Sun. May 22nd, 2022

Dipilih oleh Tuhan untuk menjadi Kudus


Apa panggilan keluarga kita? St. Paulus – yang dipanggil Tuhan untuk mengalami perubahan hidup secara radikal – (lih. Kis 9: 1-28) – memberi jawaban sebagai berikut:
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”(Ef 1:3-4).


Sebuah keluarga lahir dari keputusan seorang pria dan seorang wanita untuk memulai perjalanan hidup bersama, dengan ditopang oleh rahmat Kristus. Dalam perjalanannya, hidup perkawinan dipenuhi dengan hal-hal baru dan tantangan-tantangan baru untuk dihadapi. Hidup sebagai suami istri, sebagaimana dikatakan dalam Ritus Perkawinan, adalah jalan baru menuju pengudusan. Perkawinan adalah jalan istimewa menuju kekudusan.


Dengan cara yang sama, kehidupan keluarga adalah suatu jalinan relasi yang terkadang rumit dan tidak selalu mudah. Situasi itu menjadi kesempatan yang baik untuk merenungkan karya Roh Allah, yang dapat membuat hati manusia bertobat, mengubah sikap dan membuat anggota keluarga mampu mencintai sebagaimana Kristus mencintai.

Kekudusan : Panggilan untuk Semua
“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus… “ (Im 11:44 ).
Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate, dokumen ketiga dari kepausannya, mendorong setiap orang untuk menanggapi panggilannya masing-masing menuju kepada kekudusan. Allah tidak memanggil semua orang secara acak dan umum. Ia menyampaikan panggilan-Nya secara pribadi kepada setiap orang.
Marilah kita memperhatikan beberapa permenungan Bapa Suci yang menyatakan secara jelas ajak untuk tidak takut menerima panggilan kekudusan secara pribadi.


“Saya senang melihat kekudusan yang ada dalam kesabaran umat Allah: dalam diri orangtua yang membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang sangat besar, dalam diri laki-laki dan perempuan yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga mereka, dalam diri mereka yang sakit, dalam diri kaum religius lanjut usia yang tetap tersenyum. Di dalam kegigihan perjuangan mereka untuk terus maju hari demi hari, saya melihat kekudusan dari Gereja yang militan. Sering kali hal tersebut merupakan kekudusan dari “pintu sebelah”, mereka yang hidup dekat dengan kita. Mereka mencerminkan kehadiran Allah, atau dengan kata lain “tingkat menengah kekudusan”
(Gaudete et Exsultate 7).

“Semua orang beriman, dalam keadaan dan status manapun juga, dipanggil oleh Tuhan untuk menuju kesucian yang sempurna seperti Bapa sendiri sempurna, masing-masing melalui jalannya sendiri “
(Gaudete et Exsultate 10).


“Masing-masing melalui jalannya sendiri”… Yang penting adalah masing-masing umat beriman menegaskan jalannya sendiri dan menghasilkan apa yang terbaik dari dirinya, karunia begitu personal yang Allah tempatkan di dalam dirinya (1 Kor 12:7), daripada berusaha keras untuk mencoba meniru sesuatu yang tidak dimaksudkan baginya”.
(Gaudete Et Exultate 11)


“Untuk menjadi kudus tidak perlu menjadi seorang uskup, imam ataupun religius. Kita sering kali tergoda untuk memikirkan bahwa kekudusan hanyalah diperuntukkan bagi mereka yang dapat menjaga jarak dari pekerjaan biasa sehari-hari dan mencurahkan waktu lebih banyak untuk berdoa. Bukan seperti itu. Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menghayati hidup kita dengan kasih dan masing-masing memberikan kesaksiannya sendiri dalam kegiatan setiap hari, di manapun kita berada. Apakah Anda seorang anggota hidup bakti? Jadilah kudus dengan menghayati persembahan diri Anda dengan sukacita.
Apakah Anda menikah? Jadilah kudus dengan mengasihi dan memperhatikan suami atau istri Anda, sebagaimana Kristus lakukan kepada Gereja-Nya. Apakah Anda seorang pekerja? Jadilah kudus dengan melakukan pekerjaan Anda dengan kejujuran dan kemampuan untuk melayani sesama. Apakah Anda orangtua atau kakek- nenek? Jadilah kudus dengan mengajarkan dengan sabar anak atau cucu untuk mengikuti Yesus.”
(Gaudete et Exsultate 14).


“Kekudusan yang kepadanya Tuhan memanggilmu akan tumbuh lewat gerak-sikap sederhana”.
(Gaudete et Exsultate 16).


“Semoga anda dapat mengenali sabda itu, yakni pesan Yesus yang hendak disampaikan Allah ke dunia dengan hidupmu.. Tuhan akan menggenapinya bahkan di tengah segala kekeliruan dan saat-saat burukmu, asalkan Anda tidak meninggalkan jalan kasih dan tetap membuka diri kepada rahmat adikodrati-Nya, yang memurnikan dan menerangi”. (Gaudete et Exsultate 24).

Sebagaimana di masa lalu, juga di masa sekarang, sangatlah mungkin menemukan anak-anak, anak remaja, orang muda, duda-janda dan pasangan suami istri yang dapat menunjukkan kepada kita jalan menuju kekudusan dalam setiap usia dan dalam aneka keadaan kehidupan, seperti Laura Vicuña kecil, yang menjadi orang suci pada usia dua belas tahun, Pier Giorgio Frassati muda, atau orang tua Therese dari Lisieux.
Gagasan tentang orang kudus yang dekat seperti ini cocok untuk kita, sangat dekat dengan kita, kita bisa menemukannya. Dapatkah kita menemukan mereka?
Dianjurkan agar setiap orang memiliki waktu untuk membaca ulang katekese ini, dan untuk merenungkan apa yang bergema secara khusus di hatinya.

Pokok-pokok Diksusi untuk Suami Istri / Keluarga
• Untuk menjadi kudus “masing-masing dengan caranya sendiri”: ini adalah panggilan Tuhan untuk menjadi diri sendiri dalam versi terbaik.
• Apa berkat khusus yang diberikan Tuhan kepada saya? Tuhan “memimpin kita kepada kekudusan”: kapan saya merasa dipimpin dalam perjalanan hidup ini menuju kekudusan ini?
• Apakah ada peristiwa, perjumpaan, atau peluang yang membuat saya atau keluarga saya bertumbuh dalam kekudusan?

Pokok-pokok Diskusi dalam Komunitas Untuk lebih detail:
• Melalui panggilan hidupnya, setiap orang dapat memberi pesan khusus yang dipercayakan Tuhan kepada dunia.
• Setiap orang dapat merenungkan dengan siapa mereka menghabiskan waktu bersama: pesan apa yang Tuhan berikan kepada saya melalui mereka?
• Marilah kita memikirkan beberapa hari terakhir ini: marilah kita berbagi dengan kesederhanaan yang “utusan” Tuhan yang telah kita temui.

Paus Fransiskus dan Kekudusan, sebuah panggilan menuju kekudusan, bukan untuk menjadi “superhero”.
https://www.vaticannews.va/it/papa/news/2018-04/il-papa-e-la-santita–una-chiamata-per-tutti-non-per-supereroi-.html
[dalam Bahasa Italia]

DOA RESMI PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022
CINTA KASIH KELUARGA :
PANGGILAN DAN JALAN KEKUDUSAN

Bapa yang Kudus, kami hadir di hadapan-Mu untuk memuji dan bersyukur kepada-Mu atas anugerah keluarga yang begitu besar.
Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang telah dikuduskan dalam sakramen perkawinan. Semoga mereka setiap hari menemukan kembali rahmat yang telah mereka terima. Dan sebagai gereja kecil, mereka semakin mampu memberi kesaksian akan kehadiran dan cinta-Mu yang dengannya Kristus mencintai Gereja.
Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan karena penyakit dan berbagai permasalahan yang hanya Engkaulah sendiri yang mengetahuinya.
Teguhkanlah dan sadarkanlah mereka, Engkau telah memanggil keluarga kepada jalan pengudusan yang telah Engkau peruntukkan bagi mereka sehingga mereka dapat mengalami belas kasih-Mu yang tak tehingga dan menemukan cara-cara baru untuk bertumbuh dalam cinta kasih.
Kami berdoa untuk anak-anak dan para remaja. Semoga, mereka bisa berjumpa dengan-Mu dan menanggapi panggilan yang telah Engkau rencanakan bagi mereka dengan penuh sukacita.
Untuk para orangtua serta kakek dan nenek; Semoga mereka menyadari bahwa mereka adalah tanda kebapaan sekaligus keibuan Allah dalam perawatan putra dan putri yang secara jasmani dan rohani telah Engkau percayakan kepada mereka; melalui pengalaman kasih persaudaraan yang dapat diberikan keluarga bagi dunia.
Tuhan, Buatlah agar setiap keluarga dapat menghayati panggilan menuju kekudusan dalam Gereja sebagai panggilan untuk menjadi pelaku evangelisasi, dalam pelayanan bagi kehidupan dan perdamaian, dalam persekutuan dengan para imam, biarawan, biarawati dan seluruh umat
Berkatilah Pertemuan Se-Dunia. Amin.

Baca juga :
KATEKESE I – KELUARGA DAN PANGGILAN
KATEKESE III – NAZARET : KASIH YANG BIASA