hari Nuh”, membantu kita untuk mendalami makna kutipan Kitab Suci yang telah kita dengarkan. Ketika berbicara tentang akhir jaman, Yesus berkata “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua” (Luk 17,26-27). Padahal, makan dan minum, kawin dan dikawinkan adalah hal yang biasa dan bukan contoh kebobrokan hidup. Dimana kebobrokan hidupnya? Di mana kebobrokan hidup di sana? Sebenarnya, Yesus menyatakan bahwa manusia, ketika mereka membatasi diri untuk menikmati hidup, mereka kehilangan persepsi mengenai kebobrokan hidup, yang mematikan martabat dan meracuni arti hidup. Ketika orang kehilangan persepi mengenai kebobrokan hidup, dan kebobrokan hidup itu menjadi wajar: semua itu ada harganya, semua! Membeli, menjual, pendapat, tindakan keadilan…… dalam dunia dagang, dalam dunia dengan banyak profesi, adalah hal yang wajar. Dan mereka hidup tanpa kecemasan akan kebobrokan hidup, seakan-akan hal itu wajar bagi kesejahteraan hidup manusia. Ketika anda melakukan sesuatu dan lambat, proses untuk melakukannya itu sedikit lambat, sering kali kita mendengar kata ini: “namun, jika anda memberi saya tambahan, saya akan mempercepatnya”. Sering kali. “ Beri saya sesuatu dan saya akan mendahulukan”. Kita semua tahu benar. Kebobrokan dunia nampaknya menjadi normal bagi manusia; dan ini buruk. Pagi hari ini saya berbicara dengan seorang bapak yang mengisahkan kepada saya masalah di daerahnya. Kekayaan hidup itu dikuasai dan dinikmati tanpa perduli terhadap kualitas rohani hidup, tanpa melindungi habitat rumah bersama. Semua diekploitasi, tanpa perduli kematian dan kehancuran yang diderita oleh banyak orang, dan tanpa perduli akan keburukan yang meracuni komunitas. Sementara hidup normal itu dapat penuh dengan “kesejahteraan”, kita tidak mau memikirkan kekosongan keadilan dan cinta. “Tetapi, saya baik-baik saja! Mengapa saya harus mengurusi masalah, perang, penderitaan manusia, banyaknya kemiskinan, banyaknya kejahatan? Tidak, saya baik-baik saja. Orang lain tidak penting”. Inilah pikiran bawah sadar yang membawa kita masuk dalam situasi kebobrokan hidup.

    Saya bertanya-tanya, apakah kebobrokan hidup itu menjadi hal yang wajar? Saudara-saudari, hal ini sangat disayangkan. Anda dapat menghirup udara kebobrokan hidup saat anda menghirup oksigen. “Namun itu wajar; Jika anda ingin saya mengerjakannya dengan cepat, berapa banyak yang akan anda berikan kepada saya?” Itu biasa! Itu wajar, tapi jelek, itu tidak baik! Jalan apa yang dibuka dengan ini? Satu hal: kesenangan untuk diri sendiri: ini adalah jalan yang membuka pintu kebobrokan hidup yang menenggelamkan kehidupan setiap orang. Kebobrokan hidup mengambil keuntungan besar dari kesenangan seperti ini. Ketika orang berpikir bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak peduli dengan orang lain: ketidakpedulian ini melemahkan pertahanan kita, mengaburkan hati nurani kita dan membuat kita—bahkan tanpa sadar—menjadi kaki tangannya. Karena kebobrokan hidup tidak pernah berjalan sendiri: selalu memiliki kaki tangan. Dan kebobrokan hidup selalu menyebar, menyebar.

    Usia lanjut berada dalam posisi untuk menangkap penipuan dari kenormalan hidup yang terobsesi dengan kesenangan dan tanpa kedalaman ini: hidup tanpa pemikiran, tanpa pengorbanan, tanpa kedalaman hidup, tanpa keindahan, tanpa kebenaran, tanpa keadilan, tanpa cinta: ini semua adalah kebobrokan hidup. Kepekaan khusus kita sebagai orangtua karena sikap perhatian kita, pikiran dan kasih sayang yang membuat kita lebih manusiawi, sekali lagi harus menjadi panggilan bagi banyak orang.

    Dan itu akan menjadi pilihan cinta para lanjut usia kepada generasi baru. Kita akan menjadi orang yang memberikan alarm, peringatan: “Hati-hati, ini kebobrokan hidup, tidak akan membawa anda kemanapun.” Kebijaksanaan para lanjut usia sangat diperlukan, hari ini, untuk melawan kebobrokan hidup. Generasi baru mengharapkan dari kita yang lebih tua, dari kita lanjut usia, sebuah kata nubuat, yang membuka pintu ke perspektif baru di luar dari dunia yang tidak peduli dengan kebobrokan hidup ini, dari kebiasaan hal-hal buruk. Berkat Allah datang kepada usia lanjut, karena kharisma yang begitu manusiawi dan memanusiakan ini. Apa arti usia lanjut saya? Masing-masing dari kita yang lebih tua dapat bertanya pada diri sendiri. Artinya adalah ini: menjadi nabi dalam kebobrokan hidup dan menyerukan kepada orang lain: “Berhenti, saya telah menempuh jalan itu dan itu tidak membawa anda ke mana-mana! Sekarang saya ceritakan pengalaman saya. Kita para lanjut usia harus menjadi nabi melawan kebobrokan hidup, sebagaimana Nuh menjadi nabi melawan kebobrokan hidup pada zamannya, karena di adalah orang satu-satunya yang dipercaya Tuhan. Saya bertanya kepada anda semua, dan saya juga bertanya pada diri sendiri: apakah hati saya terbuka untuk menjadi nabi melawan kebobrokan hidup sekarang ini? Ada hal jelek, ketika orang usia lanjut belum matang dan menjadi orang tua bersama kebobrokan hidup yang sama dengan yang beusia muda. Mari kita renungkan kisah Kitab Suci dari para hakim Susana: mereka adalah contoh dari usia lanjut yang bobrok. Dan kita, dengan usia lanut yang seperti itu, kita tidak akan dapat menjadi nabi bagi generasi yang lebih muda.

    Dan Nuh adalah contoh generasi usia lanjut: dia tidak bobrok hidupnya, ia memberi hidup. Nuh tidak berkotbah, dia tidak mengeluh, dia tidak ikut-ikutan, sebaliknya ia lebih merawat masa depan generasi yang sedang berada dalam bahaya. Kita, orang lanjut usia, harus merawat anak muda, anak-anak, yang berada dalam bahaya. Ia membuat perahu penerimaan dan membiarkan manusia dan binatang masuk ke dalamnya. Dalam keperduliannya terhadap hidup, dalam semua jenisnya, Nuh taat pada kehendak Allah, mengulang kembali ungkapan kelembutan dan kemurahaan penciptaan, yang pada kenyataannya, merupakan pemahaman mendalam yang mengalr dari kehendak Allah: sebuah berkat, sebuah ciptaan baru (bdk. Kej 8,15-9,17). Panggilan Nuh selalu sesuai untuk jaman sekarang. Bapa yang suci ini masih berdoa untuk kita. Dan kita, pria dan wanita dari usia tertetntu – untuk tidak mengatakan lanjut usia, karena beberapa menolak – jangan lupa bahwa kita memiliki peluang kebijaksaaan, untuk mengatakan kepada orang lain: “Lihatlah, jalan penyimpangan ini tidak membawa anda kemana-mana”. Kita harus menjadi seperti anggur yang baik, ketika pada masa tua masih mampu menyampaikan pesan yang baik dan bukan yang. buruk.
    Sekarang ini, saya mengundang semua orang yang berusia tertentu, untuk tidak mengatakan lanjut usia. Waspadalah: kalian mempunyai tanggungjawab untuk melawan kebobrokan hidup yang di dalamnya kita hidup dan cara hidup relativisme melaju, sepenuhnya relatif, seakan-akan semuanya itu layak. Mari kita terus melangkah maju. Dunia membutuhkan anak-anak muda yang kuat yang maju ke depan, dan para lanjut usia yang bijak. Marilah kita memohon kepada Tuhan rahmat kebijaksanaan.

    Bacaj juga :
    Katekese Kakek Nenek Usia Lanjut 10 Juli 2022

  • Katekese Mengenai Usia Lanjut

    Katekese Mengenai Usia Lanjut
    Oleh Paus Fransiskus

    Rahmat Waktu dan Perjanjian Seumur hidup

    Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!
    Kita telah menyelesaikan katekese tentang Santo Yosef. Pada hari ini kita mengawali perjalanan katekese menggali inspirasi dari Sabda Tuhan tentang makna dan nilai usia lanjut. Mari kita merenungkan tentang usia lanjut. Selama beberapa puluh tahun ini, tahap kehidupan ini dipusatkan pada sebuah “kelompok baru” yang dikelompokkan sebagai orang lanjut usia. Tidak pernah terjadi jumlah orang tua seperti kita yang demikian besar dalam sejarah manusia. Risiko untuk dibuang itu lebih sering terjadi; tidak pernah sebanyak sekarang ini, resiko dibuang juga tidak pernah sebanyak ini. Para lanjut usia sering dianggap sebagai “beban”. Pada masa awal pandemi yang dramatis, merekalah yang membayar harga tertinggi. Mereka menjadi kelompok yang paling lemah dan terabaikan: kita tidak begitu memperhatikan mereka ketika mereka masih hidup, bahkan kita tidak melihat mereka meninggal. Saya juga menemukan Piagam Hak-Hak Orangtua dan kewajiban-kewajiban masyarakat: piagam ini dikeluarkan oleh pemerintah, tidak oleh Gereja, itu persoalan sekuler: piagam itu baik, menarik, untuk mengakui bahwa orangtua itu memiliki hak. Sangat baik piagam itu dibaca.

    Bersamaan dengan isu migrasi, usia lanjut menjadi isu yang paling mendesak yang dihadapi oleh umat manusia sekarang ini. Ini bukan hanya soal perubahan kuantitatif; kesatuan antar tahap kehidupan itu ada dalam permaianan; yaitu, titk acuan riil dalam memahami dan menghargai hidup manusia secara menyeluruh. Kita dapat bertanya pada diri kita sendiri: apakah ada persaudaraan, apakah ada kerjasama antar tahap kehidupan yang berbeda itu atau apakah ada pemisahan dan penolakan?

    Kita semua hidup di masa kini dimana anak-anak, remaja, orang dewasa, dan orang tua hidup secara berdampingan. Namun porsinya sudah berubah: mereka yang berusia panjang semakin berkembang dan meluas (fenomena), sementara usia kanak-kanak di berbagai tempat jumlahnya sedikit. Kita telah membahas soal musim dingin demografis; ketidakseimbangan ini menyertakan banyak konsekwensi. Budaya yang dominan menjadikan usia muda sebagai model, orang yang selalu awet muda. Namun, apakah benar bahwamakna kehidupan manusia itu berpuncak pada usia muda , sementara usia lanjut hanya dipandang sebatas sebagai kekosongan atau kehilangan? Apakah benar demikian? Pengagungan usia muda sebagai satu-satunya usia yang mulia dalam hidup manusia, disertai dengan perendahan usia lanjut sebagai kerapuhan, penurunan atau ketidakmampuan, telah menjadi icon dominan dari totalitarianisme abad XX. Apakah kita sudah melupakannya?

    Panjangnya usia itu berpengaruh secara struktural dalam sejarah individu, keluarga dan masyarakat. Tapi kita perlu bertanya pada diri kita sendiri: Apakah kualitas rohani dan kepekaan pemahaman dan kasih itu seleras dengan kenyataan itu? Haruskah orang tua meminta maaf atas ketegaran hati mereka untuk dapat bertahan hidup dengan mengorbankan orang lain? Atau dapatkan mereka dihormati atas berkat arti hidup yang telah diberikannya kepada setiap orang? Faktanya, dalam menghadirkan arti hidup – dan tepatnya disebut budaya yang “berkembang” – usia lanjut tidak banyak diperhitungkan. Mengapa demikian? Karena usia lanjut dipandang tidak ada isi penting untuk dapat diberikan, dan juga tidak mempunyai arti untuk dihidupi. Lebih lagi, keinginan banyak orang untuk mendalaminya itu kurang, dan pendidikan yang mengajarkan pengenalan itu juga kurang. Singkatnya, bagi sebuah usia yang menjadi bagian penting ruang publik dan berlangsung selama sepertiga kehidupan, kadang – dan sering kali- ada program bantuan, tetapi tidak ada program untuk keberadaan hidup. Program bantuan, ya; tetapi tidak ada program untuk membantu mereka hidup secara penuh. Hal ini menunjukan kekosongan pikiran, imaginasi dan kreatifitas. Dalam cara berpikir seperti ini, yang kosong ini, usia lanjut menjadi barang buangan: dalam budaya membuang, orang usia lanjut tergolong sebagai barang buangan.

    Usia muda itu indah, tetapi usia muda yang abadi itu adalah sebuah halusinasi yang berbahaya. Menjadi tua itu penting – dan indah – sama pentingnya menjadi muda. Kita perlu mengingatnya. Kesatuan antar generasi, yang menempatkan kembali aneka tahap usia dalam kehidupan manusia, adalah anugerah kita yang telah hilang dan harus kita kembalikan. Kesatuan antar generasi itu harus ditemukan, dalam budaya membuang dan budaya produktif ini.

    Sabda Allah banyak bicara mengenai perjanjian ini. Beberapa waktu yang lalu kita mendengarkan nubuat Yoel: “orang-orang yang tua akan mendapatkan mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan” (2.28). Teks ini dapat ditafsirakan sebagai berikut: ketika orang-orang tua melawan Roh Kudus, mengubur mimpi-mimpi di masa lalu, anak muda tidak akan mampu melihat apa saja yang harus dilakukan untuk membuka masa depan. Namun demikian, ketika orang usia lanjut menyampaikan mimpi-mimpi itu, anak muda akan dapat melihat dengan jelas apa harus dilakukan. Anak muda yang tidak lagi bertanya soal mimpi-mimpi orang tua, mengenal visi yang tidak jauh dari hidungnya, akan berjuang menghidupi masa kini dan melahirkan masa depan. Jika kakek nenek tenggelam dalam kesedihan, orang-orang muda akan lebih tenggelam dalam smartphone mereka. Layarnya akan tetap menyala, tetapi nyalanya akan padam sebelum waktunya. Bukankan dampak yang paling parah dari pandemi ini mungkin justru pada hilangnya anak-anak muda? Orang lanjut usia sudah memiliki kemampuan hidup yang karena pengalaman hidupnya dan dapat dikeluarkan kapan saja. Akankan mereka berdiam dan melihat anak-anak muda kehilangan visi hidup mereka, ataukah mereka akan menemani mereka dengan membangkitkan impian mereka? Berhadapan dengan mimpi orang usia lanjut, apa yang akan dibuat oleh anak-anak muda?

    Kebijaksanaan perjalanan panjang, yang menemani usia lanjut sampai akhir hidupnya, harus dialami sebagai suatu penawaran arti hidup, bukan dihabiskan sebagai penantian akhir kehidupan. Jika usia lanjut tidak dipulihkan martabat hidupnya secara manusiawi dan layak, maka usia lanjut dipastikan akan terkungkung dalam keputusasaan yang merampas cinta dari semua orang. Tantangan kemanusiaan dan perabadan ini menuntut kesungguhan kita dan pertolongan Allah. Marilah kita memohonkannya kepada Roh Kudus. Melalui katekese usia lanjut ini, saya ingin mendorong semua orang untuk mencurahkan pikiran dan kasih sayang dalam berkat-berkat yang mereka bawa dan pada tahap-tahap kehidupan lainnya. Usia lanjut merupakan anugerah bagi semua tahap kehidupan. Usia lanjut adalah anugerah kedewasaan, anugerah kebijaksanaan. Firman Tuhan akan membantu kita untuk membedakan arti dan nilai usia lanjut. Semoga Roh Kudus juga memberi kita mimpi dan penglihatan yang kita perlukan.

    Dan saya ingin menegaskan, sebagaimana kita dengarkan dari awal nubuat Yoel, yang penting bukan hanya para lanjut usia menguasai kebijaksanaan yang dimilikinya , kebijaksanaan sejarah masyarakat, tetapi di sana juga ada perbincangan antara mereka dengan anak muda. Anak muda harus berbincang dengan para lanjut usia, dan lanjut usia dengan anak-anak muda. Dan jembatan ini akan menjadi penghubung kebijaksanaan hidup manusia. Saya berharap bahwa renungan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, untuk meneruskan apa yang dikatakan oleh Nabi Yoel, bahwa, dalam dialog antara anak muda dan orang lanjut usia , para orang lanjut usia dapat memberikan impian mereka dan anak muda dapat menerima dan meneruskannya. Jangan kita lupa bahwa dalam budaya keluarga maupun masyarakat, para lanjut usia itu seperti akar pohon: di dalam akar itu ada seluruh sejarah, dan anak-anak muda itu seperti bunga dan buah. Jika sari kehidupan tidak mengalir, jika “tetasan ini” – katakankanlah – tidak mengalir dari akarnya, tanaman itu tidak akan pernah berbunga. Jangan lupa puisi yang sering saya kutip: “Bunga yang muncul dari pohon itu datang dari yang terkubur” (Francisco Luis Bernandez). Segala sesuatu yang indah yang dimiliki masyarakat itu berkaitan dengan akar mereka, orang lanjut usia. Maka dari itu, dalam katekese ini, saya ingin supaya figur orang lanjut usia ini muncul, supaya dimengerti benar bahwa orang lanjut usia bukanlah barang buangan: orang lanjut usia adalah berkat bagi masyarakat.

    Baca juga :

    Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus
    Dalam Peringatan Hari Kakek Nenek dan Orangtua se Dunia II

    Katekese Kakek Nenek Usia Lanjut 10 Juli 2022

    Katekese Mengenai Usia Lanjut (3) – Oleh Paus Fransiskus – USIA LANJUT, SUMBER BAGI MASA MUDA YANG CERIA