Tue. Jun 28th, 2022

KATEKESE VI – KAKEK NENEK DAN LANSIA

Kakek nenek dan lansia juga merupakan bagian dari keluarga kita.

Saat ini, terjadi budaya membuang, yang cenderung melihat orang tua tidak penting atau bahkan tidak berarti bagi masyarakat. Sebaliknya, usia tua adalah kesempatan baru untuk menanggapi panggilan Tuhan. Hal ini tentu saja merupakan reaksi baru dan berbeda, dan dalam beberapa hal bahkan lebih dewasa dan matang.

Panggilan untuk mencintai adalah panggilan yang Tuhan berikan kepada kita di setiap tahap kehidupan kita. Artinya, kakek-nenek dan para lansia juga dipanggil untuk menghidupi rahmat relasi mereka dengan Tuhan melalui relasi mereka dengan anak-anak mereka, cucu-cucu, orang-orang muda, remaja dan bahkan anak-anak.

Jawaban atas panggilan ini berkembang dalam dua arah: yang pertama diberikan oleh apa yang dapat mereka tawarkan kepada orang lain melalui pengalaman, kesabaran, dan kebijaksanaan mereka; dan yang lain, diberikan oleh apa yang dapat atau terima dari orang lain dalam kondisi rapuh, lemah, dan membutuhkan. Dengan cara ini, orang tua menawarkan diri mereka sendiri dan mereka yang berelasi dengannya sebuah kesempatan baru bagi pengembangan diri manusia yang otentik dan matang.

Menjadi Tua itu Sulit

Kita tidak dapat menutupi betapa sulitnya menjadi tua. Bagi sebagian orang, menjadi tua adalah pengalaman yang penuh dengan kepahitan dan kesedihan, terutama jika dikaitkan dengan sakit atau penyakit yang membuat mereka sulit melakukan kegiatan normal seperti dulu. Terkadang masa tua juga ditandai dengan kesedihan yang disebabkan oleh kehilangan pasangan, yang selama ada dan menemani hidupnya.

Dalam beberapa hal, masa senja, yang dialami dalam peristiwa sehari-hari tenang, keheningan dan suasana yang nampaknya tidak penting, dapat dibandingkan dengan kehidupan Keluarga Kudus Nazaret.

Usia lanjut juga merupakan periode di mana mereka semakin lebih tergantung dan semakin kurang mandiri, keinginan lansia untuk berdoa dan berdialog dengan Tuhan semakin tumbuh. Tidak diragukan lagi masa ini menjadi masa istimewa dan berharga untuk hidup dalam rahmat dan kekudusan.

“Kita ini Lansia.”

“Gereja tidak dapat dan tidak ingin menyesuaikan diri dengan mentalitas ketidaksabaran, dan apalagi ketidakpedulian dan penghinaan, terhadap usia lanjut. Kita harus membangkitkan kembali rasa syukur bersama, penghargaan, keramahan, yang membuat orang berusia lanjut merasa menjadi bagian hidup dari komunitas. Para lansia kita adalah pria dan wanita, ayah dan ibu, yang datang sebelum kita di sejarah kita sendiri, di rumah kita sendiri, dalam pergumulan sehari-hari kita untuk kehidupan yang layak. Mereka adalah pria dan wanita yang darinya kita telah menerima begitu banyak. Mereka yang berusia lanjut bukanlah orang asing. Kita akan menjadi lansia itu: dalam waktu dekat atau jauh, dan itu tak terhindarkan, meskipun kita tidak memikirkannya. Dan jika kita tidak belajar bagaimana memperlakukan orang yang lebih tua dengan lebih baik, begitulah kita akan diperlakukan» (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 11 Maret 2015).

Usia Lanjut : Masa Berahmat dan Perutusan

“Tuhan tidak pernah membuang kita. Ia memanggil kita untuk mengikuti-Nya di setiap usia kehidupan, dan usia lanjut adalah masa berahmat dan misi juga, panggilan sejati dari Tuhan. Usia tua adalah panggilan. Belum waktunya untuk “menarik dayung”. Periode kehidupan ini berbeda dari yang sebelumnya, tidak diragukan lagi; kita bahkan harus agak “menciptakannya sendiri”, karena masyarakat kita tidak siap, secara spiritual dan moral, untuk menghargai nilai sejati dari tahap kehidupan ini. Memang, nampaknya tidak wajar untuk meluangkan waktu, lebih-lebih pada saat ini. Spiritualitas Kristen juga agak terkejut, sehubungan dengan menguraikan spiritualitas usia lanjut. Tapi syukur kepada Tuhan bahwa tidak kurang kesaksian orang-orang kudus yang sudah lanjut usia, baik pria maupun wanita!» (Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 11 Mrt 2015)

“Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menantang-Nya sambil memuji Allah, katanya:

 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.

Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri- -,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.” (Lk 2: 22-38).

Syair Doa

Injil mengatakan bahwa mereka [Simeon dan Anna] menunggu kedatangan Tuhan setiap hari, dengan penuh kepercayaan, selama bertahun-tahun. Mereka benar-benar ingin melihat-Nya hari itu, untuk melihat tanda-tandanya, untuk memahami asalusulnya. Pada penantian panjang itu, mereka juga mungkin pasrah untuk mati lebih dulu. Namun mereka terus mengisi seluruh hidup mereka; mereka tidak memiliki komitmen lain selain: menantikan Tuhan dan berdoa. Sehingga, ketika Maria dan Yusuf pergi ke Bait Suci untuk memenuhi ketentuan Hukum, Simeon dan Anna bergerak cepat karena ilham Roh Kudus (lih. Luk 2:27). Beban usia dan masa penantian hilang dalam sekejap. Mereka mengenali Anak itu, dan menemukan kekuatan baru, untuk tugas baru: bersyukur dan bersaksi atas tanda dari Allah ini. Simeon mengimprovisasi sebuah himne kegembiraan yang indah (lih. Luk 2:29-32) — saat itu dia adalah seorang penyair — dan Anna menjadi wanita pertama yang berkhotbah tentang Yesus: dia “berbicara tentang Dia kepada semua orang yang mencari penebusan Yerusalem” (Luk 2:38).

“Kakek-nenek dan para lansia yang terkasih, marilah kita mengikuti jejak orang tua luar biasa ini! Marilah kita juga menjadi seperti penyair doa. Marilah kita mengolah rasa untuk menemukan kata-kata kita sendiri. Marilah kita sekali lagi memahami katakata yang mengajarkan kita Firman Tuhan. Doa kakek-nenek dan lansia adalah hadiah besar bagi Gereja! Doa kakek-nenek dan lansia adalah hadiah besar bagi Gereja. Itu adalah harta karun! Suntikan kebijaksanaan yang luar biasa untuk seluruh masyarakat manusia: terutama untuk masyarakat yang terlalu sibuk, terlalu sibuk, terlalu terganggu. Seseorang juga harus bernyanyi, untuk mereka, menyanyikan tanda-tanda Tuhan, memberitakan tanda-tanda Tuhan, berdoa untuk mereka! […] Seorang penganut besar abad terakhir, dari tradisi Ortodoks, Olivier Clément, mengatakan: “Sebuah peradaban yang tidak memiliki tempat untuk berdoa adalah sebuah peradaban di mana lansia telah kehilangan semua maknanya. Dan ini menakutkan. Karena, di atas segalanya, kita membutuhkan orang tua yang berdoa; doa adalah tujuan hari tua”. Kami membutuhkan lansia yang berdoa karena ini adalah tujuan dari hari tua. Doa para lansia adalah hal yang indah” Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 11 Mrt 2015).

Doa Untuk Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia

Saya berterima kasih kepada-Mu, Tuhan, demi kenyamanan kehadiran-Mu: bahkan di saat kesepian, Engkau adalah harapan dan kepercayaan saya, Engkau telah menjadi batu karang dan benteng saya sejak masa muda saya! Saya berterima kasih kepada-Mu karena telah memberi saya keluarga dan karena telah memberkati saya dengan umur panjang. Saya berterima kasih kepada-Mu untuk saat-saat suka dan duka, untuk mimpi yang telah menjadi kenyataan dalam hidupku dan untuk mereka yang masih di depanku. Saya berterima kasih kepada-Mu atas masa subur yang diperbarui ini, di mana Engkau panggil aku. Tingkatkan, ya Tuhan, imanku, Jadikan aku saluran kedamaian-Mu ajari aku untuk merangkul mereka yang lebih menderita dariku, untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan untuk menceritakan keajaiban-Mu kepada generasi baru. Lindungi dan bimbing Paus Fransiskus dan Gereja, agar terang Injil sampai ke ujung bumi. Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan, untuk memperbarui dunia, agar badai pandemi bisa ditenangkan, orang miskin terhibur dan perang berakhir. Dukung aku dalam kelemahan dan bantu aku untuk menjalani hidup sepenuhnya di setiap saat yang Kau berikan padaku, dalam kepastian bahwa Engkau bersamaku setiap hari, bahkan sampai akhir zaman. Amin

Disarankan bahwa setiap orang mempunyai waktu untuk membaca kembali katekese ini dan merenungkan apa yang secara khusus bergema dalam hati mereka.

Pokok-Pokok Diskusi untuk Keluarga

  • Marilah kita membaca bersama-sama dan merenungkan pesan Paus kepada kakek nenek dan para lansia.

(http://www.laityfamilylife.va/content/dam/laityfamilylife/Anziani/KitPastorale/EN/EN_MessaggioA4.pdf)  

  • Sebagai keluarga, apa dapat kita berikan kepada para lansia dari pesan Paus Fransiskus.

Pokok-Pokok Diskusi dalam Komunitas

  • Marilah kita juga mengundang para kakek nenek dan para lansia dan melibatkan mereka dalam persiapan dan pelaksanaan Pertemuan Keluarga se-Dunia.
  • Sebagai komunitas, apa yang sudah kita lakukan untuk melibatkan kakek nenek dan para lansia? Apa yang dapat kita lakukan lebih dari itu?
  • Marilah kita merencanakan, termasuk melibatkan orang muda, untuk secara khusus membawa pesan Paus kepada para lansia di komunitas kita.

Untuk lebih detail :

https://www.vatican.va/content/francesco/en/audiences/2015/documents/papa-francesco_20150304_udienza-generale.html

https://www.vatican.va/content/francesco/en/audiences/2015/documents/papa-francesco_20150311_udienza-generale.html

Pesan Paus Fransiskus dalam Hari Kakek Nenek dan Lansia se-Dunia :

http://www.laityfamilylife.va/content/dam/laityfamilylife/Anziani/KitPastorale/EN/EN_Messaggio%20A4.pdf

Doa Hari Kakek Nenek dan Lansia se-Dunia :

http://www.laityfamilylife.va/content/dam/laityfamilylife/Anziani/KitPastorale/EN/EN_Preghiera.pdf

DOA RESMI PERTEMUAN KELUARGA SE-DUNIA X TAHUN 2022
CINTA KASIH KELUARGA : PANGGILAN DAN JALAN KEKUDUSAN

Bapa yang Kudus, kami hadir di hadapan-Mu untuk memuji dan bersyukur kepada-Mu atas anugerah keluarga yang begitu besar.

Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang telah dikuduskan dalam sakramen perkawinan. Semoga mereka setiap hari menemukan kembali rahmat yang telah mereka terima. Dan sebagai gereja kecil, mereka semakin mampu memberi kesaksian akan kehadiran dan cinta-Mu yang dengannya Kristus mencintai Gereja.

Kami berdoa bagi keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan karena penyakit dan berbagai permasalahan yang hanya Engkaulah sendiri yang mengetahuinya.

Teguhkanlah dan sadarkanlah mereka, Engkau telah memanggil keluarga kepada jalan pengudusan yang telah Engkau peruntukkan bagi mereka sehingga mereka dapat mengalami belas kasih-Mu yang tak tehingga dan menemukan cara-cara baru untuk bertumbuh dalam cinta kasih. Kami berdoa untuk anak-anak dan para remaja. Semoga, mereka bisa berjumpa dengan-Mu dan menanggapi panggilan yang telah Engkau rencanakan bagi mereka dengan penuh sukacita.

Untuk para orangtua serta kakek dan nenek; Semoga mereka menyadari bahwa mereka adalah tanda kebapaan sekaligus keibuan Allah dalam perawatan putra dan putri yang secara jasmani dan rohani telah Engkau percayakan kepada mereka; melalui pengalaman kasih persaudaraan yang dapat diberikan keluarga bagi dunia.

Tuhan, Buatlah agar setiap keluarga dapat menghayati panggilan menuju kekudusan dalam Gereja sebagai panggilan untuk menjadi pelaku evangelisasi, dalam pelayanan bagi kehidupan dan perdamaian, dalam persekutuan dengan para imam, biarawan, biarawati dan seluruh umat Berkatilah Pertemuan Se-Dunia. Amin.

Baca Juga :

KATEKESE V – AYAH DAN IBU

KATEKESE IV – KITA SEMUA ANAK, KITA SEMUA SAUDARA

KATEKESE III – NAZARET : KASIH YANG BIASA

KATEKESE II – DIPANGGIL KEPADA KEKUDUSAN

KATEKESE I – KELUARGA DAN PANGGILAN