Mon. Dec 5th, 2022

KATEKESE III – NAZARET : KASIH YANG BIASA

Nazareth: Merajut Kasih yang Biasa

Kesederhanaan Nazareth Ketika melihat hidup Yesus, Maria dan Yusuf, setiap keluarga dapat menemukan kembali panggilannya, dan dapat mulai memahaminya dengan lebih baik, dapat mengarahkan perjalanan hidupnya dan ditarik oleh sukacita Injil.

Penting untuk disadari bahwa Anak Allah, yang menjadi manusia, hidup selama beberapa tahun dalam keluarga manusiawi yang biasa dan sederhana. Allah justru menempatkan diri-Nya dan mengambil bagian dalam kenyataan yang sederhana dan biasa Sekarang ini, kondisi sederhana dan biasa kita, seturut model Nazareth kecil, terbentuk dari “sebuah ruko, empat rumah dan juga sebuah desa kecil” (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 9 Sep 2015) dapat dipilih Allah sebagai tempat tinggal bagi Yesus Anak-Nya. Tidak seorangpun dikecualikan dari berkat yang besar dan mengagumkan ini!

Yesus lahir dalam sebuah keluarga. Jejak Yesus adalah dalam keluarga itu. […] Setiap keluarga kristiani dapat – seperti Maria dan Yusuf – menyambut Yesus, mendengarkan-Nya, berbicara dengan-Nya, menjaga-Nya, melindungi-Nya, tumbuh bersama-Nya dan dengan cara demikian mengubah dunia […] Setiap kali ada sebuah keluarga yang memelihara misteri ini, meskipun itu ada di ujung dunia, misteri Anak Allah, misteri Yesus yang datang menyelamatkan kita, misteri ini sedang terjadi. (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 17 Des 2014).

“Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu Kota Nazareth di Galilea. Anak itu bertumbuh besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.”

“Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.

Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepadaNya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” JawabNya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lk 2:39-52).

Di Nazareth «Tidak ada jejak mujizat atau penyembuhan ataupun kotbah atau orang-orang berkerumun. Yesus tidak melakukan hal-hal luar biasa semasa periode itu; Segala sesuatu nampaknya berjalan wajar di Nazareth, sesuai dengan kebiasaan keluarga israel yang taat dan pekerja keras: […] ibu memasak dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga […]. Ayah, seorang tukang kayu, bekerja dan mengajari anaknya bekerja» (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 17 Des 2014)

Merajut Kasih Yang Biasa

Masa-masa Yesus tinggal di Nazareth, dalam Keluarga Kudus itu, menerangi kehidupan keluarga kita masing-masing dengan cara baru: rutinitas hidup sehari-hari, yang tampaknya sederhana dan tidak berarti, dapat menjadi cara baru untuk memenuhi panggilan khusus keluarga : untuk merajut cinta yang biasa.

Apakah kita pernah merenungkannya? Apapun yang kita alami sehari-hari di rumah, di tempat kerja, di sekolah, walaupun itu seakan-akan tidak ada kaitannya langsung dengan tugas penerusan iman, senyatanya menjadi cara bagi kita untuk ” mencintai dan tidak membenci, menciptakan ruang untuk saling membantu, tidak cuek atau bermusuhan” (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 17 Des 2014). Apa yang terjadi selama 30 tahun di Nazareth juga terjadi dalam hidup keluarga dan lingkungan kita masing-masing.

Memberi Ruang Kepada Yesus

Memenuhi panggilan kita dan merajut kasih yang biasa hanya dapat terjadi jika memberi ruang kepada Yesus : “Akan lebih baik lagi, kalau kita belajar menemukan Yesus dalam wajah-wajah sesama, dalam suara-suara mereka, dalam permintaan-permintaan mereka.” (Evangelii Gaudium 91)

Relasi yang kita bangun dengan sesama selalu menjadi kesempatan yang berharga untuk membangun relasi dengan Kristus; Relasi memungkinkan kita untuk menjumpai-Nya, mendengarkan-Nya dan memohon kepada-Nya.

Dengan merajut cinta yang normal, setiap keluarga kita dapat memberikan sumbangan yang tak tergantikan bagi dunia, sehingga kita dapat bertumbuh dalam kasih sejati dan solidaritas yang paling otentik.

Tidak ada sekolah manapun yang mengajar kasih yang otentik, asli, dapat dipercaya sebagaimana keluarga kita.

Disarankan bahwa setiap orang mempunyai waktu untuk membaca kembali katekese ini dan merenungkan apa yang secara khusus bergema dalam hati mereka.

Pokok-pokok Diskusi untuk Pasangan Suami Istri atau Keluarga

  • Bagaimana kita dapat “merajut kasih yang biasa itu” dalam keluarga kita?
  • Bagaimana kita dapat membuat “ruang bagi Yesus” dalam keluarga kita?

Pokok-pokok Diskusi dalam Komunitas

  • “Setiap keluarga kita dapat memberikan sumbangan yang tak tergantikan bagi dunia” : membangikan “bau harum kasih Yesus“ di sekitar mereka.
  • Maka dari itu, keluarga adalah “pemain” utama dalam komunitas kita. Bagaimana kita dapat mendorong kehadiran setiap keluarga?

Untuk lebih detail :  

https://www.vatican.va/content/francesco/it/apost_exhortations/documents/papa-francesco_esortazione-ap_20131124_evangeliigaudium.html

https://www.vatican.va/content/francesco/it/audiences/2014/documents/papa-francesco_20141217_udienza-generale.html

https://www.vatican.va/content/francesco/it/audiences/2015/documents/papa-francesco_20150909_udienza-generale.html


DOA RESMI PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022

CINTA KASIH KELUARGA :

PANGGILAN DAN JALAN KEKUDUSAN

Bapa yang Kudus, kami hadir di hadapan-Mu untuk memuji dan bersyukur kepada-Mu atas anugerah keluarga yang begitu besar.

Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang telah dikuduskan dalam sakramen perkawinan. Semoga mereka setiap hari menemukan kembali rahmat yang telah mereka terima. Dan sebagai gereja kecil, mereka semakin mampu memberi kesaksian akan kehadiran dan cinta-Mu yang dengannya Kristus mencintai Gereja.

Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan karena penyakit dan berbagai permasalahan yang hanya Engkaulah sendiri yang mengetahuinya.

Teguhkanlah dan sadarkanlah mereka, Engkau telah memanggil keluarga kepada jalan pengudusan yang telah Engkau peruntukkan bagi mereka sehingga mereka dapat mengalami belas kasih-Mu yang tak tehingga dan menemukan cara-cara baru untuk bertumbuh dalam cinta kasih. Kami berdoa untuk anak-anak dan para remaja. Semoga, mereka bisa berjumpa dengan-Mu dan menanggapi panggilan yang telah Engkau rencanakan bagi mereka dengan penuh sukacita.

Untuk para orangtua serta kakek dan nenek; Semoga mereka menyadari bahwa mereka adalah tanda kebapaan sekaligus keibuan Allah dalam perawatan putra dan putri yang secara jasmani dan rohani telah Engkau percayakan kepada mereka; melalui pengalaman kasih persaudaraan yang dapat diberikan keluarga bagi dunia.

Tuhan, Buatlah agar setiap keluarga dapat menghayati panggilan menuju kekudusan dalam Gereja sebagai panggilan untuk menjadi pelaku evangelisasi, dalam pelayanan bagi kehidupan dan perdamaian, dalam persekutuan dengan para imam, biarawan, biarawati dan seluruh umat Berkatilah Pertemuan Se-Dunia. Amin.

Baca Juga :

KATEKESE VI – KAKEK NENEK DAN LANSIA

KATEKESE V – AYAH DAN IBU

KATEKESE IV – KITA SEMUA ANAK, KITA SEMUA SAUDARA

KATEKESE II – DIPANGGIL KEPADA KEKUDUSAN

KATEKESE I – KELUARGA DAN PANGGILAN