Fri. Dec 2nd, 2022

Renungan Harian Katolik, Jumat 15 Juli 2022
Hari Jumat Minggu Biasa XV

Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
Matius 12:7

Para Rasul Yesus lapar dan mereka memetik bulir gandum saat mereka berjalan untuk memuaskan rasa lapar mereka. Akibatnya, orang-orang Farisi mengutuk para Rasul karena melakukan apa yang mereka klaim “melanggar hukum” pada hari Sabat. Mereka mengklaim bahwa memetik bulir gandum sambil berjalan dianggap “pekerjaan” dan, dengan demikian, mereka melanggar hukum yang mengharuskan istirahat pada hari Sabat.

Betulkah? Apakah orang-orang Farisi dengan serius berpikir bahwa para Rasul berdosa dengan memetik gandum saat mereka berjalan untuk memuaskan rasa lapar mereka? Semoga tidak sulit bagi kita untuk melihat absurditas dan irasionalitas kecaman ini. Para Rasul tidak melakukan kesalahan tetapi tetap dihukum. Mereka adalah “orang-orang yang tidak bersalah” seperti yang ditunjukkan Yesus.

Yesus menanggapi irasionalitas orang Farisi dengan mengingatkan mereka akan Kitab Suci, “Aku menginginkan belas kasihan, bukan pengorbanan.” Dan Dia menunjukkan bahwa para Rasul dikutuk secara salah karena orang-orang Farisi tidak memahami perikop ini dan perintah dari Allah untuk belas kasihan ini.

Perintah hari Sabat untuk beristirahat berasal dari Allah. Tetapi perintah untuk beristirahat bukanlah persyaratan untuk kepentingannya sendiri. Ini bukanlah persyaratan hukum yang entah bagaimana memuliakan Tuhan hanya dengan menjaganya dengan ketat. Istirahat Sabat terutama merupakan hadiah dari Tuhan kepada umat manusia karena Tuhan tahu bahwa kita membutuhkan istirahat dan peremajaan. Dia tahu kita membutuhkan waktu setiap minggu untuk bersantai, mempersembahkan penyembahan khusus kepada Tuhan dan menikmati kebersamaan dengan orang lain. Tetapi orang-orang Farisi menjadikan perhentian Sabat sebagai beban. Mereka menjadikannya sebagai ketaatan legalistik yang ketat yang tidak melakukan apa pun untuk memuliakan Tuhan atau menyegarkan jiwa manusia.

Satu kebenaran utama yang dapat kita pelajari dari perikop ini adalah bahwa Allah memanggil kita untuk menafsirkan hukum-Nya melalui mata belas kasihan. Rahmat selalu menyegarkan kita, mengangkat kita dan mengisi kita dengan energi baru. Itu memotivasi kita untuk beribadah dan memenuhi kita dengan harapan. Belas kasih tidak membebani kita dengan beban legalistik yang berat; sebaliknya, belas kasihan dan hukum Tuhan bersama-sama meremajakan kita dan menyegarkan kita.

Renungkan, hari ini, tentang bagaimana kita melihat perintah Tuhan dan hukum-Nya. Apakah kita melihatnya sebagai persyaratan legalistik dan memberatkan? Atau apakah kita melihatnya sebagai berkat rahmat Tuhan yang dimaksudkan untuk meringankan beban kita ?

Tuhanku yang penyayang, tolong aku untuk mencintai hukum-Mu. Tolong aku untuk benar-benar melihatnya dalam terang rahmat dan kasih karunia-Mu. Semoga diriku disegarkan oleh semua perintah-Mu dan diangkat oleh kehendak-Mu. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan Harian Katolik 14 Juli 2022

Renungan Harian Katolik 16 Juli 2022


DATA MONITORING COVID-19 UMAT PAROKI ST ANDREAS TIDAR, MALANG

Silahkan mengisi Form di link ini untuk mendata umat terpapar covid
https://forms.gle/A2ZcCBSzMR9bi7aE7