Thu. May 19th, 2022

Titus Brandsma dilahirkan pada 23 Februari 1881 di Wonseradeel, Frisland, Belanda. Ia tumbuh hingga remaja di daerah pertanian bernama Oegeklooster ia diberi nama Anno Brandsma. Ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang saleh. Sejak kecil kondisi kesehatannya kurang baik, pada usia 11 thn Anno Brandsma masuk Seminari kecil Ordo Fransiskan, dan akhirnya ia memilih Ordo Karmel sebagai jalan panggilan hidupnya.

Beato Titus Brandsma (1881-1942) Menentang Paham Nazi

Pada 17 September 1898, Anno masuk novisiat Karmel di Boxmeer dengan mengambil nama biara Titus. Kaul pertamanya pada 3 Oktober 1899, lalu ia mengikuti kuliah filsafat dan teologi. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 17 Juni 1905. Tahun 1906 -1909 ia mengikuti studi lanjut dan mendapatkan gelar doktor Filsafat dari Universitas Pontifical Gregoriana, Roma. Tahun 1909 -1923 ia mengajar filsafat di Oss. Atas andil besarnya pada pendiriaan Universitas Katolik di Neijmegen, pada tahun 1932 -1933 ia pun diangkat menjadi rektor di universitas itu.

Tahun 1935 dunia menyaksikan Adolf Hitler berkuasa dengan rasialisme Nazinya. Titus Brandsma sebagai Imam Karmelit, dosen dan wartawan, sangat menentang paham Nazi ini. Dengan gencar ia mengadakan perlawanan terhadap Nazi melalui surat-surat kabar Katolik, radio Katolik, dan juga di dunia akademis. Uskup Agung De Jong, yaitu Uskup Agung Utrecht, meminta Titus untuk mewakili para uskup menentang Nazi ini. Pada saat itu, Nazi mempunyai misi untuk menghancurkan sekolah-sekolah Katolik dengan menanamkan paham Nazi kepada mereka. Titus berkeliling ke seluruh Belanda, memberikan penerangan kepada sekolah-sekolah Katolik dan kepada komunitas-komunitas Katolik lainnya untuk tetap mengadakan perlawanan terhadap Nazi. Titus menjadi penasihat rohani surat-surat kabar Katolik. Karena itu Titus selalu menekankan kepada redaksi-redaksi untuk menolak artikel-artikel propaganda Nazi. Sungguh mencengangkan bagaimana biarawan yang kecil dan sakit-sakitan ini menentang raksasa Nazi. Seperti Daud menantang Goliat. Karena perlawanan dan kutukannya terhadap Nazi, Titus menjadi salah satu orang yang masuk daftar hitam Nazi. Ia memang tidak mempunyai darah keturunan Yahudi. Namun ia gigih membela hak asasi manusia dan kebebasan pers serta menentang ideologi Nazi melalui media massa.

Pada 19 Januari 1942, ia ditangkap dan ditempatkan di penjara Scheveningen. Di sana pula ia menulis renungan-renungan mendalam, termasuk menulis biografi St. Teresa Avila berdasarkan ingatannya sendiri.

Setelah tujuh minggu di Scheveningen, Titus lalu dibawa ke kamp konsentrasi Amersfoort. Selama berminggu-minggu ia diinterogasi, namun ia tak pernah gentar mempertahankan kutukannya terhadap Nazi. Ia menolak dengan tegas semua tawaran dari pembesar-pembesar Nazi untuk kebebasannya. Akhirnya pada 12 Juni 1942, ia dikirim ke penjara Dachau yang terkenal sangat menakutkan dan telah menewaskan ribuan orang. Kini ia bertemu dengan tentara-tentara yang kejam dan di situ segala bentuk agama dilarang. Mereka menyuruh seorang perawat untuk memberikan suntikan beracun pada tubuh Titus. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhir, ia memberikan rosarionya kepada perawat yang menyuntiknya dan perawat itu kemudian bertobat. Titus wafat pada 26 Juli 1942 dan pada 3 November 1985 dinyatakan sebagai Beato oleh Paus Yohanes Paulus II di Roma.

(Yesaya, O.Carm)

Sumber : parokimbk.or.id