Tag: PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022

  • PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022 | KATEKESE VI – KAKEK NENEK DAN LANSIA

    KATEKESE VI – KAKEK NENEK DAN LANSIA

    Kakek nenek dan lansia juga merupakan bagian dari keluarga kita.

    Saat ini, terjadi budaya membuang, yang cenderung melihat orang tua tidak penting atau bahkan tidak berarti bagi masyarakat. Sebaliknya, usia tua adalah kesempatan baru untuk menanggapi panggilan Tuhan. Hal ini tentu saja merupakan reaksi baru dan berbeda, dan dalam beberapa hal bahkan lebih dewasa dan matang.

    Panggilan untuk mencintai adalah panggilan yang Tuhan berikan kepada kita di setiap tahap kehidupan kita. Artinya, kakek-nenek dan para lansia juga dipanggil untuk menghidupi rahmat relasi mereka dengan Tuhan melalui relasi mereka dengan anak-anak mereka, cucu-cucu, orang-orang muda, remaja dan bahkan anak-anak.

    Jawaban atas panggilan ini berkembang dalam dua arah: yang pertama diberikan oleh apa yang dapat mereka tawarkan kepada orang lain melalui pengalaman, kesabaran, dan kebijaksanaan mereka; dan yang lain, diberikan oleh apa yang dapat atau terima dari orang lain dalam kondisi rapuh, lemah, dan membutuhkan. Dengan cara ini, orang tua menawarkan diri mereka sendiri dan mereka yang berelasi dengannya sebuah kesempatan baru bagi pengembangan diri manusia yang otentik dan matang.

    Menjadi Tua itu Sulit

    Kita tidak dapat menutupi betapa sulitnya menjadi tua. Bagi sebagian orang, menjadi tua adalah pengalaman yang penuh dengan kepahitan dan kesedihan, terutama jika dikaitkan dengan sakit atau penyakit yang membuat mereka sulit melakukan kegiatan normal seperti dulu. Terkadang masa tua juga ditandai dengan kesedihan yang disebabkan oleh kehilangan pasangan, yang selama ada dan menemani hidupnya.

    Dalam beberapa hal, masa senja, yang dialami dalam peristiwa sehari-hari tenang, keheningan dan suasana yang nampaknya tidak penting, dapat dibandingkan dengan kehidupan Keluarga Kudus Nazaret.

    Usia lanjut juga merupakan periode di mana mereka semakin lebih tergantung dan semakin kurang mandiri, keinginan lansia untuk berdoa dan berdialog dengan Tuhan semakin tumbuh. Tidak diragukan lagi masa ini menjadi masa istimewa dan berharga untuk hidup dalam rahmat dan kekudusan.

    “Kita ini Lansia.”

    “Gereja tidak dapat dan tidak ingin menyesuaikan diri dengan mentalitas ketidaksabaran, dan apalagi ketidakpedulian dan penghinaan, terhadap usia lanjut. Kita harus membangkitkan kembali rasa syukur bersama, penghargaan, keramahan, yang membuat orang berusia lanjut merasa menjadi bagian hidup dari komunitas. Para lansia kita adalah pria dan wanita, ayah dan ibu, yang datang sebelum kita di sejarah kita sendiri, di rumah kita sendiri, dalam pergumulan sehari-hari kita untuk kehidupan yang layak. Mereka adalah pria dan wanita yang darinya kita telah menerima begitu banyak. Mereka yang berusia lanjut bukanlah orang asing. Kita akan menjadi lansia itu: dalam waktu dekat atau jauh, dan itu tak terhindarkan, meskipun kita tidak memikirkannya. Dan jika kita tidak belajar bagaimana memperlakukan orang yang lebih tua dengan lebih baik, begitulah kita akan diperlakukan» (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 11 Maret 2015).

    Usia Lanjut : Masa Berahmat dan Perutusan

    “Tuhan tidak pernah membuang kita. Ia memanggil kita untuk mengikuti-Nya di setiap usia kehidupan, dan usia lanjut adalah masa berahmat dan misi juga, panggilan sejati dari Tuhan. Usia tua adalah panggilan. Belum waktunya untuk “menarik dayung”. Periode kehidupan ini berbeda dari yang sebelumnya, tidak diragukan lagi; kita bahkan harus agak “menciptakannya sendiri”, karena masyarakat kita tidak siap, secara spiritual dan moral, untuk menghargai nilai sejati dari tahap kehidupan ini. Memang, nampaknya tidak wajar untuk meluangkan waktu, lebih-lebih pada saat ini. Spiritualitas Kristen juga agak terkejut, sehubungan dengan menguraikan spiritualitas usia lanjut. Tapi syukur kepada Tuhan bahwa tidak kurang kesaksian orang-orang kudus yang sudah lanjut usia, baik pria maupun wanita!» (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 11 Mrt 2015)

    “Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menantang-Nya sambil memuji Allah, katanya:

     “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.

    Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri- -,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.” (Lk 2: 22-38).

    Syair Doa

    Injil mengatakan bahwa mereka [Simeon dan Anna] menunggu kedatangan Tuhan setiap hari, dengan penuh kepercayaan, selama bertahun-tahun. Mereka benar-benar ingin melihat-Nya hari itu, untuk melihat tanda-tandanya, untuk memahami asalusulnya. Pada penantian panjang itu, mereka juga mungkin pasrah untuk mati lebih dulu. Namun mereka terus mengisi seluruh hidup mereka; mereka tidak memiliki komitmen lain selain: menantikan Tuhan dan berdoa. Sehingga, ketika Maria dan Yusuf pergi ke Bait Suci untuk memenuhi ketentuan Hukum, Simeon dan Anna bergerak cepat karena ilham Roh Kudus (lih. Luk 2:27). Beban usia dan masa penantian hilang dalam sekejap. Mereka mengenali Anak itu, dan menemukan kekuatan baru, untuk tugas baru: bersyukur dan bersaksi atas tanda dari Allah ini. Simeon mengimprovisasi sebuah himne kegembiraan yang indah (lih. Luk 2:29-32) — saat itu dia adalah seorang penyair — dan Anna menjadi wanita pertama yang berkhotbah tentang Yesus: dia “berbicara tentang Dia kepada semua orang yang mencari penebusan Yerusalem” (Luk 2:38).

    “Kakek-nenek dan para lansia yang terkasih, marilah kita mengikuti jejak orang tua luar biasa ini! Marilah kita juga menjadi seperti penyair doa. Marilah kita mengolah rasa untuk menemukan kata-kata kita sendiri. Marilah kita sekali lagi memahami katakata yang mengajarkan kita Firman Tuhan. Doa kakek-nenek dan lansia adalah hadiah besar bagi Gereja! Doa kakek-nenek dan lansia adalah hadiah besar bagi Gereja. Itu adalah harta karun! Suntikan kebijaksanaan yang luar biasa untuk seluruh masyarakat manusia: terutama untuk masyarakat yang terlalu sibuk, terlalu sibuk, terlalu terganggu. Seseorang juga harus bernyanyi, untuk mereka, menyanyikan tanda-tanda Tuhan, memberitakan tanda-tanda Tuhan, berdoa untuk mereka! […] Seorang penganut besar abad terakhir, dari tradisi Ortodoks, Olivier Clément, mengatakan: “Sebuah peradaban yang tidak memiliki tempat untuk berdoa adalah sebuah peradaban di mana lansia telah kehilangan semua maknanya. Dan ini menakutkan. Karena, di atas segalanya, kita membutuhkan orang tua yang berdoa; doa adalah tujuan hari tua”. Kami membutuhkan lansia yang berdoa karena ini adalah tujuan dari hari tua. Doa para lansia adalah hal yang indah” Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 11 Mrt 2015).

    Doa Untuk Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia

    Saya berterima kasih kepada-Mu, Tuhan, demi kenyamanan kehadiran-Mu: bahkan di saat kesepian, Engkau adalah harapan dan kepercayaan saya, Engkau telah menjadi batu karang dan benteng saya sejak masa muda saya! Saya berterima kasih kepada-Mu karena telah memberi saya keluarga dan karena telah memberkati saya dengan umur panjang. Saya berterima kasih kepada-Mu untuk saat-saat suka dan duka, untuk mimpi yang telah menjadi kenyataan dalam hidupku dan untuk mereka yang masih di depanku. Saya berterima kasih kepada-Mu atas masa subur yang diperbarui ini, di mana Engkau panggil aku. Tingkatkan, ya Tuhan, imanku, Jadikan aku saluran kedamaian-Mu ajari aku untuk merangkul mereka yang lebih menderita dariku, untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan untuk menceritakan keajaiban-Mu kepada generasi baru. Lindungi dan bimbing Paus Fransiskus dan Gereja, agar terang Injil sampai ke ujung bumi. Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan, untuk memperbarui dunia, agar badai pandemi bisa ditenangkan, orang miskin terhibur dan perang berakhir. Dukung aku dalam kelemahan dan bantu aku untuk menjalani hidup sepenuhnya di setiap saat yang Kau berikan padaku, dalam kepastian bahwa Engkau bersamaku setiap hari, bahkan sampai akhir zaman. Amin

    Disarankan bahwa setiap orang mempunyai waktu untuk membaca kembali katekese ini dan merenungkan apa yang secara khusus bergema dalam hati mereka.

    Pokok-Pokok Diskusi untuk Keluarga

    • Marilah kita membaca bersama-sama dan merenungkan pesan Paus kepada kakek nenek dan para lansia.

    (http://www.laityfamilylife.va/content/dam/laityfamilylife/Anziani/KitPastorale/EN/EN_MessaggioA4.pdf)  

    • Sebagai keluarga, apa dapat kita berikan kepada para lansia dari pesan Paus Fransiskus.

    Pokok-Pokok Diskusi dalam Komunitas

    • Marilah kita juga mengundang para kakek nenek dan para lansia dan melibatkan mereka dalam persiapan dan pelaksanaan Pertemuan Keluarga se-Dunia.
    • Sebagai komunitas, apa yang sudah kita lakukan untuk melibatkan kakek nenek dan para lansia? Apa yang dapat kita lakukan lebih dari itu?
    • Marilah kita merencanakan, termasuk melibatkan orang muda, untuk secara khusus membawa pesan Paus kepada para lansia di komunitas kita.

    Untuk lebih detail :

    https://www.vatican.va/content/francesco/en/audiences/2015/documents/papa-francesco_20150304_udienza-generale.html

    https://www.vatican.va/content/francesco/en/audiences/2015/documents/papa-francesco_20150311_udienza-generale.html

    Pesan Paus Fransiskus dalam Hari Kakek Nenek dan Lansia se-Dunia :

    http://www.laityfamilylife.va/content/dam/laityfamilylife/Anziani/KitPastorale/EN/EN_Messaggio%20A4.pdf

    Doa Hari Kakek Nenek dan Lansia se-Dunia :

    http://www.laityfamilylife.va/content/dam/laityfamilylife/Anziani/KitPastorale/EN/EN_Preghiera.pdf

    DOA RESMI PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022
    CINTA KASIH KELUARGA : PANGGILAN DAN JALAN KEKUDUSAN

    Bapa yang Kudus, kami hadir di hadapan-Mu untuk memuji dan bersyukur kepada-Mu atas anugerah keluarga yang begitu besar.

    Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang telah dikuduskan dalam sakramen perkawinan. Semoga mereka setiap hari menemukan kembali rahmat yang telah mereka terima. Dan sebagai gereja kecil, mereka semakin mampu memberi kesaksian akan kehadiran dan cinta-Mu yang dengannya Kristus mencintai Gereja.

    Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan karena penyakit dan berbagai permasalahan yang hanya Engkaulah sendiri yang mengetahuinya.

    Teguhkanlah dan sadarkanlah mereka, Engkau telah memanggil keluarga kepada jalan pengudusan yang telah Engkau peruntukkan bagi mereka sehingga mereka dapat mengalami belas kasih-Mu yang tak tehingga dan menemukan cara-cara baru untuk bertumbuh dalam cinta kasih. Kami berdoa untuk anak-anak dan para remaja. Semoga, mereka bisa berjumpa dengan-Mu dan menanggapi panggilan yang telah Engkau rencanakan bagi mereka dengan penuh sukacita.

    Untuk para orangtua serta kakek dan nenek; Semoga mereka menyadari bahwa mereka adalah tanda kebapaan sekaligus keibuan Allah dalam perawatan putra dan putri yang secara jasmani dan rohani telah Engkau percayakan kepada mereka; melalui pengalaman kasih persaudaraan yang dapat diberikan keluarga bagi dunia.

    Tuhan, Buatlah agar setiap keluarga dapat menghayati panggilan menuju kekudusan dalam Gereja sebagai panggilan untuk menjadi pelaku evangelisasi, dalam pelayanan bagi kehidupan dan perdamaian, dalam persekutuan dengan para imam, biarawan, biarawati dan seluruh umat Berkatilah Pertemuan Se-Dunia. Amin.

    Baca Juga :

    KATEKESE V – AYAH DAN IBU

    KATEKESE IV – KITA SEMUA ANAK, KITA SEMUA SAUDARA

    KATEKESE III – NAZARET : KASIH YANG BIASA

    KATEKESE II – DIPANGGIL KEPADA KEKUDUSAN

    KATEKESE I – KELUARGA DAN PANGGILAN

  • PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022 | KATEKESE V – AYAH DAN IBU

    KATEKESE V – AYAH DAN IBU

    Daya Kasih yang Memberi Hidup

    Jalan kekudusan yang ditempuh oleh ayah dan ibu mencakup pertumbuhan kasih mereka satu sama lain dan kasih yang mereka berikan kepada anak-anak mereka.

    Menjadi ayah dan ibu adalah sebuah panggilan yang indah dan berdaya. Panggilan ini termasuk dalam berbagi dengan Allah daya cinta yang menghidupkan, dalam roh dan daging. Panggilan ini berlangsung sepanjang hidup dan mengatasi semua situasi. Cinta pria dan wanita selalu berbuah, bahkan ketika tidak ada anak-anak, atau ketika mereka sudah berusia lanjut. Kenyataannya, suami istri dalam menghasilkan anak-anak Allah.

    Cinta yang Pengasih dan Penyayang

    Dalam Kitab Keluaran, setelah orang yahudi menyembah anak sapi emas, Tuhan menyatakan kualitas kasihnya kepada Musa.

    “Turunlah Tuhan dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama Tuhan. Berjalanlah Tuhan lewat depannya dan berseru :”Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” (Ul 34,5-7)

    Kita perhatikan dua kata : pengasih dan penyayang. Dalam bahasa ibrani disebut dengan raham dan hesed; keduanya berarti kasih, sayang, tetapi dengan perbedaan makna penting yang membuat kita dapat merasakan jalan kekudusan seperti apa, yang muncul melalui kasih seorang ayah dan ibu.

    Kata hesed paling sering dipakai dalam Perjanjian Lama untuk menunjukkan belas dan kasih. Yang berarti kelembutan karena kesetiaan, rasa aman, inisiatif dan kepercayaan yang meneguhkan dan menemani, tidak meninggalkan, mendampingi, dan menjamin.

    Raham berasal dari kata “rehem” yang artinya adalah rahim, tempat dimana hidup anak mulai dan bertumbuh. Rahim adalah kasih yang membentuk tubuh, menjaga, melindungi, yang memperkaya dan menyambut keberadaan pribadi lain.

    Dua dimensi kasih Allah yang dinyatakan kepada kita: yang satu maskulin-kebapaan dan yang lain feminim-keibuan. Cinta maskulin dibalut dengan kelembutan tetapi kuat, energi yang menggerakkan; di lain sisi, cinta feminim itu memberi hidup, membangun dan menumbuhkan dan membentuk ikatan satu sama lain. Bagi anak-anak Ibu dan ayah merupakan wujud dari cinta ini.

    TUHAN pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan penuh dengan kasih. Dia tidak selalu murka, Dia tidak selalu menaruh dendam. Dia tidak menghukum kita setimpal dengan dosa kita, Dia tidak membalas kita setimpal dengan kesalahan kita. Tetapi setinggi langit dari bumi, setinggi itu juga kasih-Nya kepada orang yang menghormati-Nya. Sejauh timur dari barat, sejauh itu juga dibuang-Nya dosa kita. Seperti seorang bapa mengasihani anak-anaknya, begitulah TUHAN mengasihani orang yang menghormati-Nya. Dia tahu bagaimana kita dibentuk, Dia ingat bahwa kita ini debu belaka. (Mzm 103,8-14)

    Kasih seorang ayah dan ibu senantiasa merangkul panggilan mereka kepada kekudusan, berjalan demikian jauh seperti sebuah tindakan yang hanya mampu dilakukan oleh Allah : menciptakan dan mengampuni.

    Dalam Perjanjian lama dua tindakan itu hanya dikhususkan kepada Allah: “menciptakan (br’) dan “mengampuni” [sl].

    Setiap kali seorang ayah dan ibu menyambut kehidupan dan menghargainya, setiap kali mereka saling memaafkan dan melanjutkan perjalanan mereka, mereka membawa surga ke bumi. Karena pada saat itulah Roh Kudus yang telah bertindak di dalam mereka.

    “Maka dari itu, kebutuhan pertama justru ini : bahwa seorang ayah hadir dalam keluarga. Bahwa ia dekat dengan istrinya, untuk berbagi segalanya, suka dan duka, harapan dan kesulitan. Dan agar ia dekat dengan anak-anaknya ketika mereka tumbuh: ketika mereka bermain dan ketika mereka berusaha, ketika mereka bergembira dan ketika mereka tertekan, ketika mereka banyak bicara dan ketika mereka diam, ketika mereka berani dan ketika mereka takut, ketika mereka mengambil langkah yang salah dan ketika mereka menemukan jalan mereka lagi; seorang ayah yang selalu hadir. Mengatakan “hadir” bukan berarti “mengendalikan”! Ayah yang terlalu mengontrol anak-anak mereka, mereka tidak membiarkan mereka berkembang. […] Seorang ayah yang baik tahu bagaimana menunggu dan tahu bagaimana memaafkan dari lubuk hatinya yang terdalam. Tentu saja, ia juga tahu bagaimana mengoreksi dengan tegas: ia bukan ayah yang lemah, penurut dan sentimental. Ayah yang tahu bagaimana mengoreksi tanpa mempermalukan adalah orang yang tahu bagaimana melindungi tanpa menyayangkan dirinya sendiri.” (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 4 Feb 2015)

    “Menjadi seorang ibu tidak hanya berarti melahirkan seorang anak ke dunia, tetapi juga merupakan pilihan hidup. Apa yang dipilih seorang ibu, apa pilihan hidup seorang ibu? Pilihan hidup seorang ibu adalah pilihan untuk memberi kehidupan

    Ini adalah hal yang indah dan luar biasa.

    “Masyarakat tanpa ibu akan menjadi masyarakat yang tidak manusiawi, karena ibu selalu, bahkan di saat-saat terburuk, menjadi saksi kelembutan, dedikasi, dan kekuatan moral. Para ibu sering menyampaikan makna terdalam dari praktik hidup keagamaan: dalam kehidupan manusia, nilai iman yang tertulis dalam doa-doa pertama, tindakan pengabdian pertama yang dipelajari seorang anak. Ini adalah pesan yang dapat disampaikan oleh ibu yang percaya tanpa banyak penjelasan: ini datang kemudian, tetapi benih iman adalah saat-saat awal yang berharga. Tanpa ibu, bukan saja tidak akan ada umat baru, tetapi iman akan kehilangan kehangatannya yang sederhana dan mendalam.” (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 7 Jan 2015)

    Disarankan bahwa setiap orang mempunyai waktu untuk membaca kembali katekese ini dan merenungkan apa yang secara khusus bergema dalam hati mereka.

    Pokok-pokok Diskusi untuk Pasangan Suami Istri / Keluarga dan dalam Komunitas.

    • Marilah kita membaca kembali kata-kata Paus Fransiskus dan merenungkan bagaimana kita menjadi seorang ayah dan seorang ibu.
    • Cinta pasangan suami istri juga berbuah dalam melahirkan anak-anak Allah, dengan menjadi ayah dan ibu rohani dari anak-anak mereka sendiri dan setiap orang yang kita temui, dengan memberi mereka cinta Allah Bapa yang lembut, ramah, tegas dan pasti. Siapakah anak-anak rohani yang Allah percayakan kepada kita saat ini dalam hidup kita?

    Untuk lebih detail :

    https://www.vatican.va/content/francesco/it/audiences/2015/documents/papa-francesco_20150204_udienza-generale.html

    https://www.vatican.va/content/francesco/it/audiences/2015/documents/papa-francesco_20150107_udienza-generale.htm

    DOA RESMI PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022
    CINTA KASIH KELUARGA : PANGGILAN DAN JALAN KEKUDUSAN

    Bapa yang Kudus, kami hadir di hadapan-Mu untuk memuji dan bersyukur kepada-Mu atas anugerah keluarga yang begitu besar.

    Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang telah dikuduskan dalam sakramen perkawinan. Semoga mereka setiap hari menemukan kembali rahmat yang telah mereka terima. Dan sebagai gereja kecil, mereka semakin mampu memberi kesaksian akan kehadiran dan cinta-Mu yang dengannya Kristus mencintai Gereja.

    Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan karena penyakit dan berbagai permasalahan yang hanya Engkaulah sendiri yang mengetahuinya.

    Teguhkanlah dan sadarkanlah mereka, Engkau telah memanggil keluarga kepada jalan pengudusan yang telah Engkau peruntukkan bagi mereka sehingga mereka dapat mengalami belas kasih-Mu yang tak tehingga dan menemukan cara-cara baru untuk bertumbuh dalam cinta kasih. Kami berdoa untuk anak-anak dan para remaja. Semoga, mereka bisa berjumpa dengan-Mu dan menanggapi panggilan yang telah Engkau rencanakan bagi mereka dengan penuh sukacita.

    Untuk para orangtua serta kakek dan nenek; Semoga mereka menyadari bahwa mereka adalah tanda kebapaan sekaligus keibuan Allah dalam perawatan putra dan putri yang secara jasmani dan rohani telah Engkau percayakan kepada mereka; melalui pengalaman kasih persaudaraan yang dapat diberikan keluarga bagi dunia.

    Tuhan, Buatlah agar setiap keluarga dapat menghayati panggilan menuju kekudusan dalam Gereja sebagai panggilan untuk menjadi pelaku evangelisasi, dalam pelayanan bagi kehidupan dan perdamaian, dalam persekutuan dengan para imam, biarawan, biarawati dan seluruh umat Berkatilah Pertemuan Se-Dunia. Amin.

    Baca Juga :

    KATEKESE VI – KAKEK NENEK DAN LANSIA

    KATEKESE IV – KITA SEMUA ANAK, KITA SEMUA SAUDARA

    KATEKESE III – NAZARET : KASIH YANG BIASA

    KATEKESE II – DIPANGGIL KEPADA KEKUDUSAN

    KATEKESE I – KELUARGA DAN PANGGILAN

  • PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022 | KATEKESE IV – KITA SEMUA ANAK, KITA SEMUA SAUDARA

    KITA SEMUA ANAK, KITA SEMUA SAUDARA

    Dalam sebuah keluarga ada aneka peran-tugas, namun kita semua disatukan oleh identitas yang sama: kita semua adalah anak! Tidak seorangpun memilih untuk dilahirkan di keluarga tertentu. Hidup dan kehadiran kita masing-masing itu bergantung pada ayah dan ibu kita. Kita tidak dapat memberi hidup pada diri kita sendiri, kita hanya dapat menerimanya.

    Hidup itu misteri yang bersinar di hadapan kita ketika anak-anak lahir dan ketika untuk pertama kalinya kita melihat mereka dengan mata kepala kita sendiri; pada saat itu kita diliputi dengan sesuatu yang agung. Anak laki-laki ataupun peremuan itu menjadi bukti misteri kehidupan yang sebagian tergantung pada kita dan kemudian kita mulai mengasihinya bahkan sebelum kita melihatnya.

    Kita Saling Membutuhkan

    Ketika anak-anak masih kecil, mereka membutuhkan kita. Hidup mereka sehari-hari tergantung pada kita: makanan, pakaian, perawatan tubuh, berkomunikasi, belajar hidup di dunia. Bahkan sebagai orang dewasa, bagaimanapun juga, kita semua memiliki pengalaman bergantung pada sesuatu dan seseorang. Kita selalu membutuhkan bantuan, cinta, dan pengampunan! Apa yang ada di balik kebenaran ini?

    Dicintai Sebelum Lahir

    Allah Bapa membayangkan kita masing-masing sebagai makhluk yang unik dan mengasihi kita sejak sebelum kita dilahirkan.

    “Aku memikirkanmu bahkan sebelum aku membentukmu di dalam rahim. Sebelum kamu lahir, aku sudah memilihmu.” (Yer. 1,5).

    Menjadi tergantung, sebagai ciri keberadaan kita di dunia, mengajarkan kepada kita bahwa seseorang pertama-tama telah mencintai kita, mengingingkan kita dan bahwa orang tua kita secara terbuka menerima hidup sebagai hadiah. Sangat mengerikan dan menyedihkan jika kita merasakan tidak dibutuhkan, bahkan tidak terpilih masuk menjadi tim ketika kita masih anak-anak, atau dipilih terakhir, seolah-olah kita adalah pelengkap penderita. Tetapi, jika kita berpikir bahwa kita telah dipilih dan dipanggil selama ini, maka keyakinan bahwa kita ada di hati Allah membebaskan kita dari kecemasan dan meyakinkan kita bahwa selama ini kita telah berakar pada cinta yang datang “sebelum” segala sesuatu yang lain.

    “Dari sini juga mengalir kedalaman pengalaman manusia sebagai putera dan puteri, yang memungkinkan kita menemukan dimensi cinta yang tanpa syarat, yang tidak pernah berhenti membuat kita kagum Inilah indahnya dicintai terlebih dahulu: anak-anak dicintai sebelum mereka datang.” (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 11 Feb 2015)

    Kita tidak memilih diri kita sendiri melainkan kitalah yang telah dipilih; kenyataan ini memberi pesan kepada kita bahwa syarat yang diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah terdiri dari “tidak menganggap diri kita mandiri, tetapi membutuhkan bantuan, cinta, pengampunan.” (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 18 Maret 2015), semua hal yang diingatkan oleh anak-anak kepada kita, terutama ketika mereka masih kecil.

    Hidup Dalam Persaudaraan

    Keluarga adalah tempat pertama kita belajar untuk menghayati persaudaraan sebagaimana kita semua dipanggil oleh Bapa menjadi anak-anak-Nya.

    “Dalam keluarga, di antara saudara kandung, hidup bersama sebagai manusia dipelajari, bagaimana seseorang seharusnya hidup di tengah masyarakat. Mungkin kita tidak selalu menyadarinya, tetapi keluarga itu sendirilah yang memperkenalkan persaudaraan ke dalam dunia! Dimulai dengan pengalaman pertama persaudaraan ini, yang dipupuk oleh kasih sayang dan pendidikan di rumah, gaya persaudaraan memancar seperti sebuah janji kepada seluruh masyarakat dan pada relasi antar banyak orang.

    Berkat yang Allah curahkan, dalam Yesus, atas ikatan persaudaraan ini meluas dengan cara yang terbayangkan. Ia menjadikannya mampu mengatasi segala perbedaan suku, bahasa, budaya, bahkan agama. Bagaimanapun juga, sejarah telah menunjukkan dengan cukup baik, budaya bahkan agama. Bagaimanapun sejarah telah menunjukkan dengan cukup baik, bahwa kebebasan dan kesetaraan, tanpa persaudaraan, dapat dipenuhi dengan individualisme dan konformisme, dan bahkan kepentingan pribadi.” (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 18 Feb 2021).

    Disarankan bahwa setiap orang mempunyai waktu untuk membaca kembali katekese ini dan merenungkan apa yang secara khusus bergema dalam hati mereka.

    Pokok-pokok Diskusi untuk Pasangan Suami Istri / Keluarga

    Setiap orang selalu memerlukan pertolongan, kasih dan pengampunan!

    • Bagaimana perasaan kita, ketika kita ditolong, dikasihi dan diampuni?
    • Siapakah mereka yang membuat kita merasa ditolong, dikasihi dan diampuni?
    • Dalam hati setiap orang, kita menemukan kerinduan untuk ditolong, dikasihi dan diampuni. Kehadiran kita di samping setiap pribadi itu sangatlah penting. Marilah kita renungkan hal ini beberapa hari: siapa yang membuat kita bahagia, dan siapa yang membuat kita mampu untuk mengasihi?

    Mari kita ingat undangan Paus Fransiskus «Kita masing-masing memikirkan anak-anak kita – jika kita mempunyai (…) Mari kita memikirkan orang tua kita dan bersyukur kepada Allah atas anugerah kehidupan (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 11 Feb 2015)

    Pokok-pokok Diskusi dalam Komunitas

    • Anak-anak membutuhkan kita untuk tumbuh, tetapi kita juga membutuhkan orang lain.
    • Sangatlah buruk dan menyedihkan jika kita merasa tidak dibutuhkan. Apa artinya, secara konkret, menyakinkan setiap orang dalam komunitas kita bahwa mereka itu dibutuhkan? Kita dapat mengadakan pertemuan pra-Pertemuan keluarga se Dunia yang akan datang, dengan melibatkan banyak orang di dalamnya.

    Untuk lebih detail:

    https://www.vatican.va/content/francesco/it/audiences/2015/documents/papa- francesco_20151014_udienza-generale.html

    https://www.vatican.va/content/francesco/it/audiences/2015/documents/papa- francesco_20150211_udienza-generale.html

    https://www.vatican.va/content/francesco/it/audiences/2015/documents/papa- francesco_20150318_udienza-generale.html

    https://www.vatican.va/content/francesco/it/audiences/2015/documents/papa- francesco_20150218_udienza-generale.html  

    DOA RESMI PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022
    CINTA KASIH KELUARGA : PANGGILAN DAN JALAN KEKUDUSAN

    Bapa yang Kudus, kami hadir di hadapan-Mu untuk memuji dan bersyukur kepada-Mu atas anugerah keluarga yang begitu besar.

    Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang telah dikuduskan dalam sakramen perkawinan. Semoga mereka setiap hari menemukan kembali rahmat yang telah mereka terima. Dan sebagai gereja kecil, mereka semakin mampu memberi kesaksian akan kehadiran dan cinta-Mu yang dengannya Kristus mencintai Gereja.

    Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan karena penyakit dan berbagai permasalahan yang hanya Engkaulah sendiri yang mengetahuinya.

    Teguhkanlah dan sadarkanlah mereka, Engkau telah memanggil keluarga kepada jalan pengudusan yang telah Engkau peruntukkan bagi mereka sehingga mereka dapat mengalami belas kasih-Mu yang tak tehingga dan menemukan cara-cara baru untuk bertumbuh dalam cinta kasih. Kami berdoa untuk anak-anak dan para remaja. Semoga, mereka bisa berjumpa dengan-Mu dan menanggapi panggilan yang telah Engkau rencanakan bagi mereka dengan penuh sukacita.

    Untuk para orangtua serta kakek dan nenek; Semoga mereka menyadari bahwa mereka adalah tanda kebapaan sekaligus keibuan Allah dalam perawatan putra dan putri yang secara jasmani dan rohani telah Engkau percayakan kepada mereka; melalui pengalaman kasih persaudaraan yang dapat diberikan keluarga bagi dunia.

    Tuhan, Buatlah agar setiap keluarga dapat menghayati panggilan menuju kekudusan dalam Gereja sebagai panggilan untuk menjadi pelaku evangelisasi, dalam pelayanan bagi kehidupan dan perdamaian, dalam persekutuan dengan para imam, biarawan, biarawati dan seluruh umat Berkatilah Pertemuan Se-Dunia. Amin.

    Baca Juga :

    KATEKESE VI – KAKEK NENEK DAN LANSIA

    KATEKESE V – AYAH DAN IBU

    KATEKESE III – NAZARET : KASIH YANG BIASA

    KATEKESE II – DIPANGGIL KEPADA KEKUDUSAN

    KATEKESE I – KELUARGA DAN PANGGILAN