Renungan 10 Februari 2022

Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
Markus 7:25-27

Mengapa Yesus berbicara kepada wanita ini seperti itu? Dia datang kepada-Nya, mungkin dalam ketakutan dan gemetar, tersungkur di kaki-Nya, dan memohon kepada-Nya untuk membantu putrinya. Pada awalnya, orang mungkin berharap Yesus mengulurkan tangan dengan kelembutan dan kasih sayang, bertanya kepadanya tentang putrinya, dan berkata kepadanya, “Oh, tentu saja Aku akan membantu putri anda. Bawa Aku padanya.” Tapi bukan itu yang Dia katakan. Dia mengatakan padanya, bahwa “tidak benar mengambil makanan anak-anak dan melemparkannya ke anjing.” Aduh! Betulkah? Apakah Dia benar-benar mengatakan itu? Mengapa Dia mengatakan hal seperti itu?

Pertama-tama, kita harus tahu bahwa apa pun yang Yesus katakan adalah tindakan kasih. Ini adalah tindakan kebaikan dan belas kasihan terbesar. Kita tahu ini karena inilah Yesus. Dia adalah cinta dan belas kasihan itu sendiri. Jadi bagaimana kita mendamaikan kontradiksi yang diucapkanNya ini?

Kunci untuk memahami interaksi ini adalah dengan melihat hasil akhir. Kita harus melihat bagaimana wanita ini menanggapi Yesus dan bagaimana percakapan itu berakhir. Ketika kita melakukan ini, kita melihat bahwa wanita itu menanggapi dengan kerendahan hati dan iman yang luar biasa. Apa yang Yesus katakan adalah benar. Di satu sisi, kita dapat menafsirkan apa yang Dia katakan berarti bahwa tidak ada seorang pun yang berhak atas kasih karunia dan belas kasihan-Nya. Tidak seorang pun, termasuk dia dan putrinya, “pantas” untuk membuat Tuhan bertindak dalam hidup mereka. Yesus mengetahui hal ini dan, dengan mengatakan apa yang Dia katakan, memberi wanita ini kesempatan yang luar biasa untuk menunjukkan imannya yang dalam untuk dilihat semua orang. Kata-katanya memungkinkan dia untuk bersinar sebagai mercusuar iman, harapan dan kepercayaan. Ini adalah tujuan Yesus dan itu berhasil. Itu berhasil karena, ketika wanita itu datang kepada-Nya, segera menyadari fakta bahwa dia memang memiliki iman yang dalam. Yesus tahu bahwa wanita itu akan menanggapi dengan kerendahan hati dan kepercayaan. Wanita itu melakukannya dan dengan demikian kita dapat menyaksikan manifestasi iman dan kerendahan hatinya.

Renungkan, hari ini, tentang iman yang indah dari wanita yang rendah hati ini. Cobalah untuk menempatkan diri anda pada posisinya dan dengarkan Yesus mengucapkan kata-kata yang sama ini kepada anda. Bagaimana tanggapan anda? Apakah anda akan menanggapinya dengan marah atau gelisah? Apakah harga diri anda akan terluka? Atau apakah anda akan menanggapi dengan kerendahan hati yang lebih dalam, mengakui fakta bahwa semua yang Tuhan berikan adalah pemberian yang tidak berhak kita terima. Merespon dengan cara ini kemungkinan besar merupakan tindakan iman yang Tuhan tunggu dari kita masing-masing dan merupakan kunci untuk pencurahan belas kasihan-Nya yang sangat kita butuhkan.

Tuhan sumber kerendahan hati sejati, tolong rendahkan aku. Singkirkan harga diriku. Bantu aku untuk jatuh tersungkur di kaki-Mu. Bantu aku untuk mempercayai-Mu begitu dalam sehingga Engkau terdorong, oleh cintaku pada-Mu, untuk membuka gudang rahmat-Mu dan mencurahkannya kepadaku. Yesus, aku percaya pada-Mu.
Amin


Renungan 09 Februari 2022 Renungan 11 Februari 2022


DATA MONITORING COVID-19 UMAT PAROKI ST ANDREAS TIDAR, MALANG

Silahkan mengisi Form di link ini untuk mendata umat terpapar covid
https://forms.gle/A2ZcCBSzMR9bi7aE7

Bagi umat yang kesulitan mengisi data, bisa meminta bantuan kepada Ketua Lingkungan masing-masing.

komsostidar