Sejarah Paroki Tidar

RIWAYAT KELAHIRAN PAROKI TIDAR MALANG

Dua dasawarsa sudah usia paroki kita tercinta ini.Sebelum resmi menjadi sebuah paroki, tentu ada banyak kisah yang menjadikan umat di wilayah Tidar akhirnya bisa memiliki gedung Gereja sendiri dan menjadi sebuah paroki sendiri.

Semua itu berawal dari sebuah kerinduan sebagian umat Paroki Santa Maria Bunda Karmel, khususnya yang tinggal di wilayah II(Lingkungan St.Thomas, Lingkungan St.Paulus, dan Lingkungan St.Andreas) untuk bisa memiliki sebuah gereja sendiri.Bincang-bincang ringan antara Pastor Paroki yang waktu itu dijabat oleh Rm.A.Y.Soedibjo,O.Carm dengan umat, akhirnya terus berkembang menjadi sebuah pembicaraan yang serius.Ya, umat di wilayah II (Paroki Ijen), khususnya Lingkungan St Andreas, yang wilayahnya mulai dari jembatan Tidar, Lembah Dieng, dan sampai ke desa Karangwidoro menginginkan bisa memiliki sebuah gereja sendiri.Peristiwa ini berlangsung mulai tahun 90-an.

Dengan pesatnya pembangunan perumahan di wilayah Tidar, semakin banyaklah penambahan jumlah umat di lingkungan St.Andreas.Maka, keinginan umat untuk bisa memiliki sebuah Gereja sendiri semakin kuat.Keinginan tersebut semakin diperkuat karena kapasitas gereja Ijen dengan 5 kali misa setiap minggunya sudah tidak bisa menampung lagi.Gayungpun bersambut.Ketika umat Lingkungan Santo Andreas menginginkan memiliki sebuah gereja sendiri, ternyata Keuskupan Malang juga memiliki tanah di wilayah Tidar.

Maka pada tanggal 17 Mei 1992, Msgr.H.J.S.Pandoyoputro, O.Carm mengeluarkan SK pengangkatan Panitia Pembangunan Gereja.Ketua Panitia yang ditunjuk waktu itu adalah :
Ketua I – Bpk.R.P.Budi Martojo
Ketua II – Bpk.John Deru Moi
Ketua III – Bpk.F.X.Soemarmo

Satu bulan kemudian, tanggal 22 Juni 1992, Bapa Uskup mengeluarkan Surat Rekomendasi yang berisi perlunya segera dibangun gereja baru di derah perumahan Tidar, dan segera diselesaikan segala kelengkapannya.

Panitia sudah terbentuk, tetapi langkah masih jauh.Apalagi masih ada beberapa kendala yang masih harus dihadapi.Khususnya dari pihak-pihak eksternal.Doa dari segenap umat serta dari berbagai pihak tak henti-hentinya dipanjatkan.
Penggalangan dana terus dilakukan dan rencana gedung juga mulai dikerjakan.

Bpk.Ir.A.Tonny Djohan yang waktu itu diserahi merancang bangunannya.Sebelum itu Bpk.Tonny juga sudah mengerjakan bangunan gereja di Sorong, Papua dengan bentuk bangunan seperti kemah.Bentuk gereja di Sorong tersebut ditawarkan kepada panitia yang lain, dan akhirnya diterima dengan beberapa catatan.

Maka bentuk Gereja Sorong tersebut diadopsi untuk Gereja St.Andreas dengan beberapa modifikasi.Modifikasi tersebut antara lain dibuat menjadi dua lantai, ada balkon, ada menara, dan ada “Pohon Kehidupan”.Gereja dengan bentuk “kemah” memang ingin lebih mengesankan sebagai “Rumah Kediaman Allah”.

“Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka” (Wahyu 21:3)

Rencana bangunan pun selesai dan pembangunanpun segera dimulai.

UPACARA PELETAKAN BATU PERTAMA

Empat bulan setelah pembentukan panitia, tepatnya tanggal 16 September 1992 diadakan peletakan batu pertama oleh Msgr.HJS.Pandoyoputro, O.Carm sebagai tanda kan dimulainya pembangtunan gedung Gereja St.Andreas.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan Acara Penanaman Salib.

Tentu saja pada waktu itu dana pembangunan masih belum terkumpul lengkap.Bahkan masih jauh.Maka Rm.Sixtus C.Pujodarmo,O.Carm yang waktu itu sebagai Pastor Paroki Ijen (pengganti Romo A.Y.Soedibjo,O.Carm) pada tanggal 03 November 1992 kembali mengetuk hati umat melalui surat edaran agar bisa berpartisipasi dalam pembangunan “Rumah Allah” ini.

Bulan Agustus 1993, Rm.Sixtus C.Pujodarmo, O.Carm pindah tugas ke salah satu paroki di Jakarta.Pastor yang ditunjuk sebagai pengganti Pastor Paroki Ijen adalah Rm.Ign.Cahyo Irwanto,Pr. Maka Rm.Ign.Cahyo Irwanto lah yang akhirnya mendapat tugas untuk mendampingi panitia dalam penyelesaian pembangunan gereja tersebut.

Pembangunan terus berjalan, walau bukan tanpa hambatan.Namun berkat ketulusan doa dari segenap umat dan berbagai pihak, kendala-kendala tersebut sedikit demi sedikit mulai dapat teratasi.

Tahun 1994, ketika Paroki Ijen merayakan Pesta 60 tahun paroki, ada berbagai acara digelar.Salah satunya juga membuat Buku Kenangan.

Dalam buku tersebut dimuat informasi perkembangan pembangunan Gereja St Andreas.Sampai saat penyusunan buku kenangan tersebut, pembangunan gereja sudah menelan biaya sebesar Rp.248.789.015,00.
Tetapi masih butuh banyak dana lagi untuk menyelesaikan pembangunannya.Lagi-lagi, Pastor Paroki (Rm.Ign.Cahyo Irwanto, Pr) mengetuk hati umat untuk kembali bisa berpartisipasi dalam penggalangan dana.

Tanggal 6 Desember 1995, merupakan tanggal yang cukup bersejarah bagi terwujudnya Paroki St.Andreas saat ini.Pada tanggal tersebut Bapa Uskup Malang meningkatkan status Wilayah II Paroki Ijen (Stasi St Andreas) menjadi Kuasi Paroki Santo Andreas.(Kuasi Paroki artinya segala keperluan keparokian sudah mandiri, tetapi mengenai urusan surat menyurat yang terkait dengan pelayanan pastoral, seperti surat nikah, surat baptis, dsb masih dikeluarkan dari induknya, dalam hal ini Paroki Ijen).Masalahnya adalah, apakah seluruh umat Lingkungan St.Thomas dan Lingkungan St.Paulus masuk ke Kuasi Paroki St.Andreas ?

Dalam perkembangan akhirnya diputuskan bahwa batas antara Kuasi St.Andreas dan Paroki Ijen adalah Jalan Galunggung.Sebelah Barat ikut Kuasi Paroki St.Andreas, sebelah timur ikut Paroki Ijen.”Pecahan” dari lingkungan St.Thomas yang di Kuasi Paroki St.Andreas tetap menggunakan nama Lingkungan St.Thomas, sedangkan yang di Ijen menjadi Lingkungan St.Carolus.Adapun untuk lingkungan St.Paulus, baik di Ijen maupun di St Andreas, sama-sama tetap menggunakan nama lingkungan yang lama, yaitu Lingkungan St Paulus.

Setelah menjadi Kuasi Paroki dan pembangunan basement selesai, maka basement tersebut digunakan sebagai tempat untuk ibadat.

Pastor Kuasi Parokinya adalah Rm.Hendrikus Pidyarto Gunawan,O.Carm.
Adapun pastoran tempatnya terpisah, yaitu di Jalan Puncak Yamin 20, Malang.

Sambil basement digunakan sebagai tempat ibadat, pembangunan gereja dilanjutkan lagi.Namun dengan adanya peristiwa Situbondo (1996) dan terjadinya krisis moneter (1997), pembangunan gereja sempat terhenti.

Peresmian Paroki St.Andreas Tidar

Syukur kepada Allah, akhirnya di tahun 1999 pembangunan Gereja diatas tanah seluas 5.975,22 m2 dapat diselesaikan.Bangunan tersebut terdiri atas :
Basement : 596,85 m2
Teras Basement : 48,00 m2
Lantai 1 : 671,14 m2
Teras Lantai 1 : 686,37 m2
Balkon : 130,95 m2

Secara global pembangunan gereja sudah selesai (walau masih butuh penyelesaian beberapa bagian) dan umat wilayah Tidar pun sudah siap menjadi paroki sendiri, lepas dari Paroki Ijen.Maka pada tanggal 21 Maret 1999, Bapa Uskup Malang mengeluarkan SK yang mencabut status Kuasi Paroki St Andreas dan meresmikan berdirinya Paroki St.Andreas.

Sekurang-kurangnya butuh waktu 7 tahun sejak dikeluarkan SK Panitia Pembangunan Gereja sampai bisa berdiri menjadi sebuah paroki yang otonom.Gedung Gereja sudah selesai dibangun, dan secara administratif setelah lebih kurang 3 tahun menjadi Kuasi Paroki, “St.Andreas” sudah siap menjadi paroki.
Maka pada tanggal 21 Maret 1999, Msgr.H.J.S.Pandoyoputro, O.Carm selaku Uskup Keuskupan Malang memutuskan berdirinya Paroki Santo Andreas, Tidar dari Kuasi Paroki St.Andreas dengan SK No.52/Kep/C/III/1999 dan Rm.Landrikus Harianto, O.Carm sebagai Pastor Paroki yang pertama.

Sudah pada tempatnya apabila tanggal 21 Maret 1999 perlu kita catat dengan tinta emas sebagai hari lahir paroki kita.Secara de jure, memang tanggal tersebutlah yang merupakan hari lahir Paroki St.Andreas.Namun patut disampaikan kepada umat bahwa kendati hari kelahiran Paroki St Andreas tanggal 21 Maret 1999, namun perayaannya selalu diadakan pada bulan November bertepatan dengan pesta nama pelindung, yaitu tanggal 30 November.
Selain itu, karena Gereja St Andreas Tidar memang baru diberkati oleh Bapa Uskup pada tanggal 28 November 1999.Jadi memang perayaan ulang tahun paroki selalu dijatuhkan pada bulan November.

Bersamaan dengan tanggal peresmian paroki, pada tanggal 21 Maret 1999 juga diadakan peresmian dan pemberkatan Pengurus Dewan Paroki I oleh Bapa Uskup, Msgr.H.J.S.Pandoyoputro, O.Carm.Ketua Dewan Paroki yang pertama adalah Bpk.John Deru Moi dan misa pemberkatannya masih menggunakan basement, belum menempati gedung gereja utama.

Delapan bulan setelah resmi menjadi paroki, Gereja St Andreas diberkati oleh Bapak Uskup, tepatnya tanggal 28 November 1999.Sesudah misa pemberkatan berlangsung dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan penandatanganan prasasti oleh Uskup Malang Msgr.H.J.S.Pandoyoputro, O.Carm dan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Malang, Kolonel Haji Mohamad Said.

Pada saat itu juga Paroki St.Andreas menyerahkan sumbangan untuk GNOTA(Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) melalui Bapak Bupati dan Bapak Bupati juga menyerahkan sumbangan untuk pembangunan Gereja St Andreas sebesar Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

Sesaat setelah ada pemberkatan Gereja, atau tepatnya di akhir tahun 1999, jumlah umat Paroki St Andreas adalah 1.529 jiwa.

Ketika belum genap 1 tahun usia Paroki St Andreas sudah ada acara besar yang diadakan, yaitu Bazar pada hari Sabtu-Minggu, 10-11 Juni 2020.Misa sabtu sore ditiadakan karena ada acara pembukaan bazar dengan hiburan Reog dari Malang dan dilanjutkan dengan penampilan berbagai macam vocal group dan penyanyi anak-anak.Minggu pagi, setelah misa, bazar dilanjutkan lagi sampai pk.14.00.Pada kesempatan tersebut ada juga berbagai lomba antara lain fashion show, mewarnai, serta berbagai acara permainan oleh mudika.Pertunjukan barongsai dari salah satu Klenteng di Malang ikut memeriahkan acara tersebut.Dua hari acara berlangsung dengan sukses dan memberi arti tersendiri bagi panitia pelaksana untuk bisa mengadakan kegiatan-kegiatan yang lebih baik lagi di masa-masa yang akan datang.

Satu peristiwa penting lagi di tahun 2000 adalah tanggal 30 September 2000, karena pada tanggal tersebut terjadi serah terima Pastor Paroki St Andreas dari Rm.Hendrikus Pidyarto Gunawan,O.Carm kepada Rm.Vianney Sudarma Wiryautama, O.Carm.

Seperti halnya Rm.Hendrikus Pidyarto,O.Carm yang menmepati pastoran di Jalan Puncak Yamin 20, demikian juga Rm.Vianney Sudarma Wiryautama, O.Carm.
Namun karena letak pastoran yang dirasa terlalu jauh dari Gereja, maka di tahun 2001 mulai dipikirkan untuk membangun gedung pastoran yang dekat dengan gereja.Rencana pengerjaan gedung pastoran pun mulai ditenderkan, agar pembangunannya bisa segera dimulai.

Pada tanggal 01 November 2001, kembali terjadi perubahan dalam struktur di Paroki St Andreas.Bapa Uskup, Msgr.H.J.S.Pandoyoputro, O.Carm telah mengeluarkan beberapa SK yang antara lain berisi :
1. Rm.Heribertus Supriyadi, O.Carm dibebastugaskan dari Pastor Pembantu Paroki St Andreas Tidar )pindah tugas ke Keuskupan Manokwari Sorong-Irian Jaya).Surat no.196/Uskup/C/XI/2001.
2. Rm.Frederikus Vianney Sudarma Wirjautama,O.Carm dibebastugaskan dari pastor Paroki St Andreas menjadi Pastor Pembantu Paroki St Andreas Tidar Malang.Surat no.197/Uskup/C/XI/2001.
3. Rm.Titus Brandsma Pantjaja Adji Wilasa, O.Carm diangkat menjadi Pastor Paroki St Andreas, menggantikan Rm.Frederikus Vianney Sudarma Wirjautama,O.Carm.Surat no.199/Uskup/C/XI/2001.

Lahirnya Buletin MISA

Sewaktu masih menjadi Pastor Pembantu, Rm.Heribertus Supriyadi, O.Carm menangani penerbitan Buletin Mingguan MISA.Maka setelah romo Heri pindah tugas, buletin MISA dikelola oleh umat.Dan inilah susunan pengelola buletin tersebut yang telah disepakati dalam rapat pada tanggal 04 November 2001.

Pelindung : Pastor Paroki St Andreas
Ketua : Bpk.A.A.Gunawan
Ketua II : Bpk.Mistam Effendi
Sekretaris I : Nanang
Sekretaris II : Sdr.Alvon Sughanda
Bendahara : Ibu Priscillia Angela Widyanti
Anggota :
1. Ibu M.T.Elleine Magdalena
2. Ibu Sisyanti
3. Ibu Lilik Suyoko
4. Bpk.Yohanes Soeroso

Setelah Paroki St. Andreas berusia 3 tahun, berarti usia pengurus Dewan Paroki juga lebih kurang sudah 3 tahun.
Maka pada tanggal 3 Maret 2002 diadakan rapat pleno dewan Paroki Santo Andreas dengan acara pemilihan Ketua Dewan Paroki. Dalam rapat tersebut Ibu Katharina Lilik Suyoko terpilih sebagai ketua dewan Paroki Santo Andreas yang baru menggantikan Bapak John Deru Moi. Adapun pelantikan pengurus baru dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2002
dalam Masa yang dipimpin oleh Bapa Uskup Malang Msgr. HJS. Pandoyoputro, O.Carm.

Rm. Kutschruiter, O. Carm yang selama ini kita kenal, mulai hadir di Paroki St. Andreas pada bulan Agustus 2002. Acara pisah-kenal antara Rm. Vianney Soedarmo, O. Carm dan Rm. Kutschruiter, O. Carm terjadi pada tanggal 18 Agustus 2002. Sejak itu , Rm. Kutschruiter, O. Carm membantu pelayanan pastoral di Paroki St. Andreas.Setelah lebih kurang dua tahun dipersiapkan, akhirnya Paroki St. Andreas bisa memiliki Pastoran yang
tempatnya berdekatan dengan gereja. Pastoran tersebut terletak di Jalan Puncak Esberg 22, tepat berseberangan dengan gereja. Pada tanggal 6 Mei
2003 Bapa Uskup Malang, Msgr. HJS. Pandoyoputro, 0. Carm berkenan memberkati pastoran tersebut. Kemudian baru esoknya, mulai tanggal 7 Mei 2003 para Romo boyongan ke pastoran baru.

Waktu terus berlalu, perkembangan umat dan kegiatan kegerejaan semakin meningkat. Jumlah umat Lingkungan St. Yohanes semakin banyak, maka diadakan pemekaran lingkungan. Daerah Bukit Cemara Tidar, Karangwidoro dan sekitarnya menjadi Lingkungan Agustinus (lingkungan yang ke-6) dan Pelantikan Pengurus Lingkungan Agustinus di laksanakan di Gereja Paroki St. Andreas oleh Rm. Adji,0. Carm pada tanggal 28 Agustus 2003. Bpk. Yohanes Sarwono terpilih sebagai Ketua Lingkungan Agustinus yang pertama dan setelah Misa ada penyerahan berkas-berkas yang menjadi bagian Lingkungan Agustinus dari Bpk. Eduardus M. Bo (Ketua Lingkungan Yohanes) kepada Bpk. Y. Suwarsono.

Bukan hanya Lingkungan St. Yohanes yang memerlukan pemekaran, tetapi juga untuk Lingkungan St. Thomas. Maka pada tanggal 21 Oktober 2003 diadakan rapat pengurus harian Dewan Paroki, Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa wilayah Tidar bagian utara menjadi Lingkungan tersendiri dengan nama Lingkungan Antonius dan Bpk. Antonius Bam-
bang Tri Atmojo sebagai Ketua Lingkungan Antonius yang Pertama, Adapun Misa Peresmian dan Pelantikan Pengurus Lingkungan Antonius periode 2003 – 2005 diadakan dalam Misa di rumah Bpk. Bambang Tri Atmodjo pada tanggal 4 November 2003.Di bulan November 2003, ada satu kegiatan yang cukup penting yaitu Pesta Pelindung Paroki sekaligus HUT ke-4 Paroki St. Andreas, Tepat pada tanggal 30 November 2003 diadakan misa syukur dengan konselebran, Rm. H.Pidyarto, O. Carm; Rm. Abels, CP: Rm. Romanus Sangkur, O. Carm, Rm. Agustinus Supriyadi, O. Carm; Rm. Raymundus, SVD, Rm.Isharyanto, SVD; Rm. Kutschruiter, o, Carm,Rm. Adji, O. Carm. Konselebran utama: Rm.Adji, O. Carm. Setelah Misa ada acara Panggung Gembira di Aula Paroki yang diawali dengan makan pagi bersama. Dalam acara panggung gembira, antara lain diisi dengan
Mini Konser, Tembang Kenangan, Tari-tarian, Cha Cha, dan Poco-poco. Di sela-sela acara ada pengundian Door Prize. Pada kesempatan itu diumumkan pemenang lomba paket liturgi.Secara mengejutkan Lingkungan Agustinus yang masih baru meraih juara 1 paket liturgi
dalam misa. Juara II Lingkungan Yohanes, Juara III Lingkungan Petrus.

Di awal tahun 2004, tepatnya tanggal 9 Januari hari Jumat sore Romo Teleforus Jenti, O.Carm diantar umat Paroki Hati Kudus Yesus (Kayutangan) ke Paroki St. Andreas Tidar. Hari itu juga diadakan misa serah terima jabatan Pastor Paroki Andreas dari Romo Adji Wilasa, O.Carm kepada Romo Teleforus Jenti, O.Carm.Misa dipimpin oleh Msgr. HJS, Pandoyoputro,
O.Carm. Sejak tanggal 9 Januari 2004 pastor parokinya ialah Rm. Teleforus Jenti, O.Carm.

Dalam semangat HUT Paroki yang ke-5, pada tanggal 25 Juli 2004, Seksi Sosial Paroki bekerjasama dengan Lingkungan St. Paulus men-
gadakan pengobatan gratis bagi warga masyarakat umum di SDN Karang Besuki IV.
Ada lebih kurang 300 pasien yang dilayani oleh lebih dari 8 dokter yang dibantu para perawat dari RKZ. Setelah tahu bahwa respon masyarakat sangat bagus, maka dalam semangat HUT Paroki yang ke-5 dan semangat
HUT Kemerdekaan RI yang ke-49, kegiatan serupa diulang kembali. Kegiatan ini sekaligus untuk membuktikan bahwa umat Paroki St, An-
dreas betul-betul 100% warga negara Indonesia dan 100% Warga Gereja Katolik. Kegiatan tersebut diadakan pada tanggal 1 Agustus 2004, bertempat di Aula paroki St. Andreas dan diikuti oleh lebih kurang 300 pasien.

Guna menunjukkan bahwa Paroki St. Andreas juga merupakan sebuah “komunitas” yang terbuka bagi masyarakat sekitar, maka masih di bulan Agustus 2004, tapatnya tanggal 7, bertempat di Aula Paroki St. Andreas, “St. Andreas Family’s Night” mengadakan kegiatan bersama “Tembang Rindu”
Paroki Hati Kudus Yesus Kayutangan. Dalam kesempatan tersebut seperti bi
asanya didendangkan tembang-tembang lawas serta acara dansa. Yang
membuat suasana menjadi indah karena acara tersebut dihadiri oleh penggemar dari lintas paroki dan aneka kelompok lintas agama.

Masih dalam semangat HUT Paroki yang ke-5 selama bulan November 2004 diadakan Misa Inkultursi. Tanggal 7 November 2004 Misa Inkulturasi gaya Mandarin. Lingkungan St. Paulus dan lingkungan St. Petrus yang bertugas dalam mempersiapkan misa tersebut. Selanjutnya pada tanggal 14 November 2004 Misa Inkulturasi gaya Flores. Koor dan tarian oleh Lingkungan St. Yohanes didukung oleh Koor bermotif Flores dari mahasiswa asal Flores berdomisili di Paroki St. Andreas.

Seminggu kemudian, tanggal 21 November 2004, misa inkukulturasi gaya Batak. Koor dan tarian oleh Frater Karmel- Rajabasa berkaloborasi dengan para Novis, Suster-Suster Hermanas Karmelitas-Karangwidoro.
Misa Konselebrasi dipimpin oleh Rm. Angelus, O Carm dan kotbah “dramatisasi” tentang aneka raja dunia oleh Rm. Agung ‘Komeng, O.Carm dibantu oleh frater-frater Karmel.

Sebagai puncak perayaan HUT Paroki, pada tanggal 28 November 2004 diadakan misa dengan gaya Jawa oleh Lingkungan Agustinus dan Lingkungan St.Thomas. Misa di persembahkan oleh Rm. Teleforus
Jenti, o Carm dan didampingi oleh Diakon Waris Susanto, O.Carm. “Aku tersiksa oleh jarit, blangkon, dan keris selama misa”, kata Romo Jenti seusai
memimpin misa. Memang pakaian itulah yang dikenakan Romo Jenti saat memimpin misa.

Pengalaman Bapak Lazarus Buntario sebagai Ketua Lingkungan St. Paulus saat mengadakan kerjasama dengan Seksi Sosial Paroki untuk mengadakan pengobatan gratis rupanya memberi kesan yang sangatmendalam. Maka pada tangal 4 September 2005, atas prakarsa Bpk. Lazarus Buntario bersama dr.Hendro dan dr. Kuncoro, terjadilah kesepakatan ber-
sama antara para dokter dengan Dewan Pastoral Paroki St. Andreas untuk membuka poliklinik. Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri oleh 10 orang dokter yang bersedia melayani para pasien. Seminggu kemudian, tanggal 11 September 2005, diadakan kembali pengobatan gratis sambil diadakan sosialisasi mengenai pembukaan poliklinik murah bagi masyarakat umum yang dibuka setiap hari Minggu.

Pelayanan kepada masyarakat umum terus dilaksanakan. Renovasi dan perbaikan gereja demi kenyamanan umat dalam berliturgi terus
ditingkatkan. Maka setelah renovasi perbaikan atap yang bocor, penambahan atap pada teras gereja, penambahan menara dan lonceng, serta penambahan patung St. Andreas selesai dilaksanakan, pada 4 Juni 2006, bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta, Bapak Uskup berkenan
memimpin perayaan ekaristi di gereja St. Andreas. Seusai misa, Bapa Uskup langsung mengadakan upacara pemberkatan Patung St. Andreas dan Lonceng Gereja.

Seminggu kemudian, tepatnya tgl 11 Juni 2006, kegembiraan umat Paroki St. Andreas semakin terasa. Pada tanggaltersebut diadakan Pesta Emas Imamat Rm. F. J. M.Kutscruiter, O. Carm. Misa syukur dengan selebran utama Rm. Kuts didampingi 20 Imam, dihadiri oleh biarawan dan biarawati dari berbagai konggregasi, undangan dari paroki se-Dekenat dan umat Paroki St. Andreas, tidak ketinggalan anak-anak Panti Asuhan Bhakti Luhur. Perayaan Ekaristi penuh sukacita dan syukur dilanjutkan dengan resepsi di lapangan parkir. Suasana Cinta dan syukur dari umat Paroki St. Andreas untuk Romo Kuts sangat kental. Dampak Pesta ini membangun semangat persekutuan persaudaraan, keterlibatan umat sangat terasa. Adapun keseluruhan acara tersebut didanai dari persembahan umat
dan sama sekali tidak mengeluarkan uang dari kas paroki.

Perayaan HUT Paroki yang diwujudkan dalam misa inkulturasi pada tahun 2006 sangat mengesan bagi umat. Maka dalam rangka HUT Paroki yang ke-7, misa inkulturasi kembali digelar dengan suasana yang lebih inkulturatif. Tanggal 5 November 2006 diadakan misa inkulturasi Mandarin. Setelah misa ada pengarahan dari Rm. Bosco da Cunha, O.Carm dosen liturgi STFT mengenai “Misa inkulturasi” di aula Paroki. Acara tersebut diikuti oleh Pengurus Dewan Pastoral dan Pengurus Liturgi Lingkungan. Masih dalam
tanggal yang sama Bidang Pelayanan mengadakan donor darah bekerja sama dengan PMI sebagai kegiatan rutin.
Sementara itu OMK (waktu itu Mudika) sebagai panitia perlombaan HUT Paroki, mengadakan lomba volley dan basket antar lingkungan dan komunitas-komunitas.Seminggu kemudian, 12 Nopember 2006, dalam misa
Minggu pagi diadakan misa inkulturasi budaya Dayak lengkap dengan musik dan tarian Dayak. Pada tanggal tersebut Mudika mengadakan pertandingan futsal antar lingkungan dan komunitas biara. Juara I diraih oleh frater-frater SVD, Juara II oleh Tim Rm. Jenti dan karyawan gereja.

Pada tanggal 17 November 2006, misa inkulturasi dengan gaya Flores. Dekorasi seperti sebelumnya dikerjakan oleh Florima, dan secara apik memadukan unsur unsur dari 5 Kabupaten di P. Flores. Pada tanggal yang sama Bidang Kesaksian bekerjasama dengan Florima Istana Bunga mengadakan seminar sehari “Merangkai Bunga” dengan penceramah Ibu
Hj. Marsidik, seorang pakar bunga nasional dari Surabaya. Peserta berjumlah 300 orang dari semua Paroki dekenat Malang.

Sebagai puncak Perayaan HUT ke-7 Paroki St. Andreas dalam misa Minggu pk. 07.00 misa inkulturasi gaya Jawa dengan selebran utama Rm. Albertus, O. Carm didampingi Rm. Jenti, Rm.Pidyarto, Rm. Heribertus, Rm. M. Agung, O. Carm. Misa diiringi tarian Jawa dan gamelan. Para imam berpakaian Jawa. Hiasan sangat indah versi manten Jawa. Penabuh gamelan dari Paroki Blimbing. Setelah misa syukuran di halaman parkir Gereja dengan tema “All in One”. Setiap lingkungan membawa tumpeng untuk dinikmati oleh semua umat yang hadir. Suasana guyub semakin terasa.

Menyadari bahwa Paroki St. Andreas juga merupakan bagian dari wilayah yang ada di Keuskupan Malang, maka ketika Paroki St. Andreas ditunjuk sebagai -Panitia pelaksana Acara Penutupan Tahun Pendidikan (2006) dan
menyongsong Tahun Pengembangan Sumber Daya Manusia (2007), Paroki St. Andreas mau menerima dengan penuh suka cita. Acara tersebut digelar pada tanggal 31 Desember 2006 dan diawali dengan misa oleh Bapa Uskup
Malang, Msgr. HJS. Pandoyoputro, O Carm dan didampingi oleh para romo se-Dekenat Malang Kota. Setelah misa acara dilanjutkan dengan resepsi dan aneka acara hiburan Old & New dari Paroki-paroki dekenat Malang Kota plus Paroki Lawang. Aneka permainan dari Mudika dan PPA St.Andreas. Puncak acara adalah pesta kembang api dan undian berhadiah berupa 1 unit sepeda motor. Acara yang luar biasa meriah itu berakhir hingga pkl. 01.00. Lagi-lagi keseluruhan acara tersebut hasil persembahan dari umat.

Mengawali tahun 2007, dalam rangka melayani kebutuhan umat akan bacaan rohani serta benda-benda rohani, pada tanggal 28 Januari 2007 diadakan pemberkatan Toko Buku dan Benda-benda Rohani “Ground Store St. Andreas Sejak tanggal itulah setiap Sabtu sore, Minggu pagi dan
Minggu sore, dengan memanfaatkan tempat di bawah tangga masuk gereja, umat bisa mendapatkan buku-buku dan benda-benda rohani dengan harga yang terjangkau.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan Tahun Pendidikan (2006), Bidang Kesaksian telah merancang membuka Perpustakaan Paroki
agar pengetahuan umat bertambah luas.
Pak Kanisius Pung selaku koordinator perpustakaan, tidak ingat persis tanggal berapa dimulainya perpustakaan tersebut.
Yang pasti tahun 2007 Saat perpustakaan tersebut telah memiliki koleksi
lebih kurang 2000 buku untuk berbagai usia. Sebagian besar buku-buku tersebut hasil sumbangan dari umat. Kalau saat ini masih ada umat yang mau memberikan sumbangan buku pun, masih ditunggu.


Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam rangka merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, Paroki St. Andreas kembali mengadakan kegiatan-kegiatan untuk menanamkan rasa cinta akan Tanah Air dan juga membangun persekutuan persaudaraan antar warga. Acara yang digelar adalah bazar, aneka lomba, aneka permainan, panggung gembira pada tanggal 4-5 Agustus 2007. Selain itu, pada Minggu pagi (5 Agustus 2007) juga diadakan Jalan Sehat dengan Kupon Berhadiah Sepeda
Motor. Pada saat itu Bpk. Uskup Msgr. H.J.S.Pandoyoputro, O Carm berkenan ikut Jalan Sehat dengan umat. Setelah jalan sehat dilanjutkan dengan bazar dan juga donor darah. Satu Minggu kemudian, tepatnya tgl
12 Agustus 2007, Bidang Pelayanan mengadakan acara pasar murah untuk
masyarakat umum. Adapun Mudika (Bidang Paguyuban) mengadakan lanjutan kompetisi futsal di lapangan parkir Gereja St. Andreas.

Walaupun tidak semeriah pesta HUT ke-7, dalam rangka HUT ke-8 Paroki St, Andreas kembali diadakan misa inkulturasi. Pada tanggal 11 Novem-
ber 2007, diadakan misa inkulturasi budaya Batak diselenggarakan oleh Biara Suster-suster H. Carm dan lingkungan St. Antonius. Misa dipersembahkan oleh Rm. Petrus Suu, O. Carm. Didampingi oleh Rm. T. Jenti, O. Carm dan Rm. Gerardo, OSM. Pada hari tersebut juga diadakan macam-macam lomba bidang liturgi dan pewartaan yang melibatkan lingkungan, mudika, remaja dan anak-anak Bina Iman. Dari Bidang Paguyuban kembali mengadakan acara pemeriksaan gula darah dan
donor darah.
Satu minggu kemudian, tanggal 17 November 2007 diadakan misa inkulturasi budaya-budaya daerah Flores, oleh Biara BHK dan Lingkungan
Agustinus. Misa dengan selebran Rm. Siriakus Ndolu, O. Carm dari Paroki Kepanjen didampingi oleh Rm. Jenti, O. Carm; Rm. Petrus Suu, O.
Carm; Rm. Moses, OSM.


Pada tanggal 24 November 2007, di Gereja Paroki diadakan misa untuk menggalang dana pengadaan air bersih bagi warga Situbondo yang baru
terkena gempa bumi. Pada kesempatan tersebut ikut hadir Rm. Benny S., Pr (JKt) dan Olga Lydia (Artis Jakarta). Pada tanggal yang sama, Mudika
mengadakan Festival Band yang diikuti oleh kelompok band dari Malang dan Surabaya.

Esoknya, dalam misa Minggu pagi tanggal 25 November 2007, diadakan
diadakan misa inkulturasi budaya Jawa oleh Biara SVD dengan lingkungan
St. Yakobus dengan selebran, Rm. Felix Kadek,O. Carm didampingi oleh Rm. T. Jenti, O. Carm dan Rm. Gerardo, OSM. Setelah Misa, bertem-
pat di Aula Paroki Bidang Liturgi Paroki St. Andreas menyelenggarakan Seminar “Perayaan Ekaristi Emansipasi Perjamuan Surgawi” ber-
sama Rm. Henricus Pidyarto, O. Carm. Peserta +150 orang dari Paroki St. Andreas dan paroki-paroki Dekenat Malang

Sebagai puncak perayaan HUT ke-8 Paroki St.Andreas, diadakan misa bertepatan dengan pesta pelindung paroki, yaitu tanggal 30 Novem-
ber 2007 dalam misa pk. 17.00. Misa dipersembahkan oleh Bapa Uskup Malang dengan didampingi para Romo Paroki dan mantan Romo
Paroki St. Andreas. Setelah misa dilanjutkan dengan prosesi lilin menuju Gua Maria dan Taman Doa “Regina Pacis” untuk melanjutkan
acara pemberkatan Gua Maria dan Taman Doa “Regina Pacis”. Selanjutnya diadakan pesta syukur di halaman Gereja. Keseluruhan upacara
tersebut diliput oleh Malang TV.

Tanpa terasa, sudah dua periode Ibu K. Lilik Suyoko menjabat sebagai Ketua Dewan Pastoral Paroki. Tibalah saatnya untuk mengadakan pemilihan ketua yang baru. Kegiatan tersebut diadakan pada tanggal 13 Januari 2008 dan Bapak CH. Evan Purwanto terpilih sebagai Ketua Depaspar yang ke-3.
Setelah pengurus Depaspar St. Andreas periode 2008-2011 selesai disusun, pada tanggal 6 April 2008 diadakan acara serah terima dari pengurus lama ke pengurus baru sekaligus ada acara pembekalan untuk pengurus Depaspar yang baru.

Lebih kurang dua minggu setelah itu, Pastor Kepala Paroki St. Andreas, Rm.
Teleforus Jenti, O Carm pindah tugas ke Paroki Gembala Baik, Batu dan sebagai gantinya adalah Rm. Sixtus C.Pudjadarma, O Carm. Acara pisah
kenalnya diadakan di Aula paroki.
Dengan bergantinya Pastor Kepala Paroki, maka secara ex officio Ketua
Umum Depaspar juga berganti. Maka setelah susunan Depaspar secara
lengkap terbentuk dan Ketua Umum Depaspar baru ada pergantian, maka
dilakukan acara pengukuhan Pengurus Depaspar St. Andreas periode
2008-2011 oleh Bapak Uskup Malang dalam misa yang diadakan pada tanggal 27 April 2008.


Seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2008, dalam rangka merayakan HUT ke-63 Kemerdekaan RI, paroki St.Andreas kembali mengadakan acara jalan sehat bagi umat paroki. Acara yang bertujuan untuk meningkatkan keakraban antarumat, meningkatkan kepedulian kepada sesama dan
warga masyarakat sekitar, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air, itu diadakan pada tanggal 3 Agustus 2008. Selesai jalan sehat acara lain yang digelar adalah: pentas seni, bazar, aneka lomba dan permainan, donor darah, pasar murah, dan paket sembako.
Saat Romo Sixtus pindah di Paroki Tidar, di Paroki Tidar sudah ada Romo Kuts, tetapi sudah memasuki masa pensiun. Maka setelah ada tahbisan imamat baru, Paroki Tidar mendapat tambahan satu orang pastor muda, yaitu Romo Ign. Nugroho Anggoro Susetyo, O Carm (Romo Nugi) mulai tanggal 23 Oktober 2008. Romo Nugi selanjutnya menjadi Pastor Pembantu di Paroki Tidar, sedangkan Romo Kuts walau sudah pensiun masih tetap dipertahankan di Paroki Tidar untuk membantu pelayanan pastoral. Jadi pada saat ini ada 3 pastor di Paroki Tidar: Romo Sixtus, Romo Nugi, dan Romo Kuts yang telah saling bekerja sama untuk meningkatkan pelayanan pastoral bagi segenap umat Paroki Tidar.

Sumber : Buku Kenangan HUT Satu Dasawarsa Paroki Tidar Malang